8

Mbak Ha, begitu aku biasa memanggilnya. Sebenarnya dalam bahasa Madura Mbok Ha. Mbok berarti kakak perempuan. Dia itu kakak tertua. Dulu senang sekali kalau lebaran sudah tiba. Memakai baju baru pemberiannya. Mbakku yang satu itu memang dewasa karena juga seorang sulung, tapi kadang dia bertingkah seperti anak-anak. Dan itu lucu. Ia juga amat polos dan mudah kasihan pada orang. Saat membaca tulisanku--tertentu--ia kerap menangis. Juga saat membaca tulisan perihal orang tua, air akan mengalir deras di ujung matanya. Ia kerap bilang, "Enak kamu, Lut. Kuliah di Madura, tinggal sama Ebok Bapak." Padahal anaknya sudah dua, tapi mengaku selalu rindu orang tua. Dalam hati aku berceloteh, suatu saat aku akan hijrah ke luar negeri untuk beberapa waktu. Demi menimba ilmu. Ingin merasakan apa itu rindu.
Suaminya berasal dari Tuban, jadi Mbak Ha fasih berbahasa Jawa. Sebenarnya bukan itu juga penyebabnya, karena sebelumnya Mbakku itu telah merantau di tanah Jawa. Itu yang juga membuatku sedikit mengerti bahasa yang satu itu.

Josop. Begitu kami memanggilnya. Tapi aku memberinya nama pena Kak Ucup. Ia orangnya stay cool dan kritis. Kritis komentarnya kala menonton news.
Ia yang kerap membelikan kami barang-barang elektronik yang dikiranya bermanfaat seperti komputer. Kak Ucup orangnya agak cuek, beda dengan saudaranya yang lain yang lebih pecicilan, tidak sungkan tertawa. Dia orangnya serius. Tapi kini seiring berjalannya waktu, Kak Ucup justru makin terbuka. Makin ramah dan suka tertawa. Seperti yang lain, juga suka membikin humor. Humor seakan telah mendarah daging dalam keluarga kami, hehe.
Kak Ucup kerap mengatakan pada kami nasihat-nasihat yang begitu melekat seperti; jangan unggah foto di media sosial, jangan tertawa terbahak-bahak, dll. Kami sering mangut-mangut, juga sering tidak mematuhi.
Kak Ucup bisa berbahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Sunda dan sedikit bahasa Mandarin. Dia juga bisa berbahasa Jawa dan Madura, wkwk.

Rudden. Keluarga memanggilnya begitu. Nama pena untuknya: Kak Udin. Aku acapkali bertanya. Kenapa bukan Kak Udin saja yang berkuliah di prodi Agribisnis. Dia suka menanam, dia suka berjualan, dia pekerja keras, dia tidak mudah jijik, dia tidak gengsi, dia pintar, dia multitalent, dia dermawan, dll. Dia dulu pandai membuat komik bergambar, dia selalu juara kelas, dia sederhana, dll. Dia sempurna untuk ukuran seorang mahasiswa Agribisnis. Dia sempurna untuk ukuran seorang pria jaman sekarang. Tapi, yang paling aku takutkan, saat dia marah. Diam dalam kemarahannya. Itu benar-benar menyeramkan. Aku sungguh takut. Ini terjadi saat aku atau siapa saja tak sepaham dengannya.
Kak Udin juga kerap memberikan petuah seperti; hapus foto di sosmed, jika mau pacaran--Kakak nikahkan, dll.
Kadang dia amat open minded atau bahkan sebaliknya. Entahlah. Selebihnya, dia begitu kocak, suka act out aneh. Hehe, itu juga kebiasaanku, Mbak Ais, Tomato dan Rohman sih.

Kak Wahed. Aku dan yang lain memanggilnya demikian. Padahal namanya Abdul Wahid.
Kak Wahed orang yang sabar. Ia satu-satunya Kakak yang hampir tidak pernah marah. Dia suka membantu keluarga juga teman-temannya. Saat masih kecil, aku ingat sekali, Kak Wahed kerap mencuci piring, mencuci baju, dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Meski laki-laki ia amat ingin meringankan beban orang tua. Seperti Kakaknya yang lain ia juga sering membantu Bapak.
Dulu, Kak Wahed jago Matematika. Ga tahu deh sekarang, hehe.
Kak Wahed itu baik banget. Kalau ia pulang, kita akan bersorak gembira dan menyerbunya. Ia kerap membatu tanpa pamrih.
Saat kecil, Kak Wahed suka sekali main layang-layang. Layang-layang banyak sekali. Entah hasil buatan tangannya sendiri atau hasil kemenangan bertanding dengan lawan-lawannya dari hari ke hari. Saat aku masih sangat belia, aku ingat Kak Wahed selalu menang kala bermain apapun. Seperti bermain remi yang hadiahnya karet gelang, bermain kelereng, dsbgnya. Kak Wahed dimataku kala itu sangat luar biasa. Hahaha.

