Layar Setan

Dikutip dari buku Terapi Berpikir Postif karya Dr. Ibrahim Elfiky, “layar setan” adalah sebutan untuk televisi yang ia dengar dari seorang khatib saat shalat Jumat di Montreal. Sebutan itu disematkan karena melihat fenomena tentang banyaknya waktu yang kita habiskan sia-sia karena menatap layar televisi begitu lama dengan tayangan yang juga sia-sia. Beliau juga menyatakan jika kegiatan itu tidak bermanfaat dan justeru membahayakan. Sebab lanjut sang khatib usai ditanya lagi oleh Dr. Ibrahim, “Allah memberi kita akal agar digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat. Dengan akal kita diperintahkan banyak berpikir tentang penciptaan langit dan bumi. Dengan akal pula kita diharapkan dapat semakin dekat kepada-Nya. Tetapi, ternyata ada orang yang menjadikan akal yang luar biasa ini untuk kejahatan. Kita lihat televisi yang menayangkan para artis yang erotis. Tujuannya tentu mengumbar syahwat, menjadikan masyarakat, terutama kaum remaja, terjerumus ke lembah perzinaan.” Masih dari buku tesebut, sang khatib melanjutkan, “Kalau pun ada berita, bahasa yang digunakan bersifat negative dan membuat orang yang menyaksikan merasa pesimis. Selain itu, televisi mempengaruhi dan menakut-nakuti masyarakat dan mendatangkan kehidupan yang ironis. Bahasa kita menjadi negative dan menyedihkan gara-gara layar laknat itu. selaku dai, aku berkewajiban mengingatkan masyarakat akan bahayanya.

Dari kutipan itu kita bisa belajar dari contoh yang begitu sederhana namun amat bermakna, bahwasannya media informasi mempunyai kekuatan besar untuk mempengaruhi pemirsanya. Seperti halnya perubahan zaman yang kian tidak jelas bentuknya, seperti itu pula program-program yang disajikan dalam televisi semakin tidak beretika dan sama sekali tidak membantu kita mendekatkan diri pada Allah. Bagaimana tidak negri mendengar bahsa yang digunakan dalam berita-berita kriminal. Keterangan yang seringkali disampaikan secara terang benderang kadang menyalahi kode etik dunia pers. Belum lagi bertopeng kepedulian palsu  pemaksaan mewawancarai pada momen yang tidak pas acap kali menggelembungkan beberapa pertanyaan. Acara anak-anak dengan konten tak patut seolah lumrah ditemui. Memang, tidak semua stasiun televisi menghadirkan acara bobrok. Masih ada stasiun televisi yang mampu menambah ilmu dengan mendatangkan orang-orang arif yang ahli di bidangnya. Akan tetapi pada kenyataannya, program-program yang lebih diminati banyak elemen masyarakat adalah program yang cepat atau lambat hanya mendatangkan kerusakan, sia-sia dan menumbuhkan pikiran-pikiran negatif. Sebab kebanyakan program bagus di tayangkan pada jam-jam yang tidak lagi ada minat untuk menyaksikannya. Sedangkan program tidak mendidik, justeru dihadirkan pada jam yang seolah selalu tepat sasaran untuk meninabobokan masyarakat agar amnesia terhadap masalah-masalah krusial. Belum lagi, stasiun-stasiun yang berkompeten menebar manfaat, biasanya sepi akan sponsor. Lalu bandingkan dengan stasiun televisi yang kerjaannya promosi diri dan unjuk gigi meski belum masa pemilu, maka iklan yang ditayangkan akan lama, beruntun seperti tabrakan.

