Aku Menangis
Sudah berapa kali ku peringatkan diriku bahwa aku berbeda dengan saudara-saudaraku. Ya, dulu aku bertanya pada ibu. Pertanyaan yang serupa dengan judul novel best seller yang kemudian difilmkan. "Ibu, kenapa aku berbeda?" Berbeda sedikit di bagian depan.
Aku telah memperingatkan diriku jika aku harus belajar lebih untuk pelajaran mengenai aritmatika. Sejak kecil, aku selalu berbeda dengan saudara-saudaraku. Aku tidak pernah berada di peringkat tiga besar di kelas saat SD. Sedang mereka bahkan ada yang peringkat satu parallel. Kebanyakan dari mereka mudah memahami Matematika.
Meski Ibu selalu bilang, jika peringkat itu sama sekali tak penting, aku tetap saja bertanya-tanya.
Saat SMA, aku menemukan cara untuk bisa mendapat nilai Kimia agar tidak sampai remidial. Aku belajar lebih keras dari biasanya. Ya, aku paham, jika orang lain mungkin hanya perlu satu sampai dua kali untuk mempelajari aritmatika, tapi aku perlu berkali-kali. Inilah yang akhirnya membuahkan hasil. Aku menjadi salah satu dari tiga orang yang tidak mengikuti remidial mapel Kimia di kelas kala itu.
---
Tapi kini aku menangis. Nilai UTS mata kuliah Ekonomi Produksi Pertanian-ku berawalan kursi. 43 saja. Semua soal uraian terisi. Tapi tidak dengan soal hitungan, kosong melompong. Kebiasaanku, aku lebih suka mengkosongkan kertas ujian ketimbang menyontek. Inilah yang membuat orang lain mengira aku bisa menjawab semua soal.
Aku paham, waktu itu sebelumnya aku tidak belajar jauh-jauh hari. Aku hanya membaca sekilas di pagi hari sebelum berangkat ujian. Padahal aku telah paham cara untuk mengatasi kelemahanku di mata kuliah menghitung. Yakni lebih banyak berlatih dibanding yang lain.
Namun mungkin karena ada beberapa hal lain yang perlu diurus, atau kebiasaan menunda, atau mungkin malas, akhirnya inilah kenyataan pahit yang harus aku terima. Pahit sekali.
Yang membuatku menangis semata-mata bukan karena nilai yang membuat pilu itu. Tapi usahaku, usaha yang benar-benar kurang optimal. Aku seperti mengentengkan mata kuliah ini. Atau mungkin aku mengentengkan kuliah ini!
Padahal Allah telah memberi kesempatan emas. Padahal ini salah satu jembatan untuk meraih mimpi-mimpi. Torehan nilai memang bukan segalanya. Tapi usaha ten plus one seperti ungkapan Mario Teguh memang ada benarnya. Agar hati tidak sampai merasa sesal yang tiada berguna. Karena diri sudah betul-betul berusaha.
Ya, aku pernah merasakan kelegaan yang amat dalam. Karena meski nilai sebuah mata kuliah saat semester lalu milikku jelek, aku telah belajar maksimal. Maksimal sesuai porsiku. Beda dengan hari ini. Aku justru menangis, semoga Allah masih berkenan memberikan kesempatan menuju kesuksesan.
Aku tahu, bahwa kelebihan masing-masing orang tidaklah sama. Seperti halnya aku dan saudara-saudaraku. Ibu yang membuatku paham. Karena Ibu seperti Albert Einstein, yang berkata bahwa semua orang itu jenius. Jangan paksa seekor ikan untuk memanjat pohon. Itu akan membuatnya merasa bodoh sepanjang hidupnya.
Aku tidak ingin terlalu memburu dunia meski nilai di kampus bisa jadi mengantarkanku ke surga. Aku hanya ingin perasaanku lega karena berusaha. Dan setelah aku menangis, perasaanku sedikit lebih lega. Sambil mengibur diri aku berpikir, hidup tak hanya sebatas ruang kelas kotak. Tapi tetap, indahnya berusaha membuatku lebih rela. Ku tatap masa depan. Ku harap di sana masih banyak kesempatan.
||~
0 komentar