Mbak Ais


Mbak Ais. Dia kakak perempuan yang begitu luar biasa di mata kanak-kanakku puluhan tahun silam. Kami seperti bumi dan langit. Dia multitalent. Sejak kecil sering didelegasikan ikut lomba. Sejak duduk di bangku sekolah dasar. Bagiku megagumkan saja melihatnya mendapat banyak hadiah dari guru-guru kala mampu menyabet juara. Di madrasah juga demikian. Saat lomba setahuku dia yang pertama berpidato dan membikin penonton tidak mengantuk. Akhirnya, caranya berpidato menjadil viral, meski saat itu istilah itu belum gandrung. Di mataku, dulu Mbak Ais tidak mudah marah. Itulah mengapa kami jarang bertengkar.

Mbak Ais bagiku makin terlihat luar biasa, ketika lulus SMA diberi pilihan; mengabdi atau menghafal al-Qur'an. Dan dia memilih pilihan kedua. Allah, semoga engkau membimbingnya untuk menjaga hafalannya, juga ia bisa diberi daya agar mampu meneruskan. Aamiin.
Tapi yang lebih membuat ia terlihat sangat luar biasa di mataku adalah saat ia membelaku waktu kecil dulu. Aku yang biasa diganggu Mashudi (kini berteman baik) setiap hari membuatnya geram seketika waktu. Bagaimana tidak, Udi (panggilan akrabnya. Benci aja masih punya panggilan akrab😂) seakan tidak kehabisan ide untuk menggangguku. Saban hari tiada hari tanpa menggangguku. Mencoret bukuku, dsbgnya. Aku lebih sering tidak meladeni, tapi juga lebih sering menangis (dulu aku bukan kriteria orang yang pemberani. Sekarang? Masih😂 Ngga napa😏 Ngga salah😂). Lalu suatu ketika di puncak kegeramannya, saat aku dan Mbak Ais hendak pulang dari sekolah SD (seingatku aku masih duduk di kelas 2) ada Udi yang lagi-lagi menggangguku dengan ocehannya. Mbak Ais sudah sering mendengar aku diganggu makhluk yang satu itu. Haha. Akhirnya kali ini Mbak Ais naik pitam. Ia pun menghampiri Udi dan menarik kerah bajunya kemudian berteriak keras ke mukanya persis di teve-teve, "JANGAN GANGGU ADIKKU LAGI!!!"
Kejadian itu sungguh membuat aku terpana.

Karena ingin sekali merasakan bangku kuliah, dia dengan semangat kuliah sambil bekerja. Kenapa tidak kuliah sambil berjualan saja? Barangkali sekarang dia sudah punya banyak outlet! Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri, hah? Hehe.

Kalau aku nonton teve dengan Mbak Ais, sepertinya justeru tevenya yang akan balik menyaksikan kami mengisi suara pemain yang padahal sudah ada suaranya. Kami seolah menjadi dubber tak diundang. Mbak Ais selalu pandai memilik kata-kata yang membuatku mudah ngakak. Ups.

Aku seringkali meminta diajari ini itu padanya, namun seringkali dia menjawab, "Aku ngga bisa." Pikirku, itu mungkin caranya untuk merendah (Tapi ya ga gitu-gitu juga kale😴) .

Yang paling menyebalkan adalah saat dia bilang "Kamu berbeda," dengan nada khas darinya. Menurutnya, dia sering mengatakan begitu karena aku seringkali berbeda di rumah. Kala yang lain makan malam bersama melingkar di tengah teras, aku justeru makan cemilan di pinggir teras, dan beragam perilaku lain yang menurutnya berbeda dan bisa memancingnya untuk berkata begitu. Alhasil, besok harinya aku tidak ingin berbeda, aku juga ikut makan bersama. Namun yang kudapati adalah ungkapan yang sama dari nya. Serba salah, kan?

Saat aku tengah mengetik, dia akan bilang "Kamu punya dunia sendiri, ya. Enak. Diem." Lah, memangnya aku harus ngetik sambil joget? Hadeeee.

Kalau dia bertingkah seperti anak kecil, aku menjulukinya serupa dengan iklan yang lagunya, "Dodo.. dodo.. Ku hanya mau dodo.. Ku suka dodo.."
Hahaha, maaf ya, aku ulangi deh.

Hmm, banyak sekali kenangan bersama Mbak Ais. Esok, 31 Des 17, InsyaAllah dia akan memulai hidup yang baru. Semoga Allah senantiasa memberkahi hidupmu. Tetap menjadi partner 'gila'ku ya😭😘

0 komentar