TTD

Malam tadi aku mengemas barang yang esok akan ku bawa ke seminar, salah satunya novel milik Mbak Lia. Mau minta TTD-nya Asma Nadia. Beliau sudah menjadi salah satu idolanya sejak lama. Karena itulah, di kesempatan ini barangkali beliau bisa mendapatkannya, TTD itu.

Aku kadang berpikir berkali-kali, kenapa orang bisa mati-matian berebut TTD seseorang (dalam hal ini idola). Setelah ku pikir lagi, ternyata mereka (kebanyakan), memang bukan orang-orang biasa, tidak manja. Mereka menginspirasi dan telah berhasil keluar dari zona sebelumnya. Berjuang untuk impian yang mereka rangkai setelah sekian lama. Tak ayal, TTD mereka pun sangat berharga, spesial. Apalagi ilmunya. Lalu apakah kita sudah menjadi sespesial itu bagi orang lain? Jika belum, setidaknya kita bisa menjadi spesial di hadapan Tuhan. Namun, bukankah ketika kita sudah spesial di langit maka kita secara otomatis juga spesial dibumi berkat-Nya. Itu sudah sunnatullah.

Bagaimana kita seorang manusia yang bisa jadi jiwanya mudah rapuh, namun disanjung begitu hebat dan dispesialkan TTD-nya? Wallahua'lam. Hakikatnya, meski seringkali nampak dari ucapan dan perilaku, kita tidak akan pernah tahu seperti apa dalamnya isi hati seseorang. Hanya bisa merapalkan doa agar diteguhkan untuk bersifat rendah hati.

----

Aku adalah tipikal orang yang entah kenapa tidak suka keributan, meski kecil. Maka, ribut-ribut, antre, berebut TTD, meminta foto bareng, dan lain sebagainya adalah hal yang sangat ku hindari. Lebih-lebih aku pemalu untuk itu. Meski tidak dipungkiri, seorang idola yang kerap ku anggap guru akan menjadi berarti, meski sekadar oretan jari. Tapi lebih dari itu, merindu seorang idola dan guru tidak melulu harus berfoto selfie, dll---karena cukup dengan bertemu saja sudah meluruhkan rasa rindu yang memang telah lama menggebu. Atau sebenarnya, rasa rindu tidak perlu diluapkan dengan adanya sebuah pertemuan, tapi cukup hanya dengan melantunkan doa untuk yang tengah dirindu. Iya, hanya sebegitu.

Namun, lihatlah. Entah Kakak sudah menskenarionya dengan rapih, aku terpaksa berada di antrean panjang para pemburu TTD itu. Membawa sebuah novel kesayangan Mbak Lia, yang kala itu sedang menyusui anaknya. Kondisi ini kualami karena Kakak tiba-tiba mengestafetkan novel itu padaku, meminta untuk antre demi mendapatkan TTD, biar berani katanya. Aku yang sudah ada di depan pintu tidak dapat lagi mengelak. Pada ini bukan soal berani, akan tetapi sering sekali aku tidak suka keramaian, apalagi berdesak-desakan. Dan bagiku malu dalam hal ini bukan berarti tak berani. Lain hal.

Akhirnya, aku berhasil mendapatkan oretan tinta itu. Langsung saja kuberikan pada sang empu. Mbak Lia amat bersyukur dengan apa yang diperolehnya. Ia tak henti-hentinya mengucap syukur. Lalu saat itulah, aku juga merasa lebih bersyukur bisa mendapatkan kesempatan telah sedikit membahagiakan Mbak Lia. Maka aku sama sekali tidak menyesal berebut TTD keramat itu untuknya. Aku bahagia melihat pipinya merona. Namun, tetap pada ulasan awal, aku tidak menyukainya. Aku terlampau malu. Bahkan ketika aku bertemu dengan Ahmad Fuadi, Eka Kurniawan dan lain sebagainya. Aku enggan meminta TTD apalagi berfoto bersama.

0 komentar