Iklan dan Sinetron

Menurut Schiffman dan Kanuk (2007) pengambilan keputusan dapat dipandang sebagai suatu sistem yang terdiri dari input, proses dan output. Dalam proses pengambilan keputusan konsumen dipengaruhi oleh beberapa faktor yang meliputi; motivasi, kepribadian, pembelajaran, persepsi dan sikap.
(Behind the scene: "Siah, loe hapal ya?" "Ya, kagak lah. Ini gue nyontek dari buku. *krik😂)

Persepsi oleh Shiffman dan Kanuk (2004) didefinisikan sebagai proses dimana dalam proses tersebut individu memilih, mengorganisasikan dan mengintepretasikan stimuli menjadi sesuatu yang bermakna. Namun yang ingin saya bahas kali ini bukan mengenai seluk-beluk persepsi, seperti proses persepsi, aplikasinya dalam strategi pemasaran dan lain-lain. Saya hanya tertarik untuk sedikit mengulik  perihal iklan sebagai salah satu bentuk stimulus yang mempengaruhi persepsi konsumen. Karena di akun ini akan lebih baik jika membahas hal yang ringan-ringan saja dulu. Biarlah ROE, ROA, kurva-kurva dkk berada di dalam ruang kelas dulu, alih-alih dalam status. Hehehe.

Siapa sih yang tidak tahu iklan? Iklan atau pariwara atau yang biasa kita sebut sponsor adalah semua hal  berbentuk pesan promosi barang dan jasa. Iklan tersebut tentunya ditujukan kepada masyarakat dengan tujuan menjadi konsumen dari barang atau jasa yang ditawarkan. Iklan biasanya di sampaikan melalu media (seperti Tv, dll) dengan biaya yang ditetapkan.

Pernahkah kalian memperhatikan iklan di televisi?
Ada iklan yang disampaikan dengan orang yang bernyanyi sumbang dan terdengar menyebalkan. Ada iklan yang disampaikan dengan tarian-tarian erotis penyanyi dangdut. Ada juga iklan yang disampaikan dengan nada bicara yang aneh atau bagi kita tidak lazim. Itu semua adalah cara untuk menciptakan daya tarik dalam iklan itu sendiri. Agar memancing perhatian, hingga akhirnya memutuskan untuk membeli.

Dalam iklan kadang kita bisa melihat, bahwa pemasar kerap membumbuhi iklannya dengan hal yang negatif. Sebut saja iklan margarin: dalam iklan itu terdapat seorang anak yang hendak berangkat sekolah usai sarapan. Saat di bis ia menyadari bahwa bekal yang ia bawa tertinggal di rumah. Akhirnya dengan baik hati temannya menawarkan untuk berbagi bekal. Lalu apa yang terjadi? Yang ditawari malah berkata: "Tapi nasi gorengku kan nasi goreng 'band blue'," katanya.
Jadi secara tidak langsung iklan itu memberikan pesan yang kurang pas. Saya yakin kalian bisa menyimpulkannya sendiri.

Saya seringkali memperhatikan iklan, ada banyak juga iklan-iklan yang bermanfaat karena memberikan pesan yang baik. Itu salah satu kriteria iklan yang saya suka. Saya juga sangat menyukai sebuah iklan pewangi pakaian yang dibintangi seorang bocah yang gendut, gempil pipinya dan lucu seperti pemain kartun Up. Saat mengetahui akan kedatangan tamu yakni teman-teman Mamanya, ia segera berlari-lari agar baju yang ia pakai tidak wangi lagi akibat buliran keringatnya. Sayangnya ini tidak berhasil karena  sebuah pewangi pakaian.
Namun belakangan ku ketahui edisi kedua iklan ini, dan aku kecewa. Si bocah lucu bermain dengan teman perempuannya, kemudian ada momen freeze, berpelukan, lantas gelembung-gelembung berbentuk love beterbangan yang disinyalir datang dari cucian. Selalu ada bumbu dalam iklan yang kerap meracuni pikiran. Okelah, jika iklan tersebut ditonton oleh yang dewasa dan paham memilah. Namun bagaimana jika yang melihat anak-anak kecil? Dimana mereka memiliki kecenderungan untuk meniru, merekam, dll.

Ada juga iklan yang lebih menekankan erotisme sebagai daya tarik. Bagaimana tidak, kita bisa amati bagaimana cara pengambilan enggel sebuah iklan dengan wanita sebagai objek putri iklannya. Pun bagaimana mereka berpakaian, berbicara dsbgnya.