Media informasi berupa televisi seolah nyata dikuasai oleh kaum berduit dan pandai mengelabui para pemirsanya dengan suguhan yang dianggap menarik. Penikmat, yakni masyarakat awam tetaplah menjadi penikmat tontonan kala penat, tanpa mengetahui dampak dari apa yang ditontonnya. Tanpa menyadari bahwa opini mereka sedang digiring untuk senantiasa berpikir negatif, mudah melontarkan perkataan kotor, bergaya hidup konsumtif, dan lain sebagainya. Sekali lagi memang, masih ada program yang mencerdaskan bangsa, tapi jumlahnya hanya beberapa. Yah, daripada tidak sama sekali. Pun ada program perihal ilmu agama, meski durasinya kerap kali dipotong-potong dan terasa tampil seperti kaset rusak. Ah, sungguh masih banyak channel yang menyuguhkan tayangan dengan khazanah ilmu yang berkesan asal kita pandai-pandai memilah dan memilih. Banyak berarti jamak atau lebih dari satu.

Layar setan dewasa ini tentu bukan melulu berupa televisi. Tengoklah kanan kiri kita, beberapa langkah dari kita, atau bahkan dalam gengaman kita sendiri. Ada seonggok benda yang jauh lebih fleksibel saat dibawa kemana-mana. Di dalamnya kita bahkan bisa mendapat informasi yang belum benar keberadaanya. Sebab benda itu bisa dikatakan sebagai media informasi yang super ajaib. Berita bohong, ujaran kebencian, game tidak tahu sopan santun, gambar-gambar atau video yang aduhai cemewew, bisa diakses siapa saja dengan hanya menyentuhkan jemari bagi anak dibawah umur sekalipun. Jangan tanya tentang pola hidup konsumtif, setiap hari kita akan dijejalkan dengan informasi mengenai pola itu secara gratis karena akses internet tersedia dimana-mana. Siapa yang tidak tahu benda itu. benda yang katanya bernama smartphone dengan panjang sekian inci itu mampu menjadi penentu pola pikir dan hajat hidup orang banyak. Lagi-lagi memang, tidak semua orang yang terjerambab dalam jurang yang dipenuhi dengan kenegatifan karena benda tersebut. Segelintir, eh maksud saya, banyak yang justeru dengan nyaman berenang dalam kolam bergelimang dengan pola pikir yang kemudian melahirkan perilaku-perilaku positif. Kumpulan orang-orang yang tidak hanya berpikir menjadi penikmat, tapi pembuat, tak mau kalah karena ingin menebar manfaat. Kolam itu terletak persis di samping jurang. Terpeleset sedikit, tamatlah riwayat hidup banyak orang. Pertanyaannya, berada disisi manakah kita? Apakah di bagian mereka yang hidupya kian mudharat karena sebuah benda atau di bagian mereka yang hidupnya kian mampu membagi manfaat? Atau jangan-jangan hanya berkedot dan terlihat member manfaat saja? Yang jelas, semoga kita terus berada di jalan kebaikan, jika hendak atau telah berbelok semoga selalu diluruskan kembali.

Pada hakikatnya semua kembali kepada pilihan masing-masing orang. Ingin memilih menutup diri dengan mencari jalan sendiri untuk terus mendapatkan ilmu dan informasi tanpa harus bersinggungan dengan hal yang sia-sia. Atau tetap membuka diri dengan tetap berusaha membentengi diri. Bagi saya, tak apa bermain game, tapi apa jadinya jika bermainnya di depan pasien yang sedang sekarat? Tak apa mendengarkan musik, tapi tegakah melakukannya disamping orang yang tengah sakit gigi. Tak apa  mengamati sinetron sejenak, asal berpikir kemudian bergerak untuk menciptakan sinetron yang baik dan mendidik. Dan sebagainya, dan sebagainya. Jadilah bijak terhadap diri kita, anak-anak kita, saudara-saudara kita dan orang lain di sekitar kita. Jadilah bijak dengan cara yang bijak, bukan memaksakan kebijakan diri sendiri agar terlihat bijak dan bersahaja. Tetaplah berhati-hati menjaga hati, karena layar setan dan jurangnya ada dimana-mana dan mampu menjerumuskan hati. Akhir kalimat, semoga Allah senantiasa menguatkan langkah kita. Aamiin.

0 komentar