Kemarin aku menceritakan kisahku tentang kenek yang lagi-lagi mengambil besaran ongkos yang lebih dari seharusnya. Aku mendumal sebal, karena ini sudah keempat kalinya dalam waktu dekat. Lalu Ibu---dengan santai dan senyumnya yang manis---hanya berkata:
"Sudahlah, Nak. Kasian.."
"Tapi, Bu. Mereka tidak jujur. Aku tidak habis pikir. Hidup ini pilihan. Dan masih banyak orang yang memilih untuk bersifat jujur. Kenapa mereka tidak?," aku masih tidak terima.
"Belajarlah mengerti, Nak. Lagipula kamu kan tidak sekali dua kali menggunakan jasa angkutan." masih dengan tersenyum.
"Hmm.."
"Jika punya uang lebih, apa salahnya memberi lebih." beliau menambahkan.
Aku merenung. Dalam banyak hal aku sungguh malu pada Ibuku. Beliau selalu mempunyai pemikiran yang jauh dari perkiraanku. Wawasan beliau juga kerap lebih luas dariku berkat hobinya menonton berita.
Aku juga jadi teringat saat awal-awal kuliah. Aku menemukan beberapa teman yang menyebalkan. Akhirnya aku bercerita pada Ibu. Ini kebiasaanku dari dulu, daripada bercerita pada orang lain aku lebih suka bercerita pada Allah, diary atau Ibu.
Kala itu Ibu hanya bilang padaku:
"Sudahlah, Nak. Itu mungkin hanya perasaanmu saja."
"Tapi, Bu.."
"Mereka bukan hanya temanmu. Tapi juga saudara. Pikirkan tentang itu."
Aku juga teringat saat masih kecil dulu. Saat aku pulang sekolah dalam keadaan menangis tergugu usai dibully teman-teman. Ibu bukannya berniat mendatangi rumah anak-anak yang membully dan menghakimi orang tua mereka seperti orang tua kebanyakan, Ibuku hanya akan menguatkanku:
"Kamu kuat. Kamu tidak cengeng, Nak. Hal seperti ini tidak akan mampu mebuatmu menangis. Percaya pada Ibu."
Saat aku akan menghadapi semester enam di bangku perkuliahan, aku mengungkapkan sesuatu pada Ibu:
"Bu, aku akan lebih sibuk di semester enam ini. Aku tidak akan bisa banyak membantu Ibu lagi."
Lantas Ibu menjawab dengan santai:
"Memangnya apa yang perlu dibantu?," ucap beliau.
Begitulah sedikit gambaran tentang bagaimana Ibuku menyikapi sesuatu. Saat Bapak bercerita pada Ibu, jawabannya juga akan bernada demikian. Duh, Ibu.
***
Aneh sekali. Saat ada kasus seorang guru yang harus mendekam di balik jeruji hanya karena memperingati muridnya untuk shalat Dhuha. Aneh. Membela mati-matian anak yang sudah jelas salah. Inilah yang pada akhirnya membentuk karakter si anak. Maka, semoga kita menjadi ibu yang bijak. Karena seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya.
0 komentar