Materi workshop yang diadakan pada 25 Oktober 2017 di STKIP PGRI Bangkalan, Madura
"Menulis itu berjuang," ucap Asma, "maka harus kita perjuangkan," lanjutnya.
Pernah seseorang bertanya pada Asma Nadia, mengapa ia tidak mencoba menulis dengan genre horror. Akhirnya ia menjawab: "Menulis itu berjuang. Berjuang menebar kebaikan. Dan menulis perihal setan bukan termasuk dari apa yang ingin saya perjuangkan."
Asma Nadia bukan seseorang yang berasal dari keluarga berada. Ia tumbuh dan dibesarkan di keluarga yang begitu sederhana. Inilah yang membuat hobi membacanya sempat terkendala, karena ia tidak mampu membeli buku. Akhirnya setiap hari, Asma dan kakaknya membaca koran yang digunakan sebagai pembungkus cabai. Mereka biasa mengumpulkannya usai Ibu mereka membeli cabai di warung kelontong.
Setiap lewat di toko-toko buku besar, Asma dan kakaknya hanya mampu menelan ludah dari luar gedung. Tidak mungkin dengan keadaan dan penampilan yang begitu kucel mereka akan masuk ke dalam toko, pikir mereka. Lalu Asma berucap pada sang kakak: "Kak, kapan ya kita bisa baca buku-buku bagus itu?" "Semoga suatu saat kita bisa jadi salah satu penulisnya, Dik," jawab kakak Asma tersenyum.
Kini Asma dan kakaknya telah menjadi penulis buku-buku best seller sebab impian yang dulu mereka ukir. Asma juga telah menjelajahi 62 negara dan 360 kota.
Sejak dulu Asma adalah gadis kecil yang sering sakit-sakitan. Di usia yang masih belia, Asma telah mengalami gagar otak dan mengidap penyakit tumor. Hal itu membuatnya bolak balik pergi ke rumah sakit. Lalu ia berpikir, ia ingin menjadi manusia yang tetap berguna di kondisinya saat itu. Dan jawabannya adalah menjadi seorang penulis. Sejak itu Asma lebih tekun membaca dan menulis. Baginya, menulis adalah profesi yang begitu mudah dan tidak diskriminatif. Seorang yang suaranya tidak bagus berhak menjadi penulis. Menjadi penulis tidak perlu memiliki tubuh layaknya boneka Barbie. Setiap kita bisa menjadi seorang penulis.
Hingga saat ini Asma masih harus sering ke rumah sakit beberapa kali dalam sepekan karena masih ada tumor yang bersarang di tubuhnya. Kala mengungkapkan itu, air mukanya terlihat begitu santai sembari meminta doa kepada audien agar lekas dianugerahi kesembuhan.
Baiklah, itu sekelumit cerita mengenai Asma Nadia. Berikut adalah beberapa tips menulis buku best seller ala Asma Nadia.
Menjadi penulis buku best seller adalah 5% bakat, 5% keberuntungan dan 90% kerjas keras!
Dalam menulis itu...
1. Bukan sekadar ide bagus
2. Berawal dari keresahan. "Saat saya berkunjung ke toko buku dan tidak menemukan buku yang saya inginkan, saat itulah saya bertekad menulisnya sendiri." atau "Saat menemukan permasalahan di mana-mana, saya dirundung keresahan untuk segera menuliskan dan menemukan solusinya."
3. Buku sebagai kebutuhan. Sebab membaca dan menulis adalah hal yang tidak bisa dipisahkan.
4. Memperbaiki moral. "Indonesia adalah negara dengan populasi _jones_ terbanyak (hehehe), oleh karena itulah ini bisa menjadi pasar yang potensial sekaligus memperbaiki moral mereka. Kenapa demikian? Karena banyak dari mereka akan lebih sering membaca meme yang jurtru membuat mereka tambah _ngenes._" Seperti meme yang berbunyi: "Truk aja ada gandengannya, masak kamu ngga? _Ya udah tinggal jawab aja: Alphard sendiri tapi tetep kece tuh_ Lagi: Maling aja di kejar, masak kamu ngga? _Ya elah, masak para jones dianggap lebih hina daripada maling. Kan parah banget itu meme. Belum lagi pas kena ke kata kamu, bikin mereka malah tambah ngenes. Disinilah peran kita supaya bisa berkontribusi membentuk moral dengan menulis buku perihal kebaikan. Pembentuk kepribadian baik para jomblo agar jauh dari kata ngenes, melainkan mandiri, produktif dan lain sebagainya._
5. Memotivasi pembaca.
"Novel terbaru saya yang berjudul Cinta Dua Kodi dan Bidadari untuk Dewa dibuat dengan banyak alasan. Salah satunya, dalam novel Cinta Dua kodi saya ingin mengajak pembaca (khusunya Ibu-ibu) untuk mampu mandiri dan berwirausaha. Kemudian dalam novel Bidadari untuk Dewa saya menyuguhkan cerita menggugah dari tokoh utama yang mampu bangkit dan menjadi pejuang dalam hidupnya.
Dosa penulis pemula:
1. Judul.
Menggunakan judul yang _mainstream_ dan dengan satu kata: kayu, paku, daun. Padahal pembaca dan penerbit akan melihat judul terlebih dahulu untuk karya-karya penulis pemula.
2. _Opening_tidak menarik
3. Fokus cerita.
Kebanyakan cerita tidak fokus ke masalah sebenarnya, malah bercabang-cabang isinya.
4. Bertele-tele.
5. Konflik tidak menarik.
6. Pesan verbal.
Di akhir naskah, mereka membubuhkan doa-doa dan pesan pesan verbal lainnya.
7. Ending tidak menarik.
Di ending cerita penulis membuat tokoh utama meninggal dunia, diikuti yang lain seolah membuat cerita makin dramatis.
Kesempatan yang didapat...
1. Dengan menulis, nama kita akan abadi meskipun kita sudah pasti akan mati.
2. Menulis menjadi kado indah untuk kedua orang tua kita.
3. Dari menulis, kita bisa mengalirkan pahala lewat tulisan sebab yang kita tulis adalah untuk kebaikan.
Tulislah impianmu, sebab ia mudah menguap karena rutinitas keseharian.
Tiga prinsip menulis:
1. Menulis yang baik
2. Jangan menulis sesuatu yang akan kamu sesali
3. Tulisan sebagai bekal di akhirat
Untuk menulis buku best seller harus...
1. Menjadi predator buku. Bukan 'kutu' sebab ia jauh lebih kecil.
2. Merekam pengalaman dengan tulisan mulai sekarang
3. Jujur (antiplagiasi) dan disiplin dalam menulis.
4. Buka mata buka telinga terhadap setiap hal yang terjadi.
5. Menulis setiap hari dan untuk diselesaikan.
"Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kamu ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri."
- JK Rowling
Sekian sedikit ilmu yang masih melekat dipikiran dan coretan kecil saya. Mohon maaf apabila ada kesalahan. Semoga bermanfaat dan kita semua Allah jadikan manusia yang bermanfaat.
Oleh: Lutfiyah🎈
0 komentar