Seorang wanita paruh baya tetap saja menyunggingkan senyumnya dengan murah. Meski dimintai ongkos angkutan yang lebih mahal dari semestinya. Tak ada pilihan lain selain mengiyakan permintaan sang sopir. Karena jika wanita itu menunggu sopir dan angkutan lain, yang ada malah ia kesiangan. Sementara ia harus sampai di pasar tepat waktu. Para pembeli tak boleh lama menunggu. Meski sopir yang ada di depannya saat itu adalah tipikal sopir yang sebenarnya tidak ingin benar-benar menjual jasa dengan sepenuh jiwa. Terbukti, meski wanita itu telah menyutujui besaran ongkos, tetap saja sang sopir mengomel boros.
Berbeda dengan ibu-ibu dan bapak-bapak---para pedagang pengecer lain yang ku temui di hari yang juga berbeda. Mereka mendumal sebal, sebab angkot sudah ngetem sejak jaman purba. Belum lagi, mereka sudah dua kali dioper dan ini adalah angkot ketiga mereka pagi ini. Habis sudah, pelanggan mereka yang biasanya datang pagi ke pasar akan ludes karena telah berbelanja ke tempat lain. Akhirnya, aku yang disamping hanya mampu mendengar dengan prihatin. Belum lagi, besaran ongkos angkutan akan naik berkali-kali lipat jika sudah berkali-kali dioper. Menurut mereka, sebagai pedagang kecil, kadang ini tidak sebanding dengan untung yang mereka dapat. Rugi. Jika sudah begini, mereka akan bercerita tentang keluarga yang menunggu suapan-suapan nasi. Tentang anak-anak yang butuh pendidikan tinggi-tinggi. Tentang segalanya. Segalanya.
***
Dinamika kehidupan. Nasib sopir angkot. Nasib pedagang pengecer. Nasib para petani. Nasib para nelayan. Karena pemerintahan. Karena ketidakpedulian. Karena saling menyalahkan. Entahlah ~
***
[Ngemeng epe seh: || Berbahagialah, orang-orang yang selama ini merasa berandanya disesaki tulisanku (Ah, baru kali ini aku menyebut kata tulisan. Biasanya aku hanya menyebutnya oretan, curhatan dll. Karena bagiku, tulisan dan penulis itu adalah kata-kata yang begitu berat. Seberat beban hidup kalian (haha, bercanda, ya😂). Karena tanggal lima bulan lima tahun ini--insyaaAllah--akan menjadi hari terakhir aku memposting-nya di akun sosial ini. Adapun aku akan tetap memposting tulisanku di blog (hehe, promo, ya😏). O..ya, sejak MA, aku mengenal beberapa orang yang tidak pelit berbagi ilmu. Orang-orang yang diberkahi kemampuan dan tidak segan berbagi serta mudah mematri sifat rendah hati. Pun baru-baru ini. Salah satunya dari sahabat ini: Imam, aku belajar bahwa tulisan tentang cerita bertema refleksi kehidupan mampu menjadikan kita bisa berbagi. Dari sahabat ini: Nashiruddin, aku juga belajar bahwa tulisan yang ranahnya lebih serius juga mampu membuat sebuah perubahan besar pada masyarakat, sebagai salah satu cara berbagi. Mungkin ini sedikit aplikasi dari apa yang disebut agent of change. Besar kemungkinan jika tulisan bisa membuatku membantu para pedagang pengecer, misalnya, dengan segala permasalahannya. Tulisan juga mampu membuatmu bisa berbuat lebih banyak. Jadi, kamu jangan sungkan belajar menulis. Jangan sepertiku yang baru benar-benar "tersadar'' akan itu. Yang selama ini hanya mengerjakan proposal PKM karena tugas. Yang menganggap hidup hanya cukup untuk mengisi lembar ujian dengan sempurna. Yang selalu terpaku pada layar monitor maupun proyektor. Tapi sungguh, tidak ada kata terlambat (karena yang sering dipakai adalah kata telat, ya *krik😴). Tidak sepertiku, kamu bisa memulainya sejak amat dini. || Adapun masih banyak sahabat lain yang rela berbagi ilmu padaku, hanya saja yang ku sebut di atas adalah orang-orang yang ikhlas berbagi ilmu tentang dunia kepenulisan. Jangan khawatir, berbagi ilmu bisa membuat hidupmu lebih indah. O..ya(2), aku belajar menulis dari Mbak Camelia yang bahkan tidak segan meminjamkan berbagai bacaan. Juga dari Pak Hirata, Bang Tere, Pak Ahmad Fuadi, dsbnya (jadi, temukan guru-guru disekitarmu juga, ya😊). Oh.. Terima kasih, Tuhan!]
Bangkalan, 5 - 5 - 2017 - 20:08 WIB
0 komentar