Di ligkunganku, aku tidak terlalu sering mendapati orang yang benar-benar mau menghargai tulisan. Mau melihat tulisan. Apalagi mau membaca tulisan. Tapi akhir-akhir ini ku temui beberapa sahabat, teman, dan keluarga yang mau melihat dan membaca tulisanku. Menghargai dengan doa-doa yang mereka lantunkan.
***
Jangan berharap tulisanmu akan dihargai jika kamu bahkan tidak menghargai tulisan orang lain dengan men-copas-nya. Plagiasi. Jika ingin tulisanmu dihargai, tulislah menjadi sebuah buku, lantas terbitkan. Maka tulisanmu akan dilindungi undang-undang. Menulis di sosial media dan webblog seperti ini memang penuh risiko plagiasi. Apalagi tulisan yang berbobot. Bukan tulisanku tentunya. *eh belum maksudnya. Hehe.
Hanya saja, beberapa orang ingin sekali berbagi lewat tulisan yang dapat dengan mudah dibaca semua orang. Berbagi ilmu bagi mereka adalah penghargaan yang lebih dari sekadar harga yang dipatok saat menerbitkan buku. Tapi risikonya memang tidak dilindungi undang-undang. Orang-orang yang tergerak untuk melakukan hal kecil yang dampaknya bisa jadi begitu besar.
***
Hari ini, aku dan seorang temanku berada di sebuah ruangan dengan para peserta lain. Membawa tulisan karya masing-masing demi membuat sebuah perubahan. Ajang seperti ini juga sarat dengan nuansa saling menghargai tulisan. Nuansa kompetisi yang juga menjadikan diri lebih rendah hati. Kali ini tulisan juga telah mengajariku, bahwa memang I am nothing. Adapun pelajaran itu adalah sebuah penghargaan tak ternilai.
Bangkalan, 3 Mei 2017 - 18:19 WIB
0 komentar