Menjadi orang tua bukan hanya tentang kemampuan untuk mencukupi sandang, pangan dan papan anak-anaknya. Tapi bagaimana membuat sang anak selalu bermimpi untuk meraih ketaqwaan. Karena kebahagiaan sejati bagi seorang hamba adalah saat dekat dengan Tuhannya.
Mungkin kita pernah melihat, kedua orang tua yang mampu mencukupi permintaan anaknya saat menginginkan baju. Karena mampu, orang tua tersebut tanpa babibu akan membelikan apa yang diingankan sang anak. Pun saat anak dengan mudah memperoleh mainan dan barang lain yang mereka minta. Kita akan melihat, bahwa orang tua seperti itu telah mendidik anak dengan amat benar karena membahagiakannya. Namun siapa sangka, mereka ternyata mengajarkan kemudahan pada sang anak. Mereka mudah mendapat apa yang mereka mau. Tanpa ada usaha lebih. Atau mungkin, orang tua telah mengajarkan pada sang anak untuk bisa membeli apa saja meskipun barang yang dibeli bukan barang 'kebutuhan'. Melainkan barang 'keinginan' semata.
Kita mungkin juga pernah menemui orang tua yang mampu memenuhi perut anak-anak mereka dengan makanan, tanpa memperhatikan halal tidaknya uang yang pakai untuk membeli. Padahal, orang tua perlu begitu waspada dan hati-hati terhadap apa yang masuk kedalam perut anak-anak mereka, yang nantinya akan menjadi daging dan mengalir menjadi darah. Ini yang juga akan menentukan kesalehan dan ketaqwaan seorang anak. Maka jangan heran jika anak kita nakal. Muhasabah diri. Barangkali ada yang salah dengan nafkah yang didapat selama ini.
Pernahkah kita mendengar sebuah kalimat yang kurang lebih berbunyi, "Sebuah keluarga yang bahagia tidak hanya identik dengan rumah yang kokoh, anak-anak yang lucu, istri idaman dan lain-lain. Karena hakikatnya, keluarga adalah tempat dan jalan untuk bersama-sama membangun rumah di surga." Itulah mengapa, keluarga tidak melulu tentang memaksakan kehendak untuk memiliki rumah mewah nan megah. Atau memiliki istri dan keturunan yang sehat. Melainkan akan selalu ada ujian, agar nantinya bisa menggapai Jannah bersama-sama. Meski memang, sebagai hamba yang biasa-biasa saja, akan menjadi berat untuk menjalani sebuah ujian. Untuk itu, marilah belajar menjadi hamba yang lebih dari biasanya. Hanya lebih, bukan luar biasa.
---
Menjadi orang tua adalah tentang bagaimana seseorang mampu memberikan pendidikan karakter dengan mengimplementasikan karakter. Karena seorang anak lebih suka mengikuti daripada digurui.
Aneh jika orang tua memerintahkan sang anak untuk bertaqwa tapi orang tua malah enggan. Walau kadang dalam beberapa kasus justru anak yang menyadarkan orang tua.
Juga banyak kita temukan, orang tua yang terlalu sibuk mencari sandang, pangan dan papan untuk anak-anaknya hingga lupa untuk memberikan asupan karakter pada anak-anaknya. Mereka lupa justru itulah hal yang begitu krusial. Kenyataan seperti ini tentunya membuat kita amat prihatin.
---
Dulu saat Ibu ingin membantu Bapak dengan berjualan di pasar, Bapak melarangnya. Kata Bapak, biarlah beliau yang sibuk mencari nafkah. Agar Ibu bisa dengan optimal mengaduh anak-anak dengan baik, kasih sayang dan berbudi luhur. Dari awal Bapak memang tidak pernah mengizinkan, hingga sekarang. Karena demikianlah alasannya.
Meski begitu, juga ada orang tua yang sibuk mencari nafkah, namun tetap mampu mendidik dan memberikan kasih sayang untuk anak-anak mereka. Maka, hebatlah seseorang yang mampu menjadi sebenar-benarnya orang tua.
Aku sendiri sama sekali belum siap untuk menjadi orang tua yang mumpuni. Karena, bukan perkara yang main-main untuk bisa menjadi orang tua. Ya, memanglah tidak mudah, tapi semoga selalu dimudahkan oleh-Nya.
Yang perlu diingat, menjadi orang tua bukanlah sebuah lomba lari. Melainkan garis yang telah ditakdirkan oleh Illahi.
Terus berdoa agar senantiasa diberikan kemudahan untuk menempa diri dengan ilmu. Agar kelak mampu menjadi orang tua yang bermutu.
InsyaaAllah.
0 komentar