Aku sudah meng-uninstalled app Instagram-ku. Juga app BBM-ku. Pun app Facebook-ku. Ini ku lakukan agar tidak terlalu update di media sosial. Kini hanya ada app Line, WhatsApp, Gmail, Blogger dan Youtube. Setidaknya aku tidak akan update status apapun disana. Ku gunakan mereka sebagaimana mestinya. Namun sehari kemudian, sebuah notif untuk memperbaharui app WhatsApp muncul di layar handphone-ku. Akhirnya, setelah lama ku pertahankan akan tidak ku perbaharui, sekarang terpaksa ku perbaharui juga. Disana ada fitur baru yang membuat kita bisa membuat status. Duh, setelah mencoba satu kali akhirnya aku tersadar jika ingin membuat status lagi. Lalu kemana usaha uninstall-ku yang kemarin?
Entahlah, kurang afdol rasanya kalau belum memfoto lantas membagikan semangkuk bakso yang tengah kit nikmati. Atau membagikan foto tugas sekolah atau kuliah yang bertumpuk lengkap dengan laptop yang masih menyala. Atau membagikan apa saja. Dimana-dimana ada status.
Aku kadang berpikir. Pentingkah? Waktuku terbuang beberapa detik atau bahkan jam hanya untuk hal yang sia-sia. Namun aku kadang berdalih. Bahwa foto yang aku bagikan tadi itu ada manfaatnya: saat membagikan foto berkumpul dengan teman misalnya, mungkin akan membuat orang lain termotivasi untuk menjaga tali silaturahim yang sama. Lagi-lagi entahlah. Innamal a'malu binniyat. Juga setiap orang pasti mampu berpikir bijak.
Belum lagu, dewasa ini apa-apa gampang yang dishare kadang hanyalah hoax atau ajakan kebencian, hasutan. Juga kadang sesuatu yang amat tidak patut untuk dibagikan. Seperti tumpukan harta, dan lain sebagainya. Aku sempat shock melihat sebuah postingan di facebook. Kakak kelas SMP yang kita tidak perlu tahu namanya, tega menshare foto temennya yang dibunuh (maaf) secara sadis. Ada dua foto, yang satu foto almarhumah yang masih cantik lengkap dengn kerudung. Lalu foto yang lain adalah penampakan tragis dan bersimbah darah. Shock sekali.
Aku kadang berpikir pentingkah sosial media jika hanya dengan pola seperti ini aku menggunakannya. Banyak berpikir tapi sulit mengimplentasikannya.
Salut mendengar ungkapan aktor ternama Reza Rahardian yang mengaku bahwa ia tidak memiliki akun sosial media satupun. Baginya, ia belum membutuhkannya. Apalagi, akan terlalu ribet jika saat ia ke restoran, kemudian pesanan makanannya sampai di meja, ia akan terlebih dahulu sibuk memotretnya lalu membagikan ke khalayak daripada langsung menyantapnya.
Yang jelas, jika kita masih mampu menggunakan sosmed dengan takaran yang pas, maka akan sedikit juga dampak negatif yang ditimbulkan. Menyambung tali silaturahim, berbagi kabar, mengais rezeki, dan kegiatan bermanfaat lainnya. Tapi memang, akan selalu berbeda tingkatan seseorang di sisi Tuhannya, saat mampu menjahui perbuatan yang sia-sia. Wallahu'alam.
*nasihat untuk diri sendiri.
Bangkalan, 26 Juni 2017 - 12:07 am
0 komentar