Si bungsu saat masih bayi sakit-sakitan. Setiap hari aku membantu Ibu meramu jamu. Mengambil daun senam, daun asam dan ramuan lainnya. Kemudian Ibu meracik dan meletakkannya di dahi bungsu. Airnya diminumkan. Sontak bayu kecil itu menjerit, kepahitan.
Kian hari tidak ada tanda-tanda bahwa kondisi si bungsu akan membaik. Tidak ada kemajuan. Obat tradisional maupun modern seakan tidak mempan. Anak ke delapan itu sampai direlakan oleh Ibu jika Allah ingin mengambilnya kembali. Saking tidak tega Ibu melihatnya kesakitan setiap hari.
Aku tidak terlalu ingat persisnya si bungsu akhirnya sembuh dari sakit. Yang ku ingat ia akhirnya bersekolah di sebuah SD. Ia bisa membaca bahkan sebelum masuk SD karena sudah belajar sebelumnya pada sang Kakak, adikku juga. Sejak di SD, si bungsu selalu mendapat juara kelas di kedudukan pertama. Padahal kedua orang tua tidak pernah mengenyam pendidikan yang sama. Sejak dini, ia sering didelegasikan mengikuti lomba siswa berprestasi tingkat SD dan selalu membawa kemenangan. Padahal dia tidak terlalu rajin saat dirumah. Mungkin ia sangat memanfaatkan waktu belajar saat di sekolah.
Di Diniyah juga sama. Ia selalu mendapat juara kelas dan dua kali meraih tropi murid teladan. Padahal ia belajar hanya pada saat ada ujian.
Sejak kecil saat masih SD, aku ingat sekali, si bungsu seringkali membuat prakarya. Dalam waktu senggangnya ia membuat barang-barang unik seperti miniatur motor dari korek api, atau motor dari botol plastik berlampu warna-warni, kapal lucu dari sterofom bertenaga baterai handphone bekas, teropong paduan kardus pasta gigi dan cermin kecil, traktor pegas dan lain-lain.
"Itu tugas sekolah?"
"Bukan, aku hanya penasaran ingin membuatnya."
"Tau dari mana?"
"Kalo ini tau dari buku pelajaran disekolah." memperlihatkan teropong kardus pasta giginya.
"Kalo yang lain, belajar dari Youtube."
Aku tertegun.
Memang, si bungsu amat sering menyebalkan. Tapi aku sungguh berdoa yang terbaik untuk potensi yang ada dalam dirinya.
Dalam setiap kesempatan sebenarnya si bungsu tidak selalu menyebalkan. Dia kerap membantuku.
Dulu waktu Kak Yusuf membelikan kami modem untuk internetan, Kak wahid mengajari kami untuk menggunakannya. Lalu aku tidak memperhatikannya. Hanya si bungsu, bocah kelas dua SD yang duduk di samping Kak Wahid. Hanya memperhatikan. Tapi siapa sangka ia diam-diam merekam. Alhasil, saat aku kebingungan menggunakan modem, si bungsulah yang mengajariku.
Sering juga, saat komputer selalu mati karena usia tak lagi muda. Bungsu mempreteli beberapa onderdil dan menyatukannya kembali. Dan usahanya sering berhasil. Komputer kembali nyala. Dalam hati, aku ternganga.
Aku memang pemalas. Kadang aku malas sekali men-setting handphone-ku. Mengganti kartu, mensetting internetnya dan lain-lain. Aku malas mencari tahu. Itulah aku sering menyuruh bungsu. Lalu ia langsung mengiyakan. Ini adalah kegiatan yang ia gemari. Berbeda saat ia aku suruh mengambil sesuatu di dapur, misalnya. Alih-alih patuh, ia malah mendumal sebal dan panjang.
Bungsu beberapa kali memamerkan homescreen S8 handphone S4-nya. Hasil rasa ingin tahunya.
"Nih, Mbak. Layar hapeku keren, kan? Pake homescreen S8. Hebat, kan?"
Aku hanya melirik sebentar. Dalam hati aku bergumam: "Ada-ada saja tingkahnya."
Ia membaca homescreen dengan homskren. Pelafalan bahasa Inggrisnya memang payah. Tapi hasil ujian bahasa Inggris tulis sering menghasilkan nilai yang sempurna. Ini yang membuatku selalu berkata: "Makanya, belajar baca bahasa Inggris di pendopo."
