Petunjuk dari Azza wa Jalla

Dari kecil entah kenapa aku sangat menyukai profesi yang berbau pers seperti reporter, wartawan dan penyiar radio. Aku tidak pernah benar-benar mengerti apa alasannya. Mengingat sejak kecil aku hanya membaca buku kala ada tugas atau ujian sekolah.

Belakangan, setelah melalui perenungan yang berangsur-angsur di waktu dan tempat yang berbeda, aku menemukan kesimpulan yang mengejutkan. Yakni, mungkin itu adalah petunjuk dari Allah. Sign yang sayangnya lalai aku perhatikan. Aku berpikiran bahwa dunia pers, kepenulisan, atau apapun sebutannya adalah sebuah jalan yang sejak lama Allah tunjukkan. Tapi aku lalai.

Kesimpulan itu bukan karena aku memiliki banyak penghargaan di bidang menulis sejak kecil. Itu terlampau jauh tarafnya. Namun kesimpulan itu berdasarkan ingatan mengenai masa laluku yang begitu sederhana. Namun sarat makna. Sarat petunjuk dari Azza wa Jalla.

Dulu, sejak SD, pelajaran yang paling aku suka selain bahasa Inggris dan TIK adalah pelajaran bahasa Indonesia. Lalu saat masih di MTs aku didaulat menjadi sie mading. Aku juga tidak paham mengapa bisa terpilih. Saat di MA aku bergabung di eskul KIR (Karya tulis ilmiah). Namun akhirnya aku keluar karena kegiatan tersebut ngadat. Beberapa tahun kemudian setelah aku lulus, banyak penulis kreatif dan menuai prestasi jebolan eskul KIR tersebut. Walaupun sebenarnya aku melepaskan kegiatan itu juga karena terbentur restu orang tua.

Itulah sedikit dasar sederhana yang membuat aku berpikir bahwa barangkali sejak dulu Allah telah menunjukkan jalan untuk menemukan passion-ku. Pikiran yang bahkan belum muncul saat aku memutuskan mendaftar di UKM Universitas LPM (Lembaga pers mahasiswa) di kampus.

Iya, dari sekian banyak yang mendaftar, mengisi formulir yang tebalnya sudah seperti LKS, hanya delapan orang yang akhirnya masuk ke tahap wawancara. *eh Enam orang jika tidak salah. Entahlah, aku lupa. Lalu di malam hari, ba'da isyak wawancara dimulai. Hingga berakhir jam dua dini hari. Bisa kamu bayangkan pertanyaan dan bentuk wawancara? Ah, sudahlah tidak penting.

Setelah itu, pada akhirnya aku harus merelakan, bahwa memang aku belum diterima. Aku tidak mengetahui pasti kebenaran berita yang mengabarkan bahwa tidak ada satupun yang diterima. Namun mereka memang mencari orang-orang tertentu. Entah seperti apa. Yang jelas, bukan sepertiku, orang yang baru ingin belajar menulis. Belajar mengenal tulisan.

***

Jika memang itu semua adalah sebuah petunjuk, semoga Allah tidak bosan memberikan kesempatan kepadaku untuk belajar. Dimanapun. Pada siapapun. Juga, semoga kedepannya lebih peka melihat sesuatu. Sedang bagiku, menulis adalah kemampuan yang bisa dimiliki oleh semua orang. Asal mampu menyekap malas dengan membaca, dan memberanikan diri untuk mulai menulis.

Duh, sering sekali gemas pada diri yang selalu ragu untuk memulai, belajar dan bergerak! Bahwa memang kesuksesan tidak akan pernah diraih hanya dengan berpangku tangan. Petunjuk dan kesempatan akan cepat berlalu seperti awan. Saat mata hati tak lagi tajam. Butuh pengasah yang membantunya bangkit dari hidup yang kelam.

Bangkalan, 13 Mei 2017 WIB

0 komentar