Kalau kita mau berpikir sejenak, kita akan menyadari betapa kita adalah manusia yang beruntung.
Kita mempunyai keluarga hangat saat ada seseorang yang sebatang kara meski hakikatnya memiliki keluarga, juga sebatang kara dalam artian sebenarnya.
Kita mampu menikmati sinar lampu di mana-mana saat beberapa desa di berbagai penjuru negeri belum dialiri listrik meski negara sudah lama merdeka.
Kita memiliki sumber air yang melimpah di sana-sini saat banyak orang mengalami krisis air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Kita bisa menyantap nasi pulen lengkap dengan lauk pauk saat ada sebuah keluarga yang tinggal di hutan dan bertahan hidup dengan memakan dedaunan pahit tanpa bumbu sedikitpun, lebih sengsara dari orang rimba.
Kita dianugerahi nikmatnya bangku pendidikan disaat yang lain bahkan hanya memikirkan bagaimana bisa mendapat makanan demi menyambung kehidupan.
Kita sangat mungkin melesat ke tempat yang kita mau, ke sekolah, kampus, mall, dan sebagainya---saat mereka berjalan kaki berjam-jam menyusuri sungai, hutan, bukit, dan melewati jembatan gantung yang nyaris putus hanya untuk bersekolah, bekerja dan sebagainya.
Kita rela menghabiskan jutaan untuk beberapa porsi makanan, menghabiskan milyaran untuk sepotong meja kantor, menghabiskan triliunan untuk perhiasan pelepas kepuasaan---saat ada orang-orang yang berjuang mengumpulkan recehan.
Kita masih mempunyai banyak waktu, untuk bercengkrama dengan sanak saudara, melakukan banyak hal, bahkan dari hal yang tidak penting sekalipun----membuat status---saat yang lain hampir stres dengan jadwal yang amat padat, beratus-ratus.
Kita berkeinginan untuk memperpanjang paketan, menyelesaikan tugas karena paksaan, mendapat pekerjaan mapan, membeli apapun kelak biar hidup senang----saat banyak bocah-bocah kecil memikul dagangan dengan keinginan yang begitu sederhana: mampu membeli sepasang sepatu, mampu membeli buku tulis, dan mampu memperpanjang usia kepulan di dapur yang seruang dengan kamar tidur.
Kita berdebat seputar anggaran di ruang ber-AC sampai mulut berbusa saat tak terhitung orang terlantar butuh uluran tangan, bukan sekadar perkataan panjang lebar, sebab perut mereka sudah keburu lapar.
Kita diberkahi hidup tenang dan tentram, saat mereka melewati hari-hari dengan keresahan dan kegelisahan akan ledakan yang kapan saja datang.
Kita dengan mudah membuang-buang makanan dan minuman saat yang lain mengais-ngais sisa-sisa makanan di tong-tong sampah pinggir jalan.
Kita hanya bisa terpelongo melihat para koruptor tersenyum melambaikan tangan dengan jam tangan mahal yang sengaja dipamerkan atau make up yang masih saja menor dan tebal----saat di ruangan lain seorang maling ayam kesakitan usai digebuki karena tidak mau mengakui kesalahan.
Kita lancar berdiskusi perihal kesejahteraan petani singkong saat bahkan memakan singkong rebus saja kita enggan.
Kita terus saja mengeluh dengan kehidupan yang nyaris sempurna saat banyak dari mereka terus menebar senyum dengan satu tangan, satu kaki, satu mata, atau tidak satupun.
Kita cukup berpikir keras bagaimana merampungkan keinginan yang lebih persis ambisi untuk melengkapi banyak hal yang telah kita punya saat seseorang cukup berdoa satu hal saja dari apa yang kita punya.
Kalau kita mau berpikir sejenak, akan ada banyak hal yang harusnya membuka mata hati. Bahwa hidup tidak melulu soal memperkaya diri. Tapi saat dalam hidup, kita mau menjadi keluarga hangat bagi siapapun, mau berhemat untuk perubahan, mau membantu sebagai tujuan, mau berbagi kebahagiaan. Sebab tujuan kaya harta karena ingin mudah berbagi dan kaya hati agar senantiasa rendah hati. Sebab pandai usai bersekolah tinggi-tinggi agar jiwa sosial makin peka, bukan malah lihai mengibuli. Sebab segala pencapaian buka hanya untuk berfoya-foya, tapi untuk mereka supaya lebih sejahtera. Sebab hidup adalah tentang kebermanfaatan, tidak hanya berhenti menjadi manusia yang beruntung.
Oleh: Lutfiyah🎈
0 komentar