Kapal - kapalan (Bukan Kapal Beneran)

Waktu duduk di bangku SD kelas pertama, saya mendapat rangking 12 di semester ganjil dan rangking 11 di semester genap. Karena kadang pelajar Indonesia didoktrin akan pentingnya rangking, akhirnya saya cukup sedih dengan kenyataan itu. Belum lagi kebanyakan saudara saya selalu mendapat rangking tiga besar di kelas. Meski Ibu tidak pernah mempermasalahkan. Bisa baca-tulis bagi beliau adalah anugerah besar. Seorang Ibu dengan keinginan-keinginan sederhana, tapi pemikiran-pemikiran yang luar biasa.

Saat itu saya merasa tidak punya kelebihan dibanding saudaraku yang lain. Saya merasa saya begitu berbeda, khususnya dibidang akademik. Kala itu saya tidak punya kelebihan selain membuat kapal dari selembar kertas. Saya masih ingat sekali, waktu itu guru kami, Ibu Syamsiyah meminta kami membuat kapal dengan selembar kertas. Jadi semacam pelajaran perihal origami. Seingat saya, saat itu yang bisa membuat kapal-kapalan hanya saya dan teman saya, Zainal Arifin.

Kami pun menyelesaikan tugas dari Bu Syam. Ketika beliau pergi keluar kelas untuk waktu yang begitu lama, teman-teman yang merasa tidak bisa menyelesaikan tugas mereka meminta tolong pada saya. Lebih tepatnya, minta dibuatkan. Awalnya satu orang, dua orang, dan makin banyak. Hampir semua kecuali Zainal (tentu) dan beberapa orang lain. Sembari saya membuat, mereka memperhatikan, tapi tidak ada yang mencoba memperaktikkan atau sekadar bertanya caranya. Ya, saya kala itu belum paham jika mengajarkan lebih mulia daripada membuatkan. Yang saya tahu, saat itu saya benar-benar bisa membantu mereka.

Lucunya, sambil saya membuat kapal, eh kapal-kapalan, mereka mengipasi saya dengan buku sebagai subtitusi kipas. Saya katakan mereka, karena banyak yang melakukannya. Mereka berkata: "Ayo ee, yang bener ngipasnya. Kasian Lut. Keringetan." Saya hanya bisa tersenyum dan tidak habis pikir: "Segitu amet temen-temen ini, wkwk," ngakak dalam hati. Saat itulah saya berpikir, jika saya juga memiliki kelebihan seperti saudara saya yang lain, yakni membuat kapal-kapalan, hahaha. Keahlian ini sangat berguna saat saya membungkus kado untuk keponakan saya, Nuh. Saya bisa membubuhkan kapal di ujung kado. Meski kemampuan membungkus kado saya masih payah dan hasilnya tidak semenggugah kapal Nabi Nuh.

0 komentar