Unsur erotisme tidak hanya di iklan, namun juga terdapat di shitnetron *eh maksud saya sinetron. Ya, kemajuan dunia pertelevisian membuat channel tv juga beranak pinak. Pun acara sinetronnya. Ada banyak alasan mengapa kita harusnya menghindari tayangan sinetron, khususnya anak-anak hingga remaja. Karena berlomba mendapatkan rating teratas, sinetron makin tidak layak tonton. Beda dengan jamn dulu, saat masih ada beberapa sinetron yang mengedepankan pesan moral.

Alasan mengapa kita sepatutnya menjauhkan anak-anak, adik-adik kita dari sinetron adalah karena sinetron membuat kita lalai. Yang tadinya waktu belajar, waktu memasak dan lain sebagainya harus ditukarkan dengan menonton sinetron yang durasinya mampu berjam-jam. Sinetron memiliki jalan cerita yang mainstream dan mudah ditebak sehingga tidak mampu merangsang anak untuk berpikir kritis. Berapa kali kita melihat adegan di meja makan dalam sinetron? Selain itu cerita yang ditawarkan kebanyakan hanyalah kisah cinta remaja atau masalah rumah tangga. Ini kerap membuat remaja hanyut dalam cerita. Bisa jadi mereka lebih mendambakan mendapat seorang pacar layaknya sinetron yang ia tonton daripada mendapat nilai Matematika yang sempurna. Pun saat sinetron menawarkan cerita dengan bermewah-mewahan, modis, make-up tebal dan banyak lagi.
Belum lagi, wajah-wajah yang berseliweran dilayar kaca adalah remaja dan memiliki wajah yang dianggap tampan atau cantik. Ini kadangkala membuat kita berpikir untuk mampu memiliki hal yang sama. Kemewahan yang sama. Make up yang sama. Bahkan tuntutan untuk operasi plastik agar memiliki wajah yang 'sama'.

Meski sinetron sudah saya tinggalkan sejak lama. Saya sesekali mengamati beberapa cuplikan sinetron terbaru baru-baru ini. Cuplikan tersebut hadir didepan mata saya karena kemenakan---kelas VI SMP---yang tidak menggubris nasihat yang saya sampaikan dengan amat hati-hati. Jadilah saya mengamati beberapa waktu.

Disana saya melihat sinetron yang sarat dengan kekerasan, pornografi, permusuhan dll. Selain adegan pacaran dini disana sini, saya melihat bagaimana mereka berkelahi---memamerkan seni bela diri yang dikuasai, kebut-kebutan, meski dibungkus rapi dengan sedikit bubuhan ibadah dan belajar. Atau mungkin dengan wanita-wanita berjilbab. Ada sinetron yang secara tidak langsung mengajarkan untuk memiliki sebuah geng lantas saling membela mati-matian. Kemudian sinetron perihal putri duyung yang bajunya kurang bahan. Dan sebagainya. Dan sebagainya.

Saya selalu bilang, bahwa sinetron adalah salah satu cara untuk meninabobokan kita semua. Memang, sinetron bisa jadi menjadi sebuah hiburan usai berlelah-lelah beraktivitas seharian. Atau menjadi teman bagi anak-anak yang kesepian di rumah. Namun setelah membaca alasan-alasan diatas masihkah kita tidak mau menjahui sinetron? Mungkin akan sulit bagi yang telah amat menggandrunginya, tapi  step by step inshaaAllah bisa.

Akhir paragraf, kita memang tidak bisa benar-benar menghapuskan iklan dan sinetron yang tidak mendidik dalam hidup kita. Akan tetapi kita masih bisa bergerak. Bergerak untuk mengawasi anak-anak kita, saudara-saudara kita, dan lain sebagainya. Menasehati dengan hikmah dan mauidhatul hasanah. Demi menghasilkan pemuda-pemudi yang berkualitas. Tidak dijajah sinetron, apalagi sinetron dari luar negeri. Well, untuk hiburan memang tidak ada salahnya. Hanya saja harus paham porsinya. Jangan sampai kita hanya dijadikan sasaran empuk untuk memperoleh rating dan memasarkan produk. Membuat mereka sejahtera. Sedang kita?

Bangkalan, 2 April 2017 - 17:03 WIB

0 komentar