Jangan Jadi Ibu Rumah Tangga!

"Jadi wanita karir aja! Jangan jadi IRT!" Kira-kira begitu kalimat yang sering saya dengar. Seolah menjadi IRT adalah profesi yang sama sekali tidak perlu dipandang. Kesuksesan wanita hanya dilihat karena dia mampu berdasi dan menyamai pria. Juga dilihat dari berapa banyak rupiah yang berhasil ia hasilkan. Padahal sejatinya, bukan itu tujuannya. Wanita hanya ingin sama bermanfaatnya dengan seorang lelaki. Hanya itu.

"Sudah sekolah tinggi-tinggi cuma jadi IRT?" Hmm, mereka kira gampang mengurus keluarga? Mereka kira didikan siapa yang melahirkan banyak anak bangsa mengagumkan di luar sana? Mereka kira sebuah negara yang berhasil tidak disumbang sama sekali oleh kehadiran IRT? Mereka kira dibalik kesuksesan seorang pria itu ada siapa? *Hehe, etdah kek nyolot amat ya kalimatnya, aslinya ngga kok.*

Menjadi IRT bukan perihal menyiapkan sarapan, pakaian, dll. Tapi juga tentang menyiapkan anak-anak berakhlaqul karimah, memiliki etika yang baik dan menjadi pribadi yang arif nan santun. Mengajarkan hakikat kehidupan, dunia, kesuksesan dan banyak hal lain yang seringkali banyak orang salah mengartikan.

Kalau boleh memilih justeru lebih indah menjadi IRT. Fokus mengurus keluarga dengan semaksimal yang bisa dilakukan. Tapi keingingan untuk terus berkarya dan berbuat lebih tentu tak dapat dibendung. Selama terus menancapkan komitmen untuk melakukannya beringingan, kenapa tidak? Dewi Nur Aisyah adalah salah satu potret IRT yang pandai menyeimbangkannya dengan membuahkan banyak karya bermanfaat. Memang berat. Tidak akan pernah semudah yang dibayangkan. Namun, kalau semua dilakukan karena lillahita'ala pasti akan ada saja cara Allah untuk memudahkan langkah kita. Tidak hanya bermanfaat untuk keluarga tapi juga umat. Seperti IRT yang juga berprofesi sebagai guru, designer, petugas bank, penulis, pengusaha, dll. Mereka tidak hany berguna karena mengabdi pada keluarga, tapi juga negara. Karena mereka mampu mencerdaskan bangsa, membuka lapangan kerja, menebarkan ilmu, dll. Pun walaupun kamu adalah seorang pure IRT, itu tentu tidak akan membatasi kamu untuk berkarya. Akan selalu ada jalan untukmu mewujudkan cita-cita luhur bangsa.

Mungkin kamu seorang IRT yang dulunya memiliki cita-cita yang hebat. Seperti menjadi dokter, menteri, penghafal al-Qur'an dan lain sebagainya. Tak apa, kamu bisa menjadi IRT hebat yang memiliki anak yang menjadi dokter, menteri, dan lain-lain.

Fenomena perihal hanya menjadi seorang IRT ini sudah menjadi paradigma yang salah dan lumrah. Akan sering telinga kita diperdengarkan dengan kalimat, "dia itu loh cuma jadi IRT. Pdahal sering juara kelas." dan kalimat lain yang bernada nyinyir dan sinis.

Dengan tulisan ini saya mengajak kepada kita semua untuk tidak ikut serta menyirami paradigma itu lantas kian subur adanya. Semoga kita menjadi orang yang tidak mudah mendiskreditkan sesuatu. Terus berkarya bukan berarti meludahi orang yang belum berkarya. Kehidupan tidak statis, melainkan dinamis. Ada kalanya kita berada di bawah dan ada kalanya Allah gariskan kita berada di atas. Tetaplah rendah hati dan berpikir lantas bergerak membangun negeri.

Ah, akan menjadi amat mudah menuliskan tanpa mempratekkan. Apalagi tulisan ini hasil dari ketikan seseorang yang bahkan masih belum menikah dan merasakan bagaimana mengurus rumah tangga. Hmm, bukankah belajar sesuatu tidak mesti mengalaminya sendiri. Dengan melihat mozaik kehidupan seseorang juga bisa tengah belajar. Barangkali dengan tulisan yang sejatinya tujuan pertamanya mengingatkan diri sendiri ini mampu menjadi pengingat lagi kala dibaca di kemudian hari. Sebab yang seringkali terjadi memang begitu. Kala salah dan hilaf mulai menguasai diri, akhirnya membaca beberapa oretan yang telah ataupun belum dipublikasikan. Alhasil, acapkali tertampar dengan tulisan sendiri. Baiklah, semoga kita bisa menjadi manusia mushlih yang terus saling menasehati dengan hikmah dan diberi kemampuan untuk senantisa mempertanggung jawabakan setiap kata yang pernah kita tulisakan. Aamiin.

----

[Pesan-pesan berikut ini] "Mbak, mbak. Apa?  Topiku ketinggalan." "Hade, cape de." || Akhirnya balik NGANTERIN topi dan ketemu temen yang NGANTERIN anaknya yang berusia 4,5 tahun lalu aku lupa pas  SALAMAN sama temenku pake gaya SALAMAN ala anak gahol. (Baca satu kali tarikan napas ya!) *krik.

2 komentar