Sajak untuk Anakku Kelak
Oleh: Lutfiyah
Nak, Ibu tak masalah kau tidak ahli Matematika
Asal kau tidak pernah lupa sholat yang lima
Nak, Ibu tak masalah kau tidak ahli di bidang IT
Asal kau pandai mengaji
Nak, sungguh, Ibu tak masalah jika kau tidak bergelar sama sekali
Asal kau memliki akhlak setinggi gunung Fuji
Bangkalan, 10 Sep 17
---
Sajak itu telah saya posting beberapa minggu yang lalu di WhatsApp. Dan menuai beberapa komentar. Salah satu yang masih terngiang di benak saya adalah: "Kalo anaknya cuma bisa ngaji sama sholat, ya bakal gampang dibodo-bodoin orang, dong."
Saya tersenyum. Orang itu mungkin belum memahami maksud saya dari sajak tersebut. Saya mafhum. Sedang saya secara tidak sengaja angkuh, merasa bahwa saya memahami makna sajak itu dengan baik. Bisa jadi karena saya yang membuat sajak dengan tatanan kalimat amat sederhana itu, jadi saya merasa telah memahami maksudnya. Padahal maksud saya, jika memang benar pemahamannya, maka pasti itu semata-mata dari Allah. Jika salah, maka memang saya hanyalah pendosa dan sering berbuat salah.
Adapun saya sebenarnya tidak terlalu yakin apakah tulisan sedemikian rupa bisa dikategorikan sebagai sajak. Hehe.
Baik,
Sholat dan mengaji sebenarnya memiliki makna yang lebih luas dari apa yang kita pahami. Dengan keduanya justru hidup akan semakin tertuntun. Bayangkan, memperbaiki sholat sama dengan memperbaiki hidup. Ini terlepas dari persoalan akhirat mengenai amalan pertama yang ditanya, yakni sholat. Melainkan persoalan hidup di dunia akan terus diperbaiki seiring memperbaiki seorang hamba terhadap sholatnya. Jadi sholat yang saya maksud dalam sajak ini adalah sholat yang sebenar-benarnya, kata Pak Ustadz: mendirikan sholat. Bukan hanya sebagai penggugur kewajiban. Adapun saya, bahkan sangat mungkin belum melakukan sholat semacam itu. Semoga Allah mudahkan.
Kemudian mengaji. Bacalah. Pahamilah. Lalu amalkanlah. Pandai mengaji artinya tidak hanya lihai membaca, namun mampu memahami maknanya lantas mengamalkan. Bukankah al-Qur'an adalah pedoman? Oleh karenanya sudah barang tentu hidup akan terarah. Kita boleh membaca banyak buku ensiklopedia tebal-tebal, buku-buku ilmiah mengagumkan, dan sebagainya. Tetapi, tidak akan ada yang mampu mendamaikan serupa isi al-Qur'an. Belum lagi, sejatinya setiap ilmu telah terkandung di dalamnya sebelum penemuan teknologi muktahir masa kini.
Yang perlu dipahami, bahwa pandai mengaji tidak hanya sebatas membaca, tapi bagaimana seseorang mampu mengamalkan, menyampaikan kebaikan dan lebih indah lagi saat kita diberi kemampuan untuk menghafalkan. Mengamalkan untuk dirinya dan menyampaikan kepada orang lain, dengan hikmah dan mauidhatul hasanah. Lalu, pandai mengaji dalam konteks memahami makna al-Qur'an seringkali membuat seseorang lebih semangat menggali ilmu, ilmu dunia maupun akhirat---dengan tujuan akhirat. Tidakkah kita ingat, jika tujuan hidup kita akhirat, maka dunia akan takluk dan mengikuti?
Lalu akhlak: Hanya karena akhlak berada diakhir, bukan berarti ia tidak penting. Karena ketiganya sama-sama penting. Seseorang yang berakhlakul karimah mampu membuatnya diterima di belahan dunia manapun. Bahkan akhirat. Sebab orang itu mampu mengamalkan akhlak dalam arti luas. Akhlak kepada Tuhannya, akhlak kepada kedua orang tuanya, akhlak kepada guru-gurunya, akhlak kepada teman-temannya, akhlak terhadap tetumbuhan, dan sebagainya-dan sebagainya. Orang boleh menjadi profesor, namun selama ia tidak memahami akhlak kepada mahasiswanya (misal), ia tidak akan berarti apa-apa. Seseorang boleh menjadi penceramah ulung, namun selama ia tidak mengamalkan akhlak kepada anak dan istrinya (misal), ia tidak akan berarti apa-apa. Seperti Malin kaya raya hanya berakhir menjadi seonggok batu karena tidak mengamalkan akhlak yang baik kepada sang ibu--yang jelas-jelas manusia mulia.
Jadi, bukan berarti ilmu IT dan Matematika tidak berguna. Tapi bagaimana kita mampu melihat dari sudut pandang agama. Karena agama mencakup seluruh aspek kehidupan. Banyak sekali orang yang bermanfaat (sukses) yang nyatanya memiliki pondasi agama yang kuat, berkat-Nya.
Tiga poin tadi tidak menutup poin-poin lain. Hanya saja ini dari sedikit apa yang saya pahami. Cukup tiga itu saja dulu. Semoga menjadi pondasi yang mampu mengantarkan kita menjadi manusia yang bermanfaat. Memang, akan sangat mudah jika hanya ditulis dan dibaca, namun ada kalanya kita mengerjakan sesuatu dari yang termudah dulu, bukan? Bismillah, semoga menjadi doa.
0 komentar