You Are What You Think


"You are what you think" jika kita artikan lurus maka memiliki arti "Kamu adalah apa yang kamu pikirkan". Namun artinya lebih luas daripada itu. Aku mengartikannya lurus karena meski sudah duduk di bangku kuliah semester kritis ini bahasa Inggrisku masih sangat payah. Jika tidak salah mengingat, aku membaca kalimat itu dari T-shirt AFR saat semester empat. Kala itu kalimat singkat itu membuatku merenung untuk beberapa waktu.

****

"Pi, aku ga bisa ngomong, Pi," ucap teman berinisial INK itu.
"Lah, itu bisa ngomong!" aku menyengir.
"Aku ga bisa lancar, Pi. Aku ga tahu," lanjutnya.
"Jangan gitu. Inget, setiap orang punya kelebihan maupun kelemahan."
"Tapi, Pi. Aku tidak bisa mengatasi kelemahan ini."
"Kamu bisa. Kamu mampu. Semua bisa dipelajari. Inget juga, kamu punya passion dalam mata kuliah berhitung. Kemampuan berhitung yang lebih baik dariku. Jangan selalu meratapi kekurangan. Selalu berpikir akan kelebihanmu. Belum lagi, jangan-jangan yang kamu anggap kekurangan itu tidak ada. Karena hakikatnya, semua bisa dipelajari," jawabanku yang satu ini cukup membuatnya terdiam beberapa saat. Pun cukup membuat hatiku teriris. Bagaimana tidak, aku bahkan belum mengubah mindsetku tentang ketakutanku pada mata kuliah atau pelajaran berhitung, tapi sudah berani 'menceramahi' orang. Padahal memang, semua hanya berasal dari apa yang kita pikirkan. You are what you think.

****

Sebelum membagikan sebuah oretan atau apapun, aku selalu bertanya terlebih dulu pada diriku apakah aku sudah mengamalkannya. Atau apakah aku---minimal---sudah memiliki niat untuk melakukannya. Maka, keputusan untuk membagikan oretan akhirnya terputuskan, dimulai dengan menulis kontennya, meski dengan terputus-putus.

Aku kadang sedih sendiri, saat apa yang aku bagikan ternyata bahkan belum mampu menggerakkan hatiku. Seperti sampai saat ini, saat aku belum bisa menghapuskan ke-parno-an kala bertemu dengan mata kuliah yang berbau hitung menghitung dengan berupa-rupa rumus, atau sekadar di curahkan dalam bentuk kurva-kurva---yang memang sudah menjadi menu wajib prodi yang aku geluti. Padahal, aku pernah membuktikannya sendiri jika ini hanya soal 'think'.

Baik, lepas dari anggapan bahwa setiap orang memiliki passion yang berbeda, aku akan menceritakan pengalamanku tentang pembuktian sederhana namun bermakna dari "you are what you think".
Jadi dulu, aku merasa lemah di pelajaran Matematika saat masih SD. Ini terbawa hingga SMA. Singkat cerita, aku belajar sedikit lebih intensif untuk pelajaran Kimia saat duduk di bangku kelas sebelas. Hingga ulangan digelar. Materinya kala itu penuh dengan berhitung, namun ada hal yang mengejutkan. Aku termasuk dari tiga orang siswa dalam kelas yang tidak perlu remidial untuk pelajaran itu. Betapa sederhana. Namun sangat mengejutkanku. Benar, kita adalah apa yang kita pikirkan. Aku mampu mematahkan kekurangan dengan latihan/belajar yang lebih intensif. Orang lain boleh jadi diberkahi kemampuan menghafal yang cepat. Akan tetapi kita juga mampu menghafal meski harus lebih intensif dari mereka. Pun pada kasus lainnya. Seperti adikku yang selalu bilang: "Tapi aku tidak bisa menulis, Mbak." dan lain sebagainya.

Itu adalah contoh sederhana yang sebenarnya sangat luas pengertiannya. Tentang aku yang acapakali takut bergerak, ragu keluar dari zona nyaman, selalu kurang percaya diri dalam melakukan sebuah langkah perubahan hidup. Meski begitu kita juga tidak diperkenankan untuk over percaya diri. Berpikir bahwa kitaselalu yang terbaik dibanding yang lain. Berpikir selalu mampu melakukan semuanya sendiri. Jika sudah begitu, maka lain lagi bahasannya.

****

Ini pesan yang pertama aku berikan untuk diriku sendiri; Selalu ingat tentang perkataan: you are what you think. Meski tidak mudah, tapi semoga kita selalu  diberikan kemampuan untuk selalu 'think' bahwa itu adalah hal yang mudah. Sadarkah kalian, pada kalimat yang aku tulisankan di paragraf pertama? Kalimat ini: " Aku mengartikannya lurus karena meski sudah duduk di bangku kuliah semester kritis ini bahasa Inggrisku masih sangat payah." adalah salah satu kalimat menurut apa yang aku pikirkan, berdasarkan mindsetku. Pikiran seperti ini pada kenyataannya tidak berdampak baik pada kita, meski mudah mengucapkannya. Harusnya aku berpikir untuk bergerak menempa diri daripada selalu berpikir seperti itu, bukan? Sulit mengamalkan, meski mudah mengucapkannya.

Akhirul kalimat: "Semoga Allah senantiasa memudahkan jalan kita semua. Aamiin."

Bangkalan, 5 April 2017 - 11:35 WIB

0 komentar