Dibismillahin Ajalah

Setelah ku ingat-ingat, ternyata aku sudah aneh sejak dulu. Maksudku, bukan aneh dalam artian sebenarnya. Mmm, apa ya? Mungkin lebih kepada ketidaksesuaian. Apanya yang tidak sesuai? Begini. Aku tidak suka Aritmatika tapi dulu masuk Jurusan IPA. Padahal sebenarnya aku teramat ingin menduduki bangku kelas jurusan Bahasa. Tapi kala itu Kakak memberiku dua pilihan; 1. Masuk Jurusan IPA, 2. Masuk Jurusan Agama.

Iya, dulu di MAN Model Bangkalan, sekolah menengah atas tempatku menggali ilmu---terdapat empat jurusan, yakni Jurusan IPA, Jurusan IPS, Jurusan Bahasa dan Jurusan Agama. Akhirnya, dengan agak terpaksa aku memilih masuk ke Jurusan IPA. Meski sebenarnya aku ingin belajar Bahasa Inggris dan Bahasa Jerman dengan guru-guru yang hebat. Kala itu aku belum begitu paham, jika agama amat penting. Tapi aku beranggapan saat itu bahwa aku tetap akan mendapatkan pelajar agama lebih karena merupakan sebuah Madrasah Aliyah.

Sebelumnya aku juga diberi tiga pilihan ketika aku mengungkapkan ingin melanjutkan di salah satu sekolah favorit, SMA 1 Bangkalan. Saat itu aku juga belum mengerti betapa pentingnya pondasi ilmu agama. Yang aku ketahui aku sedikit merutuki pilihan yang kesemuanya hampir tidak mau aku pilih. Pilihan itu; 1. Melanjutkan pendidikan di MAN Model Bangkalan, 2. Melanjutkan pendidikan swasta dekat rumah dan 3. Tidak usah sekolah. Dengan berat hati aku memilih opsi pertama, yang kini begitu aku syukuri adanya.

Aku rasa aku amat menyukai Bahasa Inggris. Itulah kenapa aku ingin sekali masuk Jurusan Bahasa. Disana tidak hanya mempelajari Bahasa Inggris dan Bahasa Jerman, namun juga Bahasa Arab dan Bahasa Madura.
Namun ternyata ada kabar baik. Bahwa di Jurusan IPA juga sangat mengedepankan Bahasa Inggris. Kita diharuskan mempelajari ratusan vocabularies tiap minggunya. Meski tak mudah, kabar ini benar-benar membuatku bahagia karena aku menyukai Bahasa Inggris. Tapi sayang, karena tidak aku praktikkan, akhirnya hafalan ratusan vocabularies itu hilang entah kemana.
Aku, kala itu, ingin sekali masuk ke jurusan yang aku inginkan. Karena aku tidak ingin menjadi ikan yang dipaksa untuk terbang. Aku bukan jenis ikan Indosiar.

Tapi ternyata tak sampai disitu. Menjelang pendaftaran kuliah, aku lagi-lagi diberi pilihan. Pertama, kuliah akademi kebidanan di Bangkalan dan kedua, melanjutkan ke jurusan Agribisnis di Universitas Trunojoyo Madura.
Duh, keduanya adalah pilihan yang pelik. Aku tidak menyukai dan tidak mengerti kedua-duanya. Namun pada akhirnya aku memilih pilihan kedua.

Karena pilihan-pilihan pelik yang berseberangan dengan minatku itu, aku jadi terbiasa nyebrang, mencari tantangan. Seperti kini, aku mengambil mata kuliah pilihan yang didominasi dengan aritmatika dan menghitung di semester tujuh ini. Padahal aku amat sadar, jika aku tidak menyukai mata kuliah sejenis itu. Aku merasa tak handal di bidang hitung menghitung, rumus dan angka-angka. Namun karena seringkali kenyataan yang ada berseberangan, aku akhirnya memilih mata kuliah itu. Saat yang lain bilang, "Itu susah," aku jadi makin penasaran seperti apa susahnya.

Mata kuliah semacam itu aku akali dengan senantiasa duduk di bangku paling depan, aku sedikit banyak mudah memahami apa yang diajarkan. Tahukah kau? Ada dua hal yang sering membuat aku terlihat pintar, katanya. Yang pertama, karena aku seringkali tidak menoleh dan bertanya jawaban saat ujian. Aku terlihat khusyuk mengerjakan. Padahal sebenarnya, kebanyakan jawaban aku karang begitu saja, daripada harus menyontek. Kedua, karena aku acapkali terlihat duduk di kursi dan bangku paling depan. Padahal itu hanya karena agar aku mudah memahami pelajaran. Karena aku juga sadar, aku tidak memiliki kemampuan mencatat dan menghitung lebih cepat dari yang lain. Oleh karenanya, duduk di depan seolah memeberiku keajaiban. Meskipun banyak terpelongo, karena duduk di depan jadi banyak juga yang nyantol.

Dari sedikit uraian di atas, yang terbaru adalah saat aku harus menentukan topik skripsi. Aku yang tidak memahami topik perihal perdagangan internasional justru amat ingin mengambil topik tersebut. Awalnya dilanda keraguan. Namun akhirnya dibismillahin ajalah. Semoga Allah memudahkan setiap urusan. Mengingatkan kita senantiasa akan kemudahan yang hanya terletak pada ridlo-Nya. Aamiin.

Aku tidak ingin menjadi ikan yang dipaksa untuk terbang. Karena aku hanya ingin Allah menunjukkan jalan yang terbaik untukku. Jalan orang-orang yang beruntung. Karena tidak ada yang lebih tepat jika sudah Allah yang memilihkan jalan untuk kita.

0 komentar