Kepercayaan

Orang tuaku adalah orang-orang yang amat terbuka dengan hal baru namun tidak melewati batasan-batasan fitrah. Hal ini salah satunya terbukti dengan kebijaksanaannya membiarkan anak-anak perempuannya kuliah. Ini bukan hal yang mudah mengingat beliau berasal dari keluarga yang menganggap kuliah adalah hal yang 'tabu'. Bagi keluarga besar Ibu yang--katanya--berasal dari titisan Kiai, akan lebih mudah mengantarkan anak-anak mereka untuk belajar ilmu agama di pondok pesantren. Pun dari keluarga Bapak. Akan lebih enteng mengarahkan anak-anak perempuan mereka mengirim bekal ke sawah.

Sejak dulu, orang tuaku selalu memberikan kepercayaan penuh kepada anak-anaknya. Tanpa menekan, menceramahi, dll. Hal ini sangat aku rasakan kala memasuki bangku SMA. Mereka selalu percaya padaku, meski aku pulang larut malam. Meski tentu, mereka amat khawatir. Membuat mereka akhirnya menyarankan untuk melepaskan kegiatan tambahan sekolah yang menyita waktu itu, tapi tetap saja keputusan mereka kembalikan padaku. Karena mereka selalu percaya, bahwa aku tidak akan pernah menyia-nyiakan kepercayaan mereka.

Kedua orang tuaku juga tidak pernah melarang secara gamblang anak-anaknya berpacaran. Mereka percaya, kami yang dianggap orang berilmu akan lebih memahami apa yang baik dibandingnya, menurut beliau. Pernah suatu ketika, saat beliau mengantarkanku pagi buta ke muka jalan raya untuk kegiatan sekolah, beliau berpesan. Pesan yang untuk pertamakalinya begitu menggambarkan bahwa beliau juga khawatir dengan pergaulan anaknya. Begini pesannya: "Hati-hati, ya. Ingat, naik angkot, jangan boncengan lho ya."

Kalimat itu tentunya berarti sebuah warning untukku agar tidak nebeng ke teman cowo, apalagi jarak rumah ke sekolah lumayan jauh. Aku jadi berpikir, jika tidak ada niat apa-apa dan jarak yang dekat barangkali tidak apa-apa.

***

Begitulah sekelumit cerita, tentang betapa orang tuaku amat menaruh kepercayaan penuh padaku. Pun saat aku kemarin memutuskan bergabung di sebuah organisasi di Surabaya. Mereka merestuiku. Namun tidak dengan Kakak. Dia adalah salah satu anggota keluarga yang cukup keras memberi aturan dalam beberapa hal, meski dia kadang begitu humoris. Jika ada apa-apa mestilah paling sulit memperoleh restu darinya. Dia seringkali memiliki pikiran yang berbeda. Kadang brilian. Kadang seenaknya sendiri. Untuk itulah, aku lebih takut memperoleh ijin darinya daripada dari orangtuaku sendiri. Lain halnya saat berhubungan dengan kuliah, asisten praktikum, student exchange, study abroad, dll. Kakakku itu akan mendukung penuh. Entahlah, jika berhubungan dengan organisasi beliau seakan risih. Padahal sejak kuliah, tak kurang dari puluhan organisasi telah ia ikuti. Well, apa yang menurutku terlihat buruk memang belum tentu buruk. Kakakku memang, bagiku, terlihat buruk karena seringkali melarang hal yang sudah jelas terlihat baik dimataku, tapi entahlah.

Hal itu berbeda dengan orang tuaku yang sangat mengerti dan memberikan kepercayaan penuh padaku. Karena itulah aku tidak akan pernah sampai hati untuk menyia-nyiakan kepercayaan mereka.

Ketika seseorang telah memberikan kepercayaan penuh padamu, itu artinya ia percaya. Maka, jangan pernah sia-siakan kepercayaan itu. Sama halnya kala seseorang menceritakan masalah hidup yang ia alami mulai dari A sampai Z. Itu artinya ia merasa nyaman denganmu. Ia percaya bahwa kamu tidak akan pernah membeberkannya pada orang lain. Ia sungguh percaya akan itu.

Memang, tempat curhat terbaik adalah Tuhan. Akan tetapi ada tipikal manusia yang hanya ingin mengeluarkan emosi pada sahabat atau padamu. Bukan hanya berharap diberi solusi. Mereka hanya ingin berbagi cerita agar tidak sampai menjadi beban pikiran yang lama kelamaan menumpuk dan 'meledak' kapan saja.

Jadi, jangan pernah sia-siakan seseorang yang telah mempercayaimu.

Adapun bagiku, cerita yang terlampau pribadi dan krusial hanya patut aku ceritakan pada-Nya.

Bangkalan, 12 Mei 2017 - 15:16 WIB

0 komentar