Mbak Ais. Keluarga memanggilnya Isa. Berasal dari kata Aisyah. Aku kebiasaan memberinya nama pena Mbak Ais.
Seperti saudaranya yang lain, saat SD ia didelegasikan untuk mengikuti lomba mapel. Jika Kak Wahed Matematika, ia IPA. Kalau Mbak Ha, Kak Ucup dan Kak Udin aku lupa mapel apa. Yang jelas, dulu Mbak Ais itu lebih sering ikut lomba dari saudaranya yang lain. Di diniyah ia juga sering mendapat juara. Mungkin aku pernah bercerita, jika aku selalu tanpa sadar mengikuti jejaknya. Seperti gemar mengedit foto dan lain-lain. Inilah yang membuatku ingin sepertinya, mewakili sekolah untuk lomba mapel IPA. Tapi aku malah didelegasikan untuk mengikuti lomba mapel agama. Kala itu aku sempat berpikir, itu adalah pelajaran yang gampang dan tidak keren. Ternyata sekarang aku malah sangat bersyukur.
Dulu, aku dan dia seperti bumi dan langit. Dia dengan segala prestasi dan aku yang selalu tak percaya diri. Sekarang? Tau deh. Hehe.

Aku. Keluarga biasa memanggilku Lut. Nabi Isa lalu Nabi Luth. Hoho.
Sedang kerabat, kadang kala memanggilku Lulu'. Di SMA aku dipanggil fia, Lutfia, juga Lut. Di Kampus aku sering dipanggil dengan nama lengkap, Lutfiyah dengan pelafalan: Lutfiyah. Dulu di tempat les, aku dipanggil Lutfi. Bapak sampai bingung, saat seorang teman menelfonnya dan mencariku dengan panggilan itu. "Anakku kan bukan cowok," gumamnya pura-pura sebal tidak terima. Nama panggilan lain saat les adalah Cartoon. Konon aku mempunyai seribu ekspresi. Aku juga bingung seperti apa. Entahlah, meski awalnya bingung, pada akhirnya sudah merasa biarlah.
Pernah ku bilang, penulisan Lutfiyah sebenarnya adalah Luthfiyah karna memakai huruf Tha' dalam bahasa Arab. Adapun aku lebih suka di panggil Lutfia, dengan pelafalan Lutfia agar lebih enak didengar. Tapi terserah yang memanggillah. Nama tetaplah kembali pada nama awal mula diberikan, semoga menjadi doa. Huhuhu.
Eh, bahas nama aja lama banget dah.
Aku seseorang yang biasa-biasa saja. Tidak seperti saudaraku yang lain. Aku sulit memahami Matematika. Aku juga tidak pernah menduduki peringkat tiga besar kala SD. Di entri yang lain aku sudah pernah bercerita. Dulu, saat aku belum paham hakikat perbedaan, kelebihan dan kelemahan, aku sempat sedih mengahadapi kenyataan itu.
Saat SD, aku amat pemalu. Kemana-mana malu dan tidak percaya diri. Diperparah dengan adanya seorang teman yang selalu saja membully. Aku hanya tidak akan malu pada saat diminta untuk maju kedepan kelas, untuk bernyanyi, berpuisi dan berpidato. Hal itu dilakukan untuk penilaian. Aku juga bingung kenapa bisa begitu. Aku yang katanya amat pendiam, tiba-tiba bringas saat diminta bernyanyi di depan kelas. Meski cempreng sekalipun. Meski suka lupa lirik dan ditertawakan. Aku juga suka menggambar meski hasilnya macam cakar ayam. Untuk itulah, selain ingin mengikuti lomba mampel IPA, aku dulu juga ingin mengkuti lomba mapel Bahasa Indonesia dan lomba kesenian Menggambar. Tapi ternyata, aku diminta mengikuti lomba mapel Agama. Dan dampaknya aku syukuri sekarang.
Eh, sudahlah. Giliran cerita diri sendiri malah panjang. Kalau ga distop ga bakal berhenti ini. Ya iyalah!

Tomato (Baca: tomato, bukan seperti membaca tomat dalam bahasa Inggris.) Panggilan itu melekat padanya yang kerap ku panggil Mato. Meski namanya Matus. Pipinya yang bulat membuat aku melengkapinya dengan Tomato, walau cara bacanya tetap lurus.
Tomato sejak kecil banyak mengikuti lomba. Entah lomba bernyanyi, lomba berpidato dan lomba siswa berpretasi. Saat di SMP dan SMA juga demikian. Meski tidak selalu mendapat juara, tak apa.
Ia kuliah di usia 16 tahun. Mungkin itu yang kadang membuatnya mengeluh saat diterpa banyak tugas. Tapi bukankah sudah banyak prosfesor-profesor muda?
Tomato bisa sangat cuek, atau kadang menyebalkan karena bisa sangat cerewet. Bisa flat atau bisa sejadi-jadinya menangis karena membaca Wattpad. Hah, entahlah.
Saat masih kecil, dia sering kali mendapat juara lomba bernyanyi. Aku sering didaulat untuk melatihnya berminggu-minggu sebelum tampil. Anehnya, aku bahkan belum pernah mengukuti lomba menyanyi barang satu kalipun. Wkwk.

Abdul Rohman. Aku memanggilnya Rohman. Sedikit kisah tentangnya bisa dibaca di entri berjudul "Menjadi Seorang Hacker". Karena hari sudah sore untuk membiarkan jemari tetap bergerak sedari tadi. Belum lagi beberapa kewajiban telah menunggu untuk dilunasi. Akhir kata, semoga curhat kecil kali ini bisa menjadi ajang untukku melawan malas dan berlatih menulis. Hehe.
Moralnya apa ya?
Hmm, intinya, aku menyayangi saudaraku bagaimanapun mereka. Meski saat kecil dulu aku selalu berpikir bahwa aku berbeda,---dan ternyata setiap orang memang berbeda---aku selalu mendoakan yang terbaik untuk mereka.

Aku yakin kalian juga demikian.

||~

0 komentar