Menghadirkan Kembali Esensi Sastra di Lembaga Pendidikan bersama Eka Kurniawan

Alhamdulillah, akhirnya saya makin menyadari jika hanya dengan daya dan kekuatanNya-lah saya bisa memiliki waktu untuk menceritakan kembali perbincangan dengan Eka Kurniawan (Penulis buku Cantik itu Luka yang terjemahkan ke dalam 55 bahasa di dunia) dan Khoirul Rosyadi (Dosen Universitas Trunojoyo Madura / Pegiat sastra) yang dilaksanakan hari Sabtu, 28 Oktober 2017 lalu. Eh, bukankah kita harusnya masih bisa menulis di tengah rutinitas mencekik sekalipun. Kenapa saya mengatakan "waktu" jika selama ini Allah masih memberikan banyak waktu senggang untuk saya? Ah, mungkin lebih tepatnya menghadirkan kembali semangat untuk bisa menulis ulang dan bermanfaat. Semoga masih banyak yang saya ingat. Karena setelah menengok notebook milik saya, saya pusing, tulisan cepat serupa cacing membuat ide sempat skakmat.

Baik, mari kita mulai...

"Dalam hidup, kita tidak hanya dituntut untuk membaca kemudian tamat. Tapi bagaimana kita mampu menginterpretasi dan pada akhirnya menulis."

Eka Kurniawan sempat berpikir, "Bagaimana saya bisa hidup dengan menjadi seorang penulis?." Karena pikiran itu akhirnya semasa kuliah, ia memperkaya keahliannya dengan belajar desain grafis dan lain-lain. Akhirnya ia pun sempat bekerja menjadi ilustrator, designer, dan sebagainya. Ia juga sempat menulis di berbagai media dan mendapat kesimpulan jika "Menulis tidak memberinya banyak uang." Padahal kebutuhan juga meningkat. Karena dorongan untuk menulis---yang sangat mengganggunya---akhirnya kurang lebih 1 tahun ia menjadi wartawan. Sulitnya mencari narasumber, transportasi dan berbagai alasan lain membuat ia memilih hengkang meski baginya menulis itu menyenangkan. Eka Kurniawan juga pernah bekerja di industri pertelevisian untuk membuat naskah. Tapi ia merasa ia bekerja seperti tukang jahit. Menulis apa yang sesuai dengan keinginan mereka. Kemudian ia juga tidak lama di pekerjaan itu. Itulah sedikit potongan mozaik kehidupan yang dulu pernah dijalani penulis berprestasi itu. Berikut isi talkshow-nya.

Sebenarnya apa sih sastra?

"Bagi saya, sastra adalah menulis. Kita sebagai manusia pada dasarnya memiliki sifat dasar yakni pelupa. Sehingga kita perlu untuk menulisnya agar pengalaman atau ilmu yang kita punya bisa abadi. Dan untuk menulis memerlukan sastra. Maka, daftar belanja juga bisa disebut karya sastra karena kita melibatkan kegiatan menulis. Bedanya daftar belanja itu kemudian hanya dibuang. Iklan-iklan di papan reklame juga sastra karena memerlukan keahlian menulis."

Eka Kurniawan melanjutkan, "Kalau kita bicara sejarah kesusastraaan sama dengan kita bicara sejarah menulis. Yang awalnya "mencatat" gagasan dan pengetahuan. Tidak cukup disitu, ia ingin orang lain mampu menikmatinya sehingga dibagikan kepada orang lain. Hingga timbullah tatabahasa, komunikasi juga undang-undang yang melindungi karya. Disana juga timbul persaingan dan kreativitas yang menghasilkan kesusastraan. Novel, puisi, cerpen, lagu dan lain-lain, adalah bentuk karya sastra konvesional yang paling menonjol.

Lalu bagaimana pendapat anda tentang tugas sekolah yang kebanyakan hanya berkutat pada cipta puisi, sementara saya sendiri tidak menyukai puisi?

"Seperti yang saya sampaikan, bahwa puisi termasuk salah satu karya sastra yang menonjol sehingga barangkali itulah yang membuat sistem mengajar menjadi monoton. Padahal sastra begitu luas. Kalau sistem ini diubah, misal kita dibebaskan untuk bercerita secara mengalir maka saya yakin semua pasti bisa mencintai sastra. Daripada memusingkan dengan memaksa membuat puisi, lebih baik meminta untuk bercerita tentang pergi ke rumah nenek, dan sebagainya dengan bahasa sendiri. Menulis skripsi juga sebenarnya sastra, tapi karena kita hanya menulisnya berdasar teori tanpa analisis yang mengalir maka seringkali terasa berat menyelesaikannya."

