Di usia yang mulai menua ini kerap terlintas pikiran-pikiran sesal. Penyelasan berlarut yang tiada guna. Atau mungkin bahan muhasabah diri yang amat bermakna.
Aku menyesal tidak pernah benar-benar menghafal, mempelajari dan memahami al-Qur'an. Padahal dia adalah obat dari segala macam jenis penyakit--dalam arti luas--yang mewabah.
Aku menyesal tidak pernah benar-benar belajar ilmu agama dengan gigih dan sepenuh hati. Padahal dulu aku mengenyam pendidikan MI, MTs dan MA dengan mudah.
Aku menyesal tidak pernah benar-benar secara kontinyu memperaktekkan bahasa Inggris. Padahal praktek adalah salah satu kunci kesuksesan mampu berbahasa Inggris.
Aku menyesal tidak pernah benar-benar mempelajari Matematika dengan giat. Padahal, apapun yang dipelajari dengan ulet dan tekad, hasilnya akan berbuah manis.
Aku menyesal tidak pernah benar-benar membaca buku sejak amat dini, meski tahu bahwa buku adalah jendela dunia.
Aku menyesal tidak pernah benar-benar menargetkan melakukan amal shalih lainnya, walau mengerti dunia ini fana.
Sungguh, banyak sekali sebenarnya hal-hal yang aku sesali. Tidak akan pernah cukup jika aku sampaikan semua disini. Namun apalah guna berlarut-larut dalam penyesalan. Lebih baik menaikkan intensitas berdoa agar Allah selalu memudahkan niat yang baik. Satu hal yang selalu ingin aku lantunkan, bahwa aku memohon bimbingan dari-Nya. Agar suatu saat nanti aku tidak sampai berkata: "Aku menyesal tidak pernah benar-benar berbakti kepada kedua orang tuaku."
Aamiin aamiin yaa Rabbal 'alamiin.
Bangkalan, 13 Mei 2017 WIB
0 komentar