Aku benar-benar tidak bisa mengatupkan bibir yang memperlihatkan deretan gigiku kala mendengar kalimat yang keluar dari temanku itu. Dia memang terlihat tomboy dengan tingkah dan pakaian yang dia gunakan. Tidak suka memakai rok sama sekali. Apalagi ber-make up. Namun aku paham betul. Dia sama seperti wanita lainnya yang mendambakan sebuah keluarga dengan suami idaman dan anak-anak yang lucu. Aku yakin betul.
Adapun kalimatnya seperti ini: " Aduh, aku kalo sama Lutfiyah takut. Takut kena ceramah.
Aku langsung menimpali: "Lah, emang aku suka ceramah, ya?
"Yaa, model kayak kamu gini pastinya suka ceramah. Ga pernah pake celana, bla..bla..bla.."
"Loh, ...ehm..eh... Yaudah besok aku pake celana, gimana?" Dalam kata "loh" aku sebenarnya kaget. Begitukah citraku? Sempat terlintas perasaan tidak enak. Atau mungkin bersalah. Entahlah.
"Eh, jangaan." katanya.
***
Atas ungkapan yang amat jujur itu aku sama sekali tidak marah. Aku hanya berpikir. Ternyata beberapa orang melihat seseorang dari tampilan luar. Well, memang penampilan juga menunjang. Tapi kalimat don't judge the book from its cover juga jangan sampai terlupakan. Aku juga jadi berpikir. Jangan-jangan mereka menganggapku berpikiran sangat kolot karena jarang menjadikan foto diri sebagai foto profil di media sosial. Mereka barangkali beranggapan bahwa aku mungkin pandai mengatakan seseorang dengan label tertentu. Bid'ah misalnya. Ah, jauhkan hamba dari pikiran-pikiran buruk, yaa Rabb.
Dengan anggapan-anggapan semacam itu aku tidak mau ambil pusing. Toh, itu hak mereka ingin berpendapat seperti apa. Aku juga tidak masalah dianggap tidak jamani hanya karena tidak mau berpacaran. Tidak masalah pula jika mereka beranggapan jika aku seorang penceramah yang kesiangan hanya karena ikut nimbrung komentar di grup mengingatkan sedikit apa yang aku pahami. Yang terpenting, aku melakukannya dengan hikmah, mauidhatul hasanah dan sedikit humor serta tidak menggurui. Aku merasa, juga memiliki kewajiban untuk saling nasihat menasihati. Apalagi tujuannya untuk memperkuat tali kekeluargaan. Karena jika semuanya hanya diam membiarkan orang yang itu-itu saja dengan masalah yang sama memperkeruh suasana, akan menjadi tidak baik nantinya. Jadi, apa salahnya hanya menyumbang sedikit nasihat yang barangkali akan menjernihkan suasana. Suasana dalam arti luas.
***
Aku bukan peramal yang bisa mengetahui bagaimana pikiran mereka mendefinisikan orang yang bersifat open minded. Apakah dengan mengunggah foto diri di dunia maya seseorang sudah dikatakan open minded? Apakah mengikuti arus jaman dengan memakai pakaian yang serba ketat juga telah mendeskripsikan jika seseorang telah open minded?
Yang ku tahu, aku wanita yang lahir dan tinggal di desa ini ingin mempunyai kesempatan yang sama. Menyenyam pendidikan hingga ke Eropa. Yang ku tahu, aku wanita yang selalu mengenakan rok dan tidak fashionable ini selalu bermimpi menjadi seorang designer profesional. Yang ku tahu, aku yang bahkan belum mencicipi sepotong sushi ini telah menancapkan mimpi untuk bisa menjadi seorang chef. Yang membuat makanan dengan porsi amat sedikit tapi begitu berharga. Entah dari segi harga, tampilan dan rasa. Dan yang ku tahu, aku selalu ingin berpikiran 'maju' seperti kebanyakan orang. Namun aku tidak ingin melupakan ajaran-ajaran fitrah yang ada dalam Islam. Karena Islam adalah agama yang tidak mendikotomikan ilmu agama dan ilmu umum.
Perlu diingat, jika kamu merasa punya hak untuk tidak menutup aurat secara sempurna. Maka orang lain juga memiliki hak untuk mengenakan cadar. Jadi, janganlah dengan gampang memperolok dan menjadikannya bahan candaan murahan. Kita harus belajar menghargai sesama. Dimulai dari cara kita bertutur kata.
***
Kawan,
Hanya karena kamu tidak mengenakan kerudung, aku akan melihatmu dengan ekor mata.
Hanya karena kamu sering berkata kotor, aku tidak akan sudi berteman denganmu.
Hanya karena kamu tidak menyukai mata kuliah yang sama, aku tidak mau satu kelompok bersamamu.
Ayolah, Kawan... Pikiranku tidak sesempit itu.
Sekat-sekat perbedaan tidak lantas membuat kita tidak dapat bersahabat.
Mari bersama-sama merangkai dan meraih mimpi nan suci.
Karena tidak ada yang menjamin kita akan selalu hitam atau putih. Pun yang kita lihat hitam belum tentu hitam dan putih tidak pasti putih.
Selama nadi masih berdenyut, semua manusia masih sama-sama belajar memelihara hati yang bersih.
Bangkalan, 11 Mei 2017 - 15:33 WIB
0 komentar