Saya membagikan status bertuliskan potongan kutipan dari novel Andrea Hirata yang berjudul Ayah, "Bolehlah kita miskin, bodoh, jelek, tapi janganlah pernah kita berhenti sekolah."
Bisa diperhatikan, kalau orang yang paham, mestilah memahami jika makna dari kutipan tersebut sama sekali tidak bermaksud untuk mendikotomikan sekolah dan sholat. Tapi nyatanya apa yang terjadi. Seseorang malah berkomentar begini, "Bukan sekolah, tapi sholat sebelum di sholati."
Kemudian aku membalas dengan emoji berupa lima buah jempol. Karena saat itu tengah sibuk mencari materi untuk Skripsi. Namun kemudian justru dibalas lagi, "Memangnya hidup cuma butuh sekolah? Sholat yang terpenting. Aneh banget kamu, kamu sekolah aja yang dipikirin," begitu katanya kira-kira.
Lantas, entah kenapa, seolah teringat hadits tentang wajib sombong pada orang yang menyombongkan dirinya, aku pun membalas pesan itu dengan: "Sholat mah wajib. Lalu memangnya kenapa kalau aku pikir sekolah lebih penting daripada sholat?" lagipula, Allah Maha Mengetahui isi hatinya hambanya, apa yang menurut hambanya menjadi prioritas. Ketimbang hanya mampu berucap lewat lisan. Padahal sepatah pun aku tidak menulis, jika sholat dinomorduakan dari sekolah.
Begitu sedikit cuplikan percakapan via WhatsApp dengan seseorang yang tidak perlu kita sebut namanya. Kemudian aku mempermisalkannya dengan perbincangan yang lebih pendek:
"Jadi kamu pikir makan lebih penting daripada sholat!"
"Lantas kalau saya pikir makan lebih penting daripada sholat, anda mau apa?," aku menjawab dengan permisalan demikian.
----
Memangnya anda pikir yang butuh makan cuma perut?
Aduhai, tidakkah kita ingat otak dan hati kita juga perlu nutrisi, berupa ilmu?
Apa anda mengira kita cukup mengerjakan sholat dan ibadah lain tanpa ilmu?
Bisa anda bayangkan hal itu?
Ada seorang ahli ibadah yang tuna-ilmu?
Akan seperti apakah sholatnya?
Lagipula, lupakah kita bahwa sekolah memiliki artian yang amat luas, tidak hanya sebatas mengenyam pendidikan secara formal?
Hati-hati jika ingin berpendapat. Jangan tinggal comot al-Qur'an dan al-Hadits sana sini. Bahkan foto instagram pun bertebaran dengan caption serupa, bukan? Paham kulit luar, tapi sudah secara membabi buta berkoar-koar. Ini penyakit yang bisa menimpa siapa saja. Perlu diwaspadai. Kala kita sudah mengetahui banyak hal hanya dengan membaca satu buku. Kala kita sudah merasa amat bijak dan bertindak kala mendengar satu buah isu. Merasa paling benar. Berbicara panjang lebar. Tak gentar. Menggelegar bak halilintar.
----
Kata ahli ilmu, al-Qur'an memang pedoman, tapi kalau yang menafsirkan seperti kita-kita---orang yang acap kali tidak membawa otak dan hati untuk mengkaji melainkan egoisme---ini, maka apa jadinya. Jangan sampai menafsirkan, karena bahkan kita seringkali hanya mengartikan secara lurus. Tapi seolah paham makna kalimat yang tafsirannya bisa tertulis dalam halaman beratus-ratus.
"Eh, maaf, anda Lutfiyah?"
"Iya, benar."
"Anda dipanggil Mbak Skripsi, tuh."
"Oh, hehe. Iya. Bentar."
"Kamu kenapa sih? Kok baper? Biasanya kan kamu cuma senyum kalo ada yang nyinyir. Katamu, baik kebaikan atau keburukan seseorang adalah jalanmu untuk memperoleh pelajaran?"
"Hehe, Maklum, karena dari SMP bergaulnya dengan teman-teman yang pandai menjaga omongan. Jadi kurang variatif gitu temannya, hehe, baik semua. Akibatnya kalau sudah dinyinyirin, langsung ingin bersuara. Salah satunya lewat tulisan ini. Karena setelah didiamkan, yang bersangkutan justru kekeuh. Maka ini sedikit apa yang ingin saya ungkapkan. Ah, lagak saya sudah seperti orang berilmu saja. Padahal masih haus akan ilmu, sedikit sekali yang saya pahami. Tapi saya bersyukur, karena dinyinyiri saya jadi punya bahan tulisan. Saya juga jadi termotivasi untuk belajar lagi."
Setelah saya baca lagi riwayat percakapannya, saya jadi tertawa sendiri, jangan-jangan saya hanya mudah terpancing. Jangan-jangan iman saya sedang lobat, buktinya mudah terprovokasi. Sebab beberapa orang tidak butuh penjelasan, mereka hanya ingin mempermasalahkan dan sama sekali tidak menginginkan jawaban jadi wajib diabaikan. Itulah kenapa banyak kumpulan nitizen yang tiap waktu kerjanya hanya mengomentari orang, mencaci, membully, bersumpah serapah, dsb di sosial media. Mereka merasa aman karena menggunakan fake account, meski telah mencoreng nama agama, karena tidak sedikit juga yang mengcover akun dengan nuansa Islami. Seperti foto profil, status dll. Nah, kalau yang itu perlu ditindaklanjuti, tidak bisa didiamkan.
----
Lagi pula ini pemikiran kita, hidup kita, jalan kita. Kenapa orang lain yang jadi sibuk. Innallaha a'lamu malaa ta'lamun. My life and yours are so simple. It is me and you who make it complicated. No matter, Allah will always be with us. Everything will be get easier.
0 komentar