(Day 19) Tentang Curahan dan Doa Harapan

Luruskanlah niat yang acap kali berbelok-belok liar, terseok-seok pilu, apalagi sempat terhenti karena sifat beracun pesimisme kronis. Teguhkanlah hati yang kerap kali berbolak-balik tak tentu, memikirkan yang tak perlu, lantas membuat diri sesekali terpaku merenungkan sesuatu. Mudahkanlah langkah ringkih kami dalam mengais ilmu-ilmu yang tersebar di setiap sudut muka bumi.

---

"Luruskanlah niat yang acap kali berbelok-belok liar, terseok-seok pilu, apalagi sempat terhenti karena sifat beracun pesimisme kronis."

Niat seringkali berbelok liar, nakal. Pada awalnya niat karena Allah, lillahita'ala. Namun kadang ada saja yang mampu menggeser niat itu. Entah karena ingin dilihat, diagungkan, dibanggakan, dianggap dan sebagainya. Selalu ada saja hal yang bisa menjatuhkan diri ke dalam lembah pamrih yang begitu curam. Untuk itulah perlu senantiasa berdoa agar diberi kemudahan untuk memelihara niat yang lurus. Sebab apa yang kita dapatkan adalah berdasarkan dari apa yang kita niatkan.

Niat juga kerap terhenti karena sifat pesimis yang amat beracun. Meracuni optimisme dengan tega. Memberi bayang-bayang akan sulit tercapainya cita. Menjadikan diri kalah sebelum berperang. Bahkan sebelum ditabuhnya genderang.

Sifat pesimis ini salah satunya muncul karena merasa diri belum memahami apapun, seperti kebanyakan orang yang telah lama berpretasi tanpa ampun. Padahal, resepnya adalah andalkan Allah di setiap urusan, bukan hanya mengandalkan diri sendiri. Karena jangankan mengampu sebuah mata kuliah, belajar sebuah huruf saja kita tak akan mampu kalau bukan karena Sang Illahi. Kita perlu tahu, mengandalkan diri yang  bukan apa-apa membuat kita sukar menatap dunia. Akan selalu ada langit di atas langit. Yang kadang kala terlihat jauh lebih cerah. Sedang mengandalkan Allah, membuatkan jalan kita selebar samudera. Tak peduli lawan begitu berat dan sengit. Karena dengan-Nya segala keajaiban terjadi dengan amat mudah.

Jangan-jangan yang disebut lawan ini adalah diri sendiri. Karena seperti yang kita ketahui, lawan terberat adalah diri sendiri. Berat melawan rasa malas yang membelenggu. Malas berdoa, malas meminta pada yang memiliki segala.

---

"Teguhkanlah hati yang kerap kali berbolak-balik tak tentu, memikirkan yang tak perlu, lantas membuat diri sesekali terpaku merenungkan sesuatu."

Hal yang tak perlu disini bukan berarti memang tidak perlu. Hanya saja belum tepat waktu. Salah satu contoh, adalah perihal jodoh.
Tak bisa dipungkiri, se-fokus-fokusnya seseorang, pasti akan terbesit pertanyaan demikian. Ya, demikian. Tak perlu dijelaskan. Baiklah. Tentang siapa, bagaimana, seperti apa dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan yang acap kali membuat diri tiba-tiba merenung, terpaku.

Apalagi, kala cobaan datang bertubi-tubi. Silih berganti. Sering tiba-tiba mendapat perlakuan hangat. Pertanyaan-pertanyaan yang saat menjawabnya harus pandai mengalihkan. Atau chat-chat aneh seperti kiriman lagu dan lain-lain yang mampu membuat pipi merah bersemu. Meskipun pada akhirnya tidak digubris, karena takut teguhnya hati perlahan-lahan teriris.

Lantas kapan waktu yang tepat untuk memikirnya. Bisa-bisa terlewatkan dan benar-benar terlupakan.

Biarlah Allah yang menjawab. Manusia hanya mampu menguntai doa, menguntai harapan. Ingatlah sebuah ungkapan dalam novel karya Taufiqurrahman El-Azizy, bahwa jodoh itu di tangan tuhan. Sudah digariskan. Sedang ilmu dan kesuksesan tidak akan pernah diraih dengan bermalas-malasan. Perlu ada kerja keras, pengorbanan jiwa, raga bahkan nyawa. Begitu kira-kira kalimatnya.

Memang, kalau tidak ikhtiar mana mungkin. Berdoa dan terus memperbaiki diri juga bisa dikelompokkan menjadi perilaku-perilaku ikhtiar. Jadi, janganlah mudah memerihara rasa khawatir.
Karena seseorang yang baik untuk yang baik. Seseorang yang menjaga dirinya untuk yang menjaga dirinya pula. Seseorang yang tengah belajar dan terus memperbaiki diri juga untuk seseorang yang demikian. Yakinlah, laa haula wa laa quwata illaa billah.

Jangan lupa berdoa, semoga Allah senantiasa meneguhkan hati yang kerap berbolak-balik dan bergeser meski sesenti.

"Mudahkanlah langkah ringkih kami dalam mengais ilmu-ilmu yang tersebar di setiap sudut muka bumi."

Sebab kita harus selalu berpikir jika kita ini bukan apa-apa dibanding ilmu yang Allah miliki. Kita hanya melangkah ringkih demi meraih ilmu yang sedemikian luas. Kita hanya mengais, jadi mana mungkin kita patut sombong karena sejatinya kita hanya mengemis.

Dia-lah yang berkuasa untuk memudahkan langkah untuk menjemput ilmu, menyerapnya demi menghilangkan kebodohan. Setitik ilmu yang Dia berikan sudah mampu menyelamatkan kita dari kesengsaraan. Untuk itulah, senantiasa berdoa pada yang kuasa adalah hal yang tidak pernah sia-sia.

0 komentar