Petugas Juga Manusia

Sepatu yang lebih kuanggap sebagai sendal kemarin kehujanan dan lupa aku cuci. Sementara sepatu yang juga lebih kuanggap sebagai sendal minggu lalu kehujanan dan juga lupa aku cuci. Haha, serius. Akhirnya pagi ini aku meminjam sepatu milik Muna, kemenakan yang lebih ku anggap adik sendiri.

Anyway, pagi ini petugas telat mengembalikan kunci laboratorium. Akhirnya aku kelimpungan mencari kunci. Naik-turun lantai tiga sampai  tiga kali. Mondar-mandir melebihi setrika.

Beberapa saat kemudian Dek Irul datang. Dia akhirnya membantuku untuk mencari kunci, atau lebih tepatnya mencari petugas yang membawa kunci.

Dia juga bingung. Sebab kelasnya harus menggunakan komputer di laboratorium. Nah, kalau aku sendiri berniat untuk belajar di luar ruangan sebagai plan B, karena kali ini tidak memerlukan layar proyektor dll.

Jam di layar handphone-ku telah menunjukkan pukul 07:30 WIB. Saat itu pula ada yang mengembalikan kunci. Padahal sebenarnya kelas dimulai jam 07:00 WIB. Ibarat kata nih ya, 30 menit itu bisa digunakan untuk mencuci piring, baju dll. Hehe.

Ternyata usut punya usut, petugas memang datang telat bukan sebab lupa mengembalikan kunci. Omong-omong pegel juga karena aku memakai sepatu pinjeman berhak tinggi. Meski amat tinggi, aku amat berharap bisa memenuhi haknya, eh. 

Pada saat mencari kunci kesana kemari, saya menemukam sebuah kursi. Lantas ia berkata, "Rugi, kan? Dampak telat memang dahsyat. Yang telat satu, yang rugi banyak orang. Padahal dari rumah sudah berangkat lebih dari sekedar tepat. Nah, gimana rasanya? Itu yang dirasakan dosenmu. Lihat, mereka juga telah datang tepat waktu. Dan berhak atas itu, memulai kelas dan pelajaran tepat waktu."

Pada akhirnya, kita juga harus pandai memaklumi. Sebab tidak ada yang menjamin jika suatu saat justeru kita yang berada di posisi demikian. Manusia hanyalah manusia yang kadang kala urusannya susah untuk ditebak. Hanya saja jangan lupa dan malas untuk senantiasa menegakkan kedisiplinan.

0 komentar