Seorang teman les bilang padaku, "Weih, pantesan adeknya jago bahasa Inggris, kakaknya aja begitu." katanya. Kemudian aku hanya tersenyum. Padahal kalau saja dia tahu bahwa aku bahkan hampir tidak pernah belajar bahasa Inggris dengan kakakku itu. Pernah suatu ketika aku bertanya, "Kak, artinya ... (menyebutkan satu kosa kata dalam bahasa Inggris yang aku lupa apa) apa?"
Ia kemudian menjawab dengan kalimat yang sebenarnya bukan jawaban melainkan perintah, eh maksudku mungkin petuah, itu pun setelah aku pikir-pikir ulang, karena sebelumnya aku mengira jika itu bukan ketiganya. Bukan jawaban, petuah ataupun perintah, tapi pelit. Begini ujarnya, "Coba buka kamus."
Bisa dibayangkan, ekspresi bete wajahku kala itu. Sejak saat itu aku tidak pernah bertanya arti vocab. Ataupun belajar padanya. Tapi tetap, kadangkala jika sedang good mood, aku meminta dibenarkan kala bercakap-cakap, dalam bahasa Arab. Hehe.
Tidak hanya itu. Dulu, saat aku memilih untuk mendaftar sekolah di SMA 1, dia justru mengantarkanku ke depan gerbang MAN Bangkalan. Lalu menyuruhku untuk masuk dan mendaftar sendiri. Alamaaaak! Macam mana pula? Bagaimana tidak, aku kala itu sangat pemalu lu lu lu, hehe, biar dapet penekanan malunya, eih teorinya siapa? Aku dong😄. Akhirnya terpaksa aku mendaftar sendiri takut-takut. Sejak saat itu aku jadi belajar untuk benar-benar mandiri kemana-mana.
Juga pernah suatu saat, waktu kakak masih mengajar di Primagama aku bilang padanya, "Kak, di Primagama ada lomba, aku pengin ikut. Daftarin ya,"
Sebenarnya kalimat, "daftarin ya" belum aku ungkapkan. Masih rencana. Tapi ternyata sudah ditanggapi kakak dengan, "Oh, ya udah besok datang kesana. Daftar. Jangan bilang adik kakak, nanti dikasih gratis." *Jendaaar. Eh, memang waktu itu hujan dan ada petir, ya? Eh, ngga deh. Biar alay aja, hehe.
Pun baru-baru ini saat aku bilang jika aku ingin belajar Toefl padanya. Beliau malah bilang, "Nanti kakak kasih bukunya." Aku sendiri tidak tahu 'nanti'nya itu kapan. Sebab yang aku tahu, bahwa dari semua perilakunya, aku belajar bahwa jangan bergantung pada orang lain, meskipun itu keluarga sendiri. Setiap apapun haruslah diperoleh dari keringat sendiri, bergantung pada kemampuan diri sendiri dan yang terpenting adalah bergantung pada Allah Azza wa Jalla.
Note: Kadang dari luar kita terlihat jago ya. Padahal nilai Toefl masih jauh dari target. Lantas apa masalahnya? "Males belajar dan berdoa!" pekik Sang Toefl.
0 komentar