Lampu Kamar

Bapak itu multitalent (karena Allah). Beliau bisa benerin elektronik, bisa benerin listrik, bisa benerin pompa air yang kecekik, bisa bikin prakarya dan pernak-pernik (tugas SD-ku dulu, wkwk jangan ditiru), bisa nyanyi lagu dangdut nyentrik, bisa melucu dengan gaya eksentrik, bisa bikin ranjang bambu yang berderik dan titik-titik, eh maksudku, dan lain-lain.

Perihal keahlian memperbaiki listrik sampai membuat Bapak dimintai tolong banyak tetangga kalo listrik mereka lagi bermasalah dan bikin pelik. Saking bahagia jika listrik mereka nyala kembali, mereka sampai bersorak dan memekik (hehe, rimanya maksa).

Lalu, lihatlah. Beliau tidak sempat memperbaiki lampu kamarku. Sudah hampir dua tahun kamarku gelap gulita. Hehe, sebenarnya itu bukan salahnya. Aku yang selalu lupa untuk meminta tolong memperbaikinya. Eh, lebih tepatnya sungkan. Aku berpikir jika beliau pasti sedang kelelahan.

Meski pada akhirnya yang namanya orang tua selalu tidak merasa diberatkan oleh anak-anaknya. Pun Bapak. Beliau selalu berani berkorban untuk keluarga. Banyak sekali kisah bersama beliau. Hmm, semoga diberkahi umur yang panjang dan kesehatan.

Aku ingat sekali, saat dulu aku masih bungsu, Bapak selalu bertanya "Mau dibawakan apa?" saat hendak berangkat kerja. Kala itu aku benar-benar dimanja. Maklum, aku lahir kala perekonomian keluarga bisa dikatakan amat baik. Untuk dua orang manusia yang memulai rumah tangga dari nol, kala itu bisa dibilang Bapak telah mampu mengumpulkan buat dari hasil memeras keringatnya. Ada rumah, beberapa petak sawah, kendaraan berupa motor, dan anak-anak yang sehat.

Bapak seperti banyak seorang ayah adalah orang yang tidak terlalu banyak bicara saat anak-anaknya beranjak dewasa. Meski kadang beliau juga sering bercanda, namun hal itu lebih sering ia lakukan saat anak-anaknya masih bayi hingga balita. Namun, aku tidak akan lupa betapa lucunya Bapak saat mulai membangun humor.

Saat masih kecil, aku sering ikut Bapak menghadiri haflah imtihan madrasah yang masih ada hubungan dengan keluarga besar. Aku duduk dipangkuan Bapak. Karena saat itu masih sangat kecil, aku pernah sampai ngompol dan membasahi sarung Bapak karena acara memang berlangsung hingga larut malam. Untuk seorang anak kecil, jam 10 malam bisa dikatakan amat larut. Dan beliau pastinya tidak pernah marah. Sepulang ke rumah beliau menceritakannya pada Ibu. Namun setiap tahun, aku selalu saja beliau ajak kembali ke acara itu.

Aku amat nakal. Dulu, masih saat aku masih kecil, aku menaiki motor Bapak dalam kondisi mati yang diparkir di halaman rumah bertanah itu. Bapak tengah memperbaiki TV disertai dengan pelanggan yang menungguinya bekerja. Karena mungkin tidak ada yang mengawasi, akhirnya aku bebas berekspresi dengan motor yang berkali-lipat lebih besar dari tubuhku. Akhirnya beberapa saat kemudian sepeda motor itu oleh jatuh. Begitu pun aku. Tapi tidak sampai menindih tubuhku. Sontak Bapak kaget dan berlari menuju aku. "Aduh, anakku!," pekiknya kala itu. Pekikan yang sama terjadi saat aku telah beranjak agak dewasa. Mungkin kala itu aku duduk di bangku kelas 5 SD. Aku yang sangat suka bersepeda, pada waktu itu mengendarai sepeda dengan amat cepat. Alhasil aku jatuh ke sawah yang lebih rendah 1,5 meter dari jalan. Akhirnya aku pun menangis karena malu. Hehehe. Kemudian tanpa ku sadari, ada Bapak yang berlari menghampiriku. Ia memekikkan kalimat yang sama seperti beberapa tahun silam. Ia begitu kaget dan kuatir. Begitulah orang tua.

Saat Bapak pulang kerja, aku akan menunggu beliau di jalan yang tak jauh dari rumah. Kala itu aku sudah punya adik, jadi tidak bungsu lagi. Tapi bisa dibilang aku masih begitu agresif dan tidak mau jika adikku lebin disayang. Buktinya, aku tidak menghiraukan adikku yang berada di belakang. Aku mengejar Bapak yang mengarah ke kita. Bayangkan, 'mengejar' motor yang 'mengarah' ke kita. Kemudian menaiki motor dan duduk di depan memegang kemudi. Adikku terseok-seok mengikuti langkahku. Ia akhirnya duduk di belakang Bapak. Namun belum genap adikku naik, aku tidak sengaja memutar gasnya, dan motor pun berjalan sejenak. Aku pun dimarahi Bapak.

---

Sekarang, beberapa bulan lagi usiaku insya Allah akan menginjak angka 22 tahun. Namun pada beberapa kesempatan, Bapak masih saja menganggapku seperti anak kecil. Seperti mengingatkan makan, melarang naik motor jauh-jauh, keluar sore atau malam meskipun hanya untuk mem-print tugas kampus dan masih banyak lagi. Tapi aku percaya banyak sekali hal yang beliau lakukan adalah tak lain untuk kebaikanku semata.

Dulu Bapak berbadan tinggi besar. Sehat. Pekerja keras. Sekarang, beliau sudah kian sepuh. Badannya makin kurus karena usia dan kerja kerasnya untuk keluarga. Aku makin sadar jika belum bisa membalas apa-apa di usia orang tua yang kian menua. Bapak yang dulu amat cekatan, kemarin jatuh saat menebang bambu. Katanya, "Mataku sudah tua. Sudah senja. Tidak seperti dulu." Mendengar ucapan itu, hatiku teriris. Kapan bisa membahagiakan beliau?

Lalu, sore ini kala terbangun dari tidur siang, aku mendapati lampu kamarku telah terang. Bapak telah memperbaikinya. Entah siapa yang memberitahu beliau. Karena setelah kutanya Ibu, beliau tidak melakukannya.

Ngomong-ngomong soal lampu, ada kebiasaan unik saat malam takbiran atau acara besar lain. Bapak biasanya akan mengganti lampu do rumah dengan lampu yang lebih besar dan lebih terang. Bagiku itu sangat menyenangkan. Suasana rumah jadi berbeda dari biasanya. Karena keahlian memperbaiki sesuatu dan memahami ilmu memasang lampu inilah Bapak tidak perlu meminta bantuan orang lain.

Apapun itu, terima kasih, Bapak. Aku mencintaimu. Bahkan meski dirimu bukan orang yang bisa memperbaiki lampu kamar.

0 komentar