Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Haii haii... *paan sih?
Seperti biasa. Mau curhat, hehe.
Sebelumnya, aku sapa dulu temen setia yang mau nahan mual, nahan panasnya mata, nanya rasa enek, nahan pipis *eh, nahan de-el-el buat baca setiap entri yang aku published di blog ini. Haii, Nicun! Padahal aslinya bisa nyapa langsung gitu. Tapi kan ga papa yak, nyapa lewat sini, biar menuh-menuhin entri, haha (Entri itu jenis menu(h) apa, ya? Ditemuin di resto mana? *dor!) Ngga, kok. Asli pengen nyapa lewat sini. Dan nyapa reader yang lain juga, kalo pun ga sengaja nge-read ini blog. Inget, ga ada yang kebetulan di dunia ini. So, kalo ga sengaja, itu artinya kudu baca selalu, follow, biar bisa baca terus dan nahan-nahan kek Nicun, haha.
Uda ah, langsung curhat aja. Untuk kali ini aku lagi-lagi mau belajar curhat pake bahasa baku yess. Kalo ada yang kurang tepat, monggo dibenahi, dikritiki, tapi jangan digelitiki. Soalnya bisa spontan aku kasih cubitan mematikan. Wedeeeh.
Begin...
Senin jadwal kuliah lumayan full, dari jam sembilan sampai jam lima sore. Ada jeda istirahat pukul sepuluh lewat empat puluh menit sampai pukul satu tepat. Dari hari yang full itu aku berpikir akan mempunyai hari lengang, santai di Hari Selasa, untuk kemudian kuliah lagi di Hari Rabu. Alhasil, saya bertekad menggunakan hari Selasa (10/10/2017) ini untuk benar-benar fokus merampungkan skripsi. Semoga si Black (seperangkat komputer) bisa diajak berkompromi.
Tetapi, manusia hanya pandai merencanakan sesuatu. Yang terjadi hari ini adalah Kes Rèngkes (Beres - beres, Red). Di rumah, ada aku, Bapak dan Mbak. Sedangkan yang lain tengah berkerumul dengan kesibukan masing-masing. Jadilah aku dan Mbak diminta dengan kerelaan hati untuk membantu Bapak beres-beres. Merapikan berupa barang elektronik, membedakan mana yang akan menjadi rongsokan dan dijual dan mana yang masih bisa diservis. Seabrek barang elektronik itu kami keluarkan dari sebuah kamar yang selama ini kami umpamakan sebagai gudang.
Jadi begini, di rumah kami terdapat tujuh kamar dengan bentuk rumah U. Yang ada ditengah, artinya di bagian dasar huruf U ada sebuah kamar. Sedang keenam kamar berhadap-hadapan berejejer kedepan, di sebelah kanan dan kiri kamar tengah. Nah, rumah tua ini cukup luas. Saat aku masih kecil, bagiku sangat luas. Namun karena sudah tidak terawat dan usia rumah yang memang sangat senja, akhirnya tiga kamar di timur tidak ditempati selayaknya kamar. Lagipula tiga saudaraku telah berkeluarga. Dan beberapa tinggal di kostan karena sedang menjalani studi. Tinggallah Bapak, Ibu, aku, adik, ponakan dan Mbak yang sebentar lagi juga akan menikah dan diboyong suami. Meski begitu kami tidak menempati kamar bagian timur, tapi bagian barat. Alhasil sebuah kamar di bagian timur dijadikan sebagai tempat gudang. Dan dua kamar tidak terpakai dan terawat. Padahal, dalam Islam, kita dianjurkan untuk tidak membuat rumah dengan kamar yang berlebih, semua kamar harus digunakan akan tidak ditempati makhluk astral. Demikian Islam begitu memperhatikan kehidupan para pemeluknya.
Kemudian, dari mana barang-barang elektronik bekas sebanyak itu?
Bapakku, selain bertani, memperbaiki listrik yang korslet, juga mampu menyervis barang-barang elektronik. Itu adalah pekerjaan utama Bapak sejak ia menikahi Ibu. Beliau mempelajarinya secara otodidak. Untuk kemudian bertemu dengan teman sekaligus guru yang makin menambah amunisi ilmu yang beliau punya. Aku sendiri pernah mendapat mata pelajaran mengenai Tehnik Elektro saat duduk di bangku kelas sepuluh Madrasah Aliyah. Aku dibuat pusing tujuh keliling lapangan bola voli oleh pelajaran itu.
