Pada Hakikatnya, Kita Tidak Pernah Siap dan Cukup

[Iklan] "Tulisan gue akhirnya masuk di majalah terkenal!" "Weiih, keren loe! Rubrik apa?" "Rubrik itu looh, tapi cuma titik sama komanya doang." "hzZz--" *Krik [End]

Hubungan iklan dengan tulisan ini? Hehe, sepertinya tidak ada. Baik, mari kita mulai membuat kontennya.. Jreeeeng!

"Kamu sudah siap?" salah seorang anggota kelompok bertanya padaku. "hmm, belum," balasku.

Kurang lebih selalu seperti itu perbincangan yang terjadi kala hendak maju ke depan kelas guna presentasi. Selalu merasa tidak siap. Pun saat ujian. Entah ujian tengah semester, ujian akhir, dan sejenisnya. Selalu.

Aku selalu mendambakan masa dimana aku hanya tinggal duduk manis di bangku sambil menunggu pengawas datang membawa soal ujian. Iya, hanya tinggal duduk dan menunggu. Tanpa harus membolak balik buku lagi. Tanpa harus bergulat dengan pertanyaan yang berkerumul di kepala seukuran batok kelapa ini. Tanpa tanpa. Dan tanpa. Apa sih, Dek? Mulai geje, hehehe.

Pada kenyataannya aku selalu tidak siap kala ujian. Berlagak seperti orang yang teramat pintar---kutu buku mungkin, aku masih menenteng buku menuju ruang ujian. Lantas aku mulai membolak baliknya lagi. Selalu tidak siap pikirku. Selalu begitu.

Sama halnya saat hendak presentasi, apapun. Selalu merasa tidak siap dan cukup. Semakin aku pelajari, semakin timbul banyak pertanyaan. Semakin beranak pinak. Meski sudah bertanya sana sini. Meski sudah meluangkan 'sedikit' waktu membaca materi. Meski sudah mengggenggam beberapa rujukan yang keren-nya tak terperi. Tapi selalu merasa tidak siap dan cukup.

Itu adalah pengalaman pribadi setelah sekian tahun hidup di muka bumi. Maka, aku simpulkan, jika pada hakikatnya kita tidak akan pernah siap dan cukup. Itulah ilmu.

"Siapa yang menyangka bahwa ilmu itu ada akhirnya, maka dia telah salah sangka. Selalu ada ilmu di balik setiap ilmu lain."
- Dr. Khalid Al Mushlih

Hanya saja yang membedakan adalah persentasenya. Kadarnya. Misal, hari ini aku tidak siap menghadapi ujian (sebesar 30%). Esok hari aku juga tidak siap menghadapi ujian (sebesar 25%). Angka-angka itu pun juga bisa jadi hanya bersifat spekulatif.

Teori "tidak pernah siap dan cukup" ini juga berlaku pada amal shalih. Bukankah kita harus selalu berpikir fakir amal? Kita perlu berpikir bahwa kita ini masih berlumur dosa. Jika ditanya apakah kita siap mati, maka bagi saya, tidak akan pernah siap. Tidak akan pernah merasa siap dan cukup dengan amal baik yang kita lakukan di dunia. Lebih-lebih, bisa jadi kita hanya 'merasa' bahwa kita kerap beramal shalih. Padahal (nauzubillah) amal-amal itu terhapus oleh riya, ujub, dan dosa-dosa yang lain.

Namun lain halnya saat konsep "tidak pernah siap dan cukup" ini soal hal yang berbau duniawi. Manusia tidak akan pernah merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Entah itu harta dan lainnya.

"Ada dua jenis manusia yang tidak akan pernah merasa cukup; pemburu ilmu dan pemburu harta."
- Imam Ali Ra

Bangkalan, 04-04-2017 - 19:51 WIB

0 komentar