Kenapa?

Banyak (lebih dari satu) yang bertanya kepadaku, kenapa berhenti memposting tulisan di Facebook. Banyak alasan yang akhirnya membuatku begitu. Pertama, karena aku bingung dengan esensi niat. Aku takut niatku tidak benar-benar beres. Padahal awal niat untuk memposting curhatan panjang di Facebook tak lain tak bukan hanya untuk berbagi pesan moral. Khususnya untuk keluarga yang membaca.

Kedua, entah ini hanya perasaanku atau tidak. Tapi semenjak aku membuat status panjang seperti itu, aku seringkali di sebut-sebut di dalam kelas oleh dosen-dosen yang berbeda. Mendadak beberapa dosen jadi mengenalku. Dan sungguh, aku tidak suka menjadi sorotan. Sampai-sampai suatu saat aku diminta oleh seorang dosen untuk membuat status mengenai apa yang aku pikirkan di pagi hari kala itu. Aku sampai harus bertanya dua kali pada beliau, memastikan apakah permintaan itu sungguhan. Akhirnya saat kuliah berakhir, di waktu senggang aku membuat status dengan perasaan sungkan.

Sebelumnya, di dalam kelas, aku cekikikan dengan Evi (nama lengkapnya Siti Luthfiyah). Aku bilang padanya, "Duh, Vi. Malu aku. Prestasiku bikin status di FB. Hahaha." Tawa Evi akhirnya ikut pecah. Padahal kuliah belum berakhir.

Ketiga, beberapa dosen beberapa kali mengomentari statusku. Mungkin itu adalah hal lumrah untuk sebagian orang. Tapi bagiku tidak sopan saling berkomentar dengan guru dan aku merasa sungkan. Memang, senang hati karena ada semacam apresiasi. Tapi tetap saja, hati kecil merasa sungkan, dan sebagainya.
Pernah tulisan terakhirku dishare oleh seorang dosen favoritku yang tengah menjalani kuliah doktornya. Beliau adalah salah satu dosen favorit sejak aku belajar di prodi yang ku jalani. Dan beliau membagikan tulisanku di dindingnya? Oh, Tuhan! Aku tak percaya. Tapi saat seperti inilah aku akhirnya merenung. Perasaan senang macam apa ini? Akankah niat dikotori?

Alasan keempat, karena kadangkala aku berpikir, aku bahkan tidak mampu melaksanakan pesan moral yang aku bagikan. Tapi, bukankah aku memang hanyalah manusia yang tidak sempurna? Allah hanya menutup aib-aibku dengan sempurna. Jadi apa salahnya memperingati, memperbaiki diri seraya berbuat kebaikan dengan menyampaikan pesan moral pada yang lain?

Yang terakhir---atau mungkin ini bukan yang terakhir, karena di dalam benakku masih banyak berkerumul berbagai alasan---karena aku takut itu akan mempengaruhi penilaianku di perkuliahan. Tulisanku yang payah akan membuat nilaiku juga jelek. Hehehe (Untuk yang ini aku hanya bercanda, meskipun pas dibaca berulang-ulang kok tetap tidak lucu, ya? Hzz)

Atas semua alasan itu, aku kerap menegaskan. Kalau niat memang baik kenapa harus ada alasan!
Lanjutkan! Teruslah menulis, seperti apa yang diungkapkan salah seorang dosen. Teruslah menebar kebaikan. Toh, kita tidak berlomba-lomba untuk terlihat bijak di mata manusia. Tapi kita berlomba-lomba berbuat kebajikan dengan sesama muslim. Tingkat ketaqwaanlah yang justru membuat kita iri dengan cara yang baik.

Wallahua'lam.

0 komentar