[ Jangan sampe kalo nikah nanti, nikahnya sama manusia hape. Kan bakal ga nyambung tuh. Kita ngomong apa yang didengerin apa. Dan pagi ini aku bener-bener paham, kalo ngomong sama manusia hape bisa amat menyakitkan. ]
"Nam, turunin motor, Nam. Anterin," pintaku pada Anam yang tengah fokus pada layar hape smart itu. Aku pada saat itu masih sibuk mengenakan kaos kaki. Aku pikir dengan meminta tolong, aku akan lebih menghemat waktuku. Mengingat kelas di mulai pukul setengah enam. Tapi yang ku dapati adalah jawaban yang sama, yakni "hah?," dari tiga pertanyaan yang juga sama karena memang sampai harus aku ulang dengan jarak durasi waktu sepersekian detik.
Akhirnya, aku ingat apa yang disampaikan Bapak pekan lalu:
"Orang tua itu ga butuh dunia. Saya, meskipun orang bodoh sekalipun, lebih memilih akhlak ketimbang harta berlimpah ruah. Kita lebih perlu disumbang tingkah laku yang baik daripada disumbang materi, tapi akhlak dinomorsekiankan," begitu kira-kira menurut beliau.
Aku pun memutuskan untuk berjalan kaki karena aku merasa tidak butuh materi (dalam hal ini jasa antar menggunakan motor). Aku hanya butuh didengarkan kala itu. Keputusan ini justeru membuat Anam yang tadinya sibuk bermain hape kini bangun. Tapi aku sudah berjalan cukup jauh, aku tidak mau diantar oleh siapapun. Termasuk Muna yabg sedari tadi juga enggan kala aku berbincang pada Anam. Sekali lagi aku tidak perlu diantar, aku bisa berjalan kaki. Aku hanya butuh didengar. Itu saja.
Akhirnya mereka, juga Ibu seperti menyesali apa yang aku lakukan. Aku pun demikian. Karena meski tujuanku untuk memberi pelajaran, tapi aku lupa untuk menjaga perasaan Ibu. Pastilah Ibu menyesali kejadian pagi itu. Maaf, Bu. Aku hanya ingin mereka mengerti, bahwa hidup ini bukan hanya tentang 'aku', tapi tentang 'keluarga' dan banyak orang.
---
Omong-omong tentang Anam yang jadi manusia hape, sebenernya aku jadi inget kalo ternyata aku juga sering jadi manusia hape. Parahnya lagi aku melakukannya pada Ibu!
Kemarin sore Ibu bertanya padaku yang memang tidak sedang memegang hape, tapi pikiran masih fokus pada apa yang ada di dalam hape, laporan. Begini pertanyaannya, "Sudah Ashar, Lut?"
“Belum,” jawabku.
“Sudah jam segini kok kamu bilang belum ashar. Kenapa kamu jadi telmi ya akhir-akhir ini,” Ibu heran.
“Eh, iya bu, hehe."
Aku akhirnya langsung kaget dengan sikapku dan meminta maaf pada Ibu, tertawa kemudian mengenang betapa memang akhir-akhir ini aku seringkali telmi. “Kenapa hape tidak lantas menjadikan aku makin smart, ya?” Tanyaku dalam hati. “Ah, penggunaan yang tidak semestinya inilah yang menjadi akar masalahnya.”
Aku seringkali berpikir jika aku tidak ingin memiliki pasangan hidup yang terlalu sering update status di media sosial, apalagi hanya sekedar sepiring makanan. Tapi setelah ku pikir lagi, aku adalah orang yang masih dan aktif membagikan status, termasuk makanan. Padahal orang-orang di sekitar kita, keluarga, sahabat, pasangan hidup dan lain sebagainya bisa jadi adalah cerminan diri kita sendiri. Maka mulailah dengan mengevaluasi dan memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu.
“Anam, ternyata Tantemu ini juga manusia hape. Ayo bareng-bareng memperbaiki diri. Supaya kita tidak menjadi budak teknologi.”
[ Yuk, sebelum sibuk lagi sama hape, tugas, kerjaan, dll. Sudah ngga ngasih senyum dan bilang sayang ama anggota keluarga, nelfon ortu, dll? Sebab kita seringkali punya senyum buat orang lain, tapi tidak untuk keluarga sendiri. Dan bilang sayang tidak selalu berarti lewat ucapan. ]
0 komentar