Dahsyatnya Doa Seorang Guru

Seingatku berdasarkan apa yang aku pelajari saat di MTs dulu ialah orang yang mengajarkan sebuah ilmu walau seayat bisa dianggap sebagai guru. Guru yang wajib kita hormati dan doakan.

Dalam postinganku beberapa bulan lalu telah sedikit ku ulas mengenai pentingnya memelihara budi pekerti terhadap seorang guru. Ini bukan hanya karena mereka telah ikhlas membagi ilmunya, namun karena doa mereka yang begitu dahsyat.

Bagaimana tidak, seorang guru adalah orang yang ber'puasa' dalam hidupnya. Sebelum mereka mengajar, mereka telah terlebih dahulu menempa diri, berjuang mati-matian demi mendapatkan ilmu. Menimba ilmu bisa berarti sebuah puasa.

****

"Fia, nanti mau dibuat apa uangnya?" tanya Bu Nurul---guru Bahasa Indonesia yang juga mengajar Tata Busana. "He, buat daftar jalur mandiri, Bu. Kalo semisal tidak diterima di jalur SBMPTN". "Keterima, kok, Fi." "Hehe, iya, Bu. Aamiin."

Lalu siapa yang menyangka jika perbincangan itu adalah salah satu doa yang dikabulkan oleh Allah. Benar, perkataan adalah doa. Apalagi kata-kata yang keluar dari lisan seorang guru. Sekali lagi, mereka orang-orang yang telah berpuasa bertahun-tahun lamanya. Maka, berhati-hatilah dengan mereka. Jangan lupakan tata krama terhadap seorang guru. Mulailah berhenti, meski hanya sekadar menjadikan nama mereka bahan candaan. Muliakanlah mereka.

***

Aku mulai memiliki akun FB sejak MTs. Sejak itu pula aku tidak pernah menambahkan akun guru sebagai teman di FB-ku. Bagiku, itu adalah hal yang tidak sopan. Karena akun medsos semacam itu informal dan hanya sebagai hiburan. Saat di MAN prinsip itu tetap ku pegang. Hingga akhirnya aku mulai menambahkan akun Bu Nurul dan Sir Wahid. Keduanya adalah guru yang amat bijaksana dan menyenangkan. Kini, pemahamanku berbeda, FB bisa menjadi ruang untuk mengirim tugas atau mendiskusikan sesuatu yang serius dengan santai. Asal tetap menjaga tata krama terhadap guru-guru.

***

Guru juga merupakan orang yang diangkat derajatnya karena ilmu yang ia miliki. Bukankah sudah ku bilang jika guru juga berarti orang yang membagikan ilmunya meski seayat. Inilah yang membuat aku sangat menghormati Mbak Puput----mentor mata kuliah PAI---meski kita seumuran dan seangkatan.

Kemarin, saat duduk di halte menunggu bus sembari membalas pesan dengan posisi menunduk ke HP, suara seorang wanita yang terlihat sedikit lebih berusia dariku membuat aku mengangkat kepala melihat asal suara. Ia bertanya apakah aku tengah menunggu bus. Aku mengiyakan dan balik bertanya. Kami tersenyum serempak. Kemudian aku mulai sibuk kembali dengan pesan-pesan di HP. Dengan posisi duduk yang terkesan /nyantai/.
Lalu seorang mahasiswi bersepeda motor menghapiri kami.
"Ibu mau pulang?" "Iya" "Mari ikut saya, Bu." "Oh, Baiklah."
Aku refleks membenarkan posisi duduk kala mendengar pertanyaan pertama meluncur dari mulut mahasiswi itu. "Duh, seorang guru," batinku.
"Duluan, ya, Mbak." Kata dosen muda itu. "Eh, iya, Bu." aku masih sibuk membenarkan posisi duduk.
"Betul, ilmu mampu mengangkat derajat seseorang," aku membatin lagi.

***

Doa seorang guru bisa menjadi doa yang dahsyat saat mereka ridlo pada kita, murid-muridnya. Bahkan meski hanya sebuah kata-kata. Jadi, berhati-hatilah bersikap pada seorang guru. Karena kita bisa seperti sekarang ini berkat guru-guru terbaik dalam hidup kita selama ini. Berkat dahsyatnya doa seorang guru.

Bangkalan, 07 April 2017 - 22:36 WIB

0 komentar