Ia juga kerap sombong padaku, bisa dilihat dari potongan kalimat: "Hebat, kan?"
Tapi hal seperti itu hanya berani ia lakukan pada Mbak dan saudaranya yang lain. Di sekolah, ia akan menjelma menjadi sosok yang amat rendah hati, santun, sopan, pendiam dan lain-lain. Aneh. Semoga lama kelamaan ia makin paham.
---
Akhir-akhir ini kudapati ia sibuk menatap layar hape. Ia sedang browsing cara menjadi seorang hacker. Di search engine google, juga youtube. Dulu, ia hanya sibuk bermain game bernama Clash of Clans.
Aku sering menjelaskan padanya. Apa itu hacker. Hukum meretas. Mempelajari ilmu hacker untuk berbuat baik, atau tentang hacker yang buruk dan harus dihindari. Aku menjelaskan setahuku. Ia hanya mangut-mangut. Sesekali bertanya. Sesekali menyela. Sesekali tidak terima. Sesekali teguh pada keinginannya. Lalu diakhir kalimat, ia berkata: "Aku ingin menjadi seorang hacker!"
Aku kira itu hanyalah bualan bocah yang kini duduk di kursi SMP. Tapi suatu saat aku agak kaget. Melihat si bungsu menyala komputer, laptop dan hape dengan akses internet secara bersamaan. Kulihat layar hitam dengan tulisan dan kode-kode asing. Seperti yang kulihat di screeshootan dosen favourite-ku yang memamerkan hasil belajar meretas-nya. Tak salah lagi. Si bungsu sedang belajar meretas. Pikirku.
"Kamu belajar ngehack?"
"Hehe, iya. Kan sudah ku bilang. Aku mau jadi hacker."
"Memangnya kamu ngerti kode-kode itu?"
"Ngga."
Aku tertawa. Lalu menjelaskan bahwa hacker itu bukan sebuah cita-cita. Si bungsu masih sibuk dengan layar komputernya.
Duh, gusti. Sebagai keluarga kita harus mendukung bakat dan potensi yang ada di setiap anggota keluarga. Juga mengarahkan ke jalan yang tepat. Jangan sampai, kemajuan teknologi membuat para pemuda gelap mata. Karena pemuda mampu mengguncang dunia. Itulah kenapa kita temui seorang hacker handal di berbagai belahan dunia hanya berumur belasan tahun. Mereka mempunyai rasa ingin tahu dan belajar yang tinggi. Sayangnya belum diarahkan dengan tepat.
Aku sendiri sebagai Kakak perempuan si bungsu, aku selalu bermimpi. Agar si bungsu bisa belajar ilmu agama dan ilmu umum secara seimbang, atau bahkan lebih banyak ilmu agama. Karena agama Islam tidak pernah mendikotomikan ilmu umum dengan ilmu agama. Aku bermimpi, si bungsu minimal seperti Ahmad Fuadi yang mengenyam pendidikan di Ponpes Gontor Darusallam. Iya, memang dimanapun sekolahnya adalah sama. Tapi lingkungan kadangkala juga ikut andil. Dengan tidak melupakan kenyamanan sang penuntut ilmu. Aku hanya ingin si bungsu menghafal dan mengamalkan isi al-Qur'an. Agar Bapak dan Ibu di mahkotai di akhirat kelak. Dalam tahap yang muluk, aku bermimpi, si bungsu menjadi seperti BJ Habibie. Namun tetap memahami dan mengamalkan ilmu agama.
Pernah aku bercerita, jika BJ Habibie di usianya sekarang pernah berkata dalam sebuah forum, jika ia sangat bersyukur bisa mempelajari ilmu pesawat dan memahaminya. Tapi ia menyesal ia tidak pernah belajar dan menghafalkan isi al-Qur'an dengan sungguh-sungguh. Itulah yang membuatnya sekarang tengah berusaha untuk mewujudkan mimpi yang satu itu.
---
Si bungsu jika ku singgung tentang pondok pesantren, ia seperti mau "melenggung". Tapi aku sadar, jika kesalehan seorang anak tidak akan pernah jauh dari doa-doa yang dilantunkan kedua orang tua, juga keluarga. Aku hanya berdoa, semoga Allah melebarkan jalan untuknya meraih cita. Semoga ia menjadi manusia yang bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Seorang bayi yang dulunya sakit-sakitan itu. Aamiin~
Bangkalan, 26 Juni 2017 - 14:34 WIB
0 komentar