Aku seperti Laras yang mengagumi Shinta. Laras adalah salah satu tokoh dalam novel yang berjudul Aurora di Langit Alengka karya Agus Andoko. Dia begitu mengagumi Shinta. Sama sepertiku. Aku mengagumi seorang wanita yang ku anggap sebagai seorang Shinta. Dia wanita yang amat aku cinta sayangi. Dia juga yang meminjamkan novel itu padaku. Dan puluhan novel lain.
Dia adalah sosok yang begitu sederhana. Dia bak Kartini yang tidak pernah terlampau bangga hanya karena keturunan orang terpandang. Dia, dalam catatan pendek ini harusnya ku panggil dengan kata "beliau" tapi dia pasti akan menolak. Eh, ini kan perihal Shinta. Kenapa bawa-bawa Ibu Kartini? Hihihi.
Dia itu orangnya moderat dan toleran, namun berusaha untuk tidak meninggalkan ajaran-ajaran fitrah dalam Islam. Salah satunya, bisa dilihat dari banyak dan beragamnya teman yang dia rangkul. Juga dari tutur kata yang dia alirkan lewat jari jemari maupun lisan.
Dia ibarat kata telah melalui banyak pahit manis kehidupan dengan amat tangguh. Ketangguhan yang diajarkan oleh Sang Ibu.
Meski telah mencicipi berupa makanan mahal di restoran, dia tak sungkan jika hanya makan dengan ikan asin. Sesekali berceloteh riang, "Aku suka kepalanya!". Entah, benar adanya atau itu adalah caranya menghargai kehidupan.
Dia juga kritis. Dia pendiam. Namun sekali bicara seseorang justru akan terdiam. Pernah seorang teman kampusnya yang memang tidak akrab nyinyir berkata, "Kamu tuh ya. Ke kampus pakai rok mulu. Memangnya ga malu? Ndeso banget". Dengan kalimat semacam itu dia hanya mampu terdiam bersabar. Hingga akhirnya kalimat serupa di waktu yang berbeda untuk kesekian kalinya membuat dia angkat bicara: "Memangnya kenapa kalau aku pakai rok? Aku ini dari pesantren. Kalau bisa aku akan mengenakan sarung kesini". Sontak jawaban ini membuat wanita itu tersipu begitu malu.
Baru-baru ini saat buah hatinya menjalani opname di sebuah RS dia mengeluarkan karakternya. Kala itu dia hendak keluar. Namun Satpam melarang dan berkata dengan galak: "Mau kemana, Buk? Kalau mau keluar jangan masuk ke dalam lagi ya!" kira-kira begitu kalimatnya. Akhirnya, Shintaku itu menjawab: "Saya hanya ingin membeli sesuatu. Saya tidak akan membawa rombongan tamu. Kalau saya tidak diijinkan masuk lagi, memangnya sampean yang mau menyusui anak saya?". Tak pelak jawaban ini membuat Satpam itu skakmat dan membukakan pintu.
Wawasannya juga luas. Kala berkumpul dengan keluarga dan bercerita, dia menyimak dan sesekali ikut tertawa. Kadangkala dia menimpali cerita dengan kisah-kisah menarik yang dia punya. Entah ia kutip dari berbagai artikel, buku atau pengalaman. Dia selalu punya bahan untuk dibagikan dengan cara yang elegan. Dengan cara yang rendah hati.
Dan sifat rendah hati seringkali hanya bisa dilihat oleh orang lain, bukan diri sendiri.
Omong-omong tentang keluarganya yang terpandang, tidak pernah ia ungkit-ungkit. Barang hanya sekelumit. Biarlah hidupnya mengalir apa adanya. Dia hanyalah seorang hamba. Begitulah yang bisa aku simpulkan dari sorot matanya. Juga gerak geriknya.
Aku saja, kadangkala masih manja. Ya, iyalah, memangnya kamu sempurna?. Saat bersih-bersih aku seringkali milih-milih. Merasa jijik, dan sebagainya. Tapi siapa sangka. Dia dengan segala yang dia punya bahkan lebih telaten dari orang kebanyakan. Merawat siapapun tanpa tebang pilih. Apakah itu kandung atau tidak. Dia melakukan dengan sepenuh hati. Tanpa ingin dibilang itu ini.
Dalam perkataannya, dia selalu bilang tidak bisa. Namun justru itu membuatnya makin terlihat bahwa dia bisa segalanya. 'Segala' untuk ukuran seorang manusia.
Dia juga amat dermawan. Memberi tanpa berharap seuntai balasan.
Jangan tanya apakah dia pandai memasak. Karena meski ia lulusan Ekonomi, masakannya selalu enak.
---
Saat mengalami pembuangan ke Hutan Dandaka, (Hehe, tak tahu adat betul aku, ya? Rumah orang dikatain hutan) dia menjalani dengan penuh suka cita. Jadi, siapakah laki-laki beruntung itu? Siapakah sang Rama?
Rama. Dalam penglihatanku, kebaikannya yang jumlahnya jutaan itu selalu tertutupi dengan perilaku yang kadang menyebalkan. Ya, bagiku dia kerap menyebalkan. Tapi kalau mau ditelaah lagi, dia juga mendekati kriteria laki-laki sempurna. 'Sempurna' untuk ukuran manusia biasa (bukan Rasul, Nabi, dll). Bukankah sudah ku bilang dia juga melakukan berjuta kebaikan.
Kalau mau di gali dan di pahami, Rama memiliki banyak kesamaan dengan Shinta. Rama adalah orang yang berkalilipat lebih kritis. Dia juga sederhana karena memang (Rama yang ini) tumbuh dari kelurga yang sederhana. Dia juga telah merasakan banyaknya getir kehidupan.
Rama juga memiliki banyak teman dan dia juga dermawan. Meski lelaki, dia pandai memasak. Dia memiliki wawasan dari pengalamannya yang luas. Rama tidak mudah jijik dan seorang pekerja keras.
---
Aku sadar, dia (Shinta yang ini) hanyalah manusia biasa. Yang tidak akan pernah luput dari salah dan dosa. Tapi tetap saja. Aku seperti Laras yang mengagumi Shinta.
Bangkalan, 2 Juli 2017 - 01:05 WIB
0 komentar