Setiap tahun kami membereskan barang elektronik yang telah menumpuk ini. Maklumlah, bisa jadi setiap hari Bapak membawa TV baru (baru dari pelanggan ataupun yang lain maksudnya, kalau TV-nya ya tetap bekas) ke rumah. Apalagi jaman dulu, saat jasa servis ini begitu populer Bapak akan lebih banyak mendapat TV baru pelanggan untuk sekedar diperbaiki, atau diperbaiki dan dijual kembali. Sekarang, meski sudah tergilas perkembangan jaman, jasa ini tetap dicari. Sering banyak TV yang dijual dalam bentuk rusak oleh empunya yang kemudian Bapak servis dan dijual kembali ke orang lain, tentunya. Karena sang empu sudah memiliki TV baru yang lebih bagus dan canggih. Sering juga Bapak membeli TV bekas dan rusak untuk diperbaiki dan dijual---namun ternyata tidak kunjung bisa diperbaiki. Rugi, tapi Bapak terlihat menerima semua risiko dengan lapang. Alhasil inilah yang menjadi salah satu penyebab menumpuknya barang elektronik di rumah.
Meski tak sepopuler dulu, seperti yang sudah ku sampaikan bahwa beberapa orang masih berdatangan ke rumah untuk memperbaiki barang elektroniknya. Dulu, dengan perantara menjadi penyervis elektronik inilah hingga pada akhirnya Bapak mampu menafkahi keluarga dan membangun rumah berkamar tujuh itu. Karena memang, Bapak memulai hidupnya dari nol. Sebenarnya tidak benar-benar nol, karena sebelumnya mereka telah di beri sepetak tanah yang cukup luas dengan sebuah gubuk dari bambu untuk berteduh oleh orang tua Ibu.
Dengan mendengar cerita Ibu, bagiku Bapak adalah orang yang bertanggung jawab, mudah bersyukur, pekerja keras dan tidak mau dikasihani. Butuh kemauan yang kuat hingga akhirnya gubuk itu berubah menjadi sebuah rumah yang cukup besar kala itu. Bapak berpayah-payah mengangkut pasir dan lain-lain agar menghemat biaya yang dialokasikan untuk tenaga kerjanya, alias tukang. Rumah yang menjadi saksi bisu Bapak dan Ibu membesarkan kedelapan anaknya dengan penuh cinta dan kasih.
Kini, rumah itu sudah begitu tua. Tidak hanya barang elektronik yang kita rapikan, kemudian beberapa dijual. Akan tetapi dua kamar lain juga kami bersihkan, sebersih-bersihnya. Satu adalah kamar masa kecil hingga remajaku. Ku pandangi walpaper dinding yang dulu aku buat sendiri. Betapa banyak kenangan yang akhirnya meloncat-loncat dalam benakku. Sedang kamar yang satu lagi adalah kamar Kakak Laki-laki yang kemudian diwariskan ke Mbak. Di dindingnya, masih tertempel kaligrafi yang ia buat sendiri bertahun-tahun silam.
Duh, semua kenangan masa kecil seolah tergambar jelas. Sekarang aku (bisa dikatakan) sudah besar. Menghadapi kenyataan-kenyataan yang mungkin dulu tidak pernah mampu aku terka. Aku ingat, setelah ini aku harus kembali merampungkan skripsi. Salah satu kenyataan (kecil) yang harus aku hadapi. Semoga Allah merahmati. Memudahkan urusan-urusan dunia kita, yang nantinya mampu mengantarkan kita ke rumah terbaik di akhirat kelak. Aamiin.
Dan, kalau semisal skripsiku tidak selesai-selesai (naudzubillahimindzalik), sungguh, jangan salahkan dospem-ku. Semua ada pada diriku, pada tekadku. Aku sampai karena berpikir bahwa kampus adalah akhirat dan rumah adalah dunia. Sebab, saat di kampus aku begitu semangat untuk mengerjakan skripsi, sedang di rumah: ada saja yang harus aku kerjakan selain skripsi, meski hampir tidak pernah nonton TV dan jarang sekali nonton Film apalagi main game seperti saat masih di MTs dulu. Karena itulah, saat di rumah, aku berpikir sedang berada di dunia yang membuat aku lupa akan akhirat (kampus dan skripsi). Naudzubillah, semoga doa-doa mampu menjadi peluru yang bisa membunuh pikiran-pikiran dan perilaku-perilaku yang sia-sia. Semoga kes rèngkes dan lain sebagainya tidak menjadi hal yang sia-sia. Agar suatu hari nanti, aku yang bisa menafkahi dan membangunkan rumah yang nyaman untuk Bapak dan Ibu di dunia dan akhirat. Akhir kalimat, semoga Allah mudahkan. Rabbishrahli shadri wa yassirli amri wahlul uqdatammil lisani yafqahu qauli.
0 komentar