I Remember The Baloon

Seseorang yang beberapa tahun silam ku kagumi itu kini berjalan tepat dihadapanku. Membelakangiku menaiki anak tangga yang lebar-lebar. Jika ku taksir dari gerak tubuhnya, ia seperti tidak nyaman. Entah tidak nyaman dengan suasana ini, terasing, atau tidak nyaman karena merasa terpaksa. Apapun yang ia rasakan, aku malah berniat ingin menghiburnya, mengobati keresahan yang singgah di hatinya. Ah, niat macam apa ini. Setelah bertahun-tahun berlalu kenapa perasaan semacam ini muncul kembali. Aku juga tidak tahu mengapa.

Lagipula, hanya untuk sekadar menyapa saja lidahku kelu. Apalagi datang dan menghiburnya. Kemustahilan seperti itu kenapa bisa muncul dengan liar dalam benakku. Entahlah.

---

Bertahun-tahun lamanya aku berusaha menghilangkan kekaguman itu. Tentang kamu yang rendah hati, mudah bergaul dan bicara seperlunya. Meski yang lain menganggapmu orang yang terlihat 'sangar' aku justru melihatmu sebagai sosok yang amat lembut. Yes, I remember the baloon. Dan momennya. Saat kamu mengambil sebuah balon yang mengarah datang padamu dan dengan lembut mengembalikannya kepada sang empu, seorang anak kecil. Aku makin terenyuh melihat kejadian sepersekian detik itu. Mungkin terlalu berlebihan bagi beberapa orang. Tapi itulah yang aku rasakan.

---

Kamu juga humoris. Siapa yang menyangka kita punya selera yang sama. Duh, apa-apaan aku ini, dengan berani membubuhkan kata 'kita'. Baiklah, aku banyak menemui orang yang begitu humoris dalam kehidupan, tapi kenapa perasaanku tidak demikian. Hmm, lagi-lagi aku bilang perihal perasaan. Memangnya apa itu perasaan?

Pertanyaan-pertanyaan lain juga kerap menodong diriku sendiri. Pertanyaan yang masih saja tentangmu.

---

Dulu, perasaan itu sangat kuat. Aku juga tidak mengerti tingkat relatif dari 'sangat kuat'ku. Perasaan yang menjadi begitu karena ditempa oleh perbincangan panjang malam-malam. Lewat ketikan jari-jemari yang kemudian meluncur ke layar hape kita masing-masing. Eh, aku hilaf lagi memberikan kata kita. Maaf.

Perasaan yang saban waktu makin kuat karena aku merasa makin memahami karaktermu. Juga karena kamu tidak pernah melihatku dengan cara seperti itu sebelumnya. Why are you looking at me that way? Itu pertanyaan yang seketika muncul kala itu. Pertanyaan basa-basi, padahal senang tak kepalang.

Perasaan itu stuck pada saat kamu makin menghilang. Kamu tidak hilang. Tapi pesan-pesan panjangmu. Semua perlahan menghilang. Pesan berisi kalimat singkat 'mimpi yang indah' dalam bahasa asing itu menjadi pesan terkahirmu. Sesak kalbuku oleh rindu. Rindu tulisanmu. Rindu. Amat rindu. Atau jangan-jangan rindu kamu? Meski setiap hari bisa leluasa melihatmu dari kejauhan. Tapi tetap saja aku rindu.

Seiring hilangnya pesan-pesanmu, aku berusaha menghilangkan perasaan yang terpendam itu. Aku masih belum begitu paham apa itu perasaan. Atau biar ku balik, aku masih belum begitu paham perasaan apa itu. Yang aku pahami adalah aku harus lekas menghapusnya. Mengusir dengan tega kala rindu datang tiba-tiba.

Siapa yang mengira, dengan kesibukan dunia aku perlahan mulai lupa. Lupa bahwa kamu adalah orang yang pernah aku kagumi. Yang ku ingat, kamu adalah temanku. Berbulan-bulan usaha itu akhirnya membuahkan hasil. Aku benar-benar mampu menganggapmu sebagai teman biasa. Bukan menganggap aku sebagai pengagum rahasia.

Aku berhasil. Meski tak bisa ku pungkiri kamu kerap muncul dalam mimpi-mimpi. Bertamu menjelma rindu di tengah malam sunyi. Perbincangan yang dulu biasa diakhiri pada waktu ini. Setidaknya, keberhasilan itu dideskripsikan dengan; aku yang tidak lagi gugup jika harus berhadapan denganmu, tidak lagi gemetar, dan tidak lagi merasa aneh. Duh, lagi-lagi aku tidak tahu, kenapa perasaan itu bisa membuatku sampai sebegitu.

---

Bertahun-tahun berlalu. Tanpa tedeng aling-aling, perasaan itu bertamu kembali. Aneh. Darimana asalnya. Seperti dulu, aku mengusirnya dengan tega. Tapi ia mengelak. Ia tidak bergeming. Aku masih terus berusaha. Membuatnya enyah dari singgahsanaku. Menghilangnya perbincangan, fakta menarik yang diungkapkan Tuhan, juga kamu terlalu sempurna sebagai anggapan---telah cukup membuatku sadar untuk tetap berusaha mengusirnya.
Bukankah dulu aku berhasil?

---

Ia selesai menaiki anak tangga. Aku juga. Yang lain ramai sekali. Bergantian berbicara dari sana ke sini. Tapi aku sepi. Lalu bertanya pada diri sendiri, kemanakah usaha selama ini?

*potongan naskah cerpen

0 komentar