Bagaimana menurut anda tentang rendahnya minat baca masyarakat setempat yang sekarang bisa dilihat dari jumlah seminar pada malam hari ini?

"Saya keberatan jika masyarakat kita sering dikatakan memiliki minat baca yang rendah. Pada malam hari ini saya kira hadirinnya cukup banyak, bahkan bisa jadi masih lebih banyak disini kalau kita mengadakan seminar yang sama di universitas X (menyebutkan nama universitas terkemuka), jadi perlu kita apresiasi. Lagi pula, kalaupun ingin memperbaiki, yang diperbaiki bukan minat baca, melainkan infrastruktur yang mendukung meningkatkan minat baca saat ini. Kita akan lebih mudah menemui toko buku di kota besar daripada di pelosok desa. Ditambah dengan harga buku yang kadang tidak pas dikantong. Padahal masa depan sastra terletak pada ilmu yang berasal dari buku. Manfaatkan juga karena pada malam hari ini kalian bertemu dengan teman-teman yang memiliki minat yang sama," jawab Eka Kurniawan.

Meski hanya berniat untuk membaca karyanya, (karena bahkan saya belum membaca sepotong pun karya beliau) saya sangat bersyukur bisa bertemu beliau secara langsung. Belajar banyak hal; salah satunya untuk senantiasa bersifat tawaddhu' yang bisa dilihat dari cara beliau menjawab pertanyaaan demi pertanyaan. Saya jadi paham, orang besar selalu memiliki mental demikian, rendah hati.

Bagaimana menurut anda tentang banyaknya politisi yang tidak menggeluti dunia sastra meski sastra begitu penting untuk semua elemen masyarakat?

  "Saya sendiri tidak paham politisi mana yang anda maksud. Mungkin karena kurang baca. Tapi saya kira banyak juga politisi yang menekuni dunia sastra. Seperti contoh politisi X dan Z (menyebutkan nama tokoh politisi terkini di Indonesia)."

Di kalimat "kurang baca" bisa saya pahami, jika seseorang yang karyanya sudah diterjemah ke 55 bahasa sekalipun tidak sungkan mengakui bahwa dia akan terus selalu kurang membaca. Padahal bisa jadi itu adalah caranya untuk tidak terlalu mudah menghakimi, seperti pada kalimat "banyak juga" beliau tidak mau menggunakan mayoritas (politisi tidak menyukai sastra) sebagai patokan.

"Bahkan tokoh sejarawan kita, Bung Hatta dan Bung Karno juga menulis beberapa buku. Namun tidak pernah mengklaim bahwa dirinya adalah seorang penulis. Tapi karena mereka menulis kita bisa tahu pemikiran mereka."

Saya mau bercerita, salah satu dosen saya meminta kami para mahasiswanya untuk membaca karya anda yang berjudul Lelaki Harimau, padahal beliau berasal dari fakultas dakwah. Setelah saya baca ternyata saya lihat karya tersebut memang recomended dan bahasanya mengalir. Nah, bagaimana strategi agar saya mampu terus mengalir saat menulis cerita dan tidak mengalami stuck?

"Saat menulis, sebenarnya kita hanya menulis ulang sesuatu yang sudah ada dalam diri manusia. Baik itu yang alamiah, maupun berasal dari bacaan. Saya kira keahlian menceritakan ulang sudah dimiliki setiap orang. Apalagi kemampuan berbicara anda pun saya pikir telah mengalir. Anda juga telah memahami strateginya. Sebelum bertanya, anda memberikan pengantar dengan mengatakan "saya mau bercerita" dan disitu ada "padahal" yang semakin membuat orang penasaran dan mau mendengar cerita anda. Sama halnya dengan menulis. Kalau kita ingin bercerita perihal pertanian, mula-mula kita akan mengawali dengan mengenalkan alam, mendeskripsikan dulu siapa itu petani, apa itu sawah, air yang mengalir dan sebaganya. Sehingga pembaca tidak akan merasa bosan dan tegang. Kemudian, menurut beberapa pendapat karya yang bagus adalah karya yang didalamnya tidak ada kata obyek yang dimaksud. Misal anda menulis puisi perihal daun, tapi anda sama sekali tidak menyebutkan kata "daun". Anda membuat novel tentang Madura dan satu kali pun anda tidak menyebutkan kata itu."

"Kita tidak harus memaksa semua orang menyukai sastra. Juga tidak harus menjadi penulis terkenal dan best seller. Tapi setidaknya setiap orang memiliki kemampuan menulis dengan baik," jelas Eka Kurniawan di akhir perbincangan.

Oke, sekian ilmu hari ini. Semoga berguna. Salam literasi!

Oleh: Lutfiyah🎈

0 komentar