Pernah seorang teman mengagetkanku. Ia bertanya padaku: "Kamu keturunan Kiyai, ya?" aku tidak paham dengan arah pembicaraannya, namun langsung saja ku jawab dengan santai: "Hehe, bukan."
Dia hanya meng-oh-kan. Kami pun terdiam menunggu antrian, latarnya saat diklat jurusan.
Pernah juga seorang teman yang berbeda nyinyir padaku. Menyindir yang lebih mirip bercerita secara blak-blakan dengan kalimat: "Ya ampun, rok uda kayak bendera berkibar." atau "Jilbab culun amat. Dilipat doang gini," katanya sambil mempraktekkan melipat sedikit jilbabnya di bagian kening."
Lalu aku, sayangnya aku seringkali tidak peduli dengan omongan yang lebih mirip sampah. Lebih baik memikirkan kalimat-kalimat sastrawan yang indah.
Alih-alih sakit hati, aku hanya mampu tersenyum. Refleks. Adapun latarnya didepan kelas, saat semester satu.
Lalu aku, sayangnya aku seringkali tidak peduli dengan omongan yang lebih mirip sampah. Lebih baik memikirkan kalimat-kalimat sastrawan yang indah.
Alih-alih sakit hati, aku hanya mampu tersenyum. Refleks. Adapun latarnya didepan kelas, saat semester satu.
Pernah juga seorang teman yang berbeda (2) menanyakan hal yang membuatku tertawa. Dia bertanya: "Kamu itu anak pondok, ya?" kali ini aku penasaran. Aku balik bertanya: "Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Dia jadi ikut tersenyum: "Karena kamu selalu memakai rok saat ke kampus."
Aku ikut memberi jawaban, meski tidak ada hubungan dengan pertanyaannya: "Haha, aku pernah kok pake celana. Celana training."
Akhirnya tawa kami kembali pecah. Seperti panasnya mentari yang seakan membuat kepala kami pecah kala itu. Di jalan menuju halte yang kami tuju.
Aku ikut memberi jawaban, meski tidak ada hubungan dengan pertanyaannya: "Haha, aku pernah kok pake celana. Celana training."
Akhirnya tawa kami kembali pecah. Seperti panasnya mentari yang seakan membuat kepala kami pecah kala itu. Di jalan menuju halte yang kami tuju.
Mereka harusnya tahu, bahwa ketaqwaan bukan soal siapa kakek nenek kita. Mereka harusnya tahu, bahwa masih ada seseorang yang tuli saat dicaci atau dibully. Perkataannya tidak akan membuatku tiba-tiba berkerudung seperti anak-anak yang mau fashion saat di TB dulu. Karena memang aku hanya mampu mendadani orang lain. Mereka juga harusnya tahu, bahwa tidak semua orang yang tidak pernah makan bangku pesantren (rayap kali) akan rela melingkarkan kedua belah tangannya dipinggang seseorang yang hanya berlabel kekasih, saat dibonceng.
Kita begini dan begitu karena kita sama-sama orang muslim. Berlomba-lomba dalam kebaikan. Lalu karena kita umat Nabi Muhammad SAW. A simple man who changed the darkness to the lightness life. A patient man who could spread Islamic law that contain with love in the whole word. Lebih - lebih karena kita tidak ingin dosa kita mengalir pada Ayah Ibu kita. Pada almarhum Ayah dan almarhumah Ibu kita. Kita tidak menginginkan itu.
Memang benar, kulit kacang yang bagus kadang tidak ada korelasinya dengan biji kacang berkualitas baik. Kadang kulit kacang yang kuat dan bagus ternyata isinya sudah menghitam. Iya, benar. Namun semoga seiring berputarnya masa semua akan menjadi semakin lebih baik. Karena doa dan kebaikan Tuhan-lah kita mampu memiliki niat yang lurus.
Aku acapkali memiliki kesimpulan yang lucu. Aku kira semua mahasiwi harus memakai jelana jeans dan necis. Itu pemikiranku saat masih kecil. Aku kira semua muslimah di Arab itu akan mengenakan jilbab. Aku mengira jika seorang alim akan memiliki anak-anak perempuan yang memakai jilbab. Pada kenyataannya, kita bisa menjumpai hal yang sebaliknya. Seorang jurnalis kondang itu anak seorang alim ulama, tapi. Dan lain-lain. Pada kasus itu, mungkin masih jauh dari pemahamanku. Aku tidak bisa membandingkan pemahamanku yang sempit dengan mereka. Tentang ajaran Islam rahmatan lil 'alamin dan sebagainya. Maka aku tidak akan banyak berkomentar pasal itu. Boleh jadi beberapa tahun ke depan pemahamanku akan jauh lebih berkembang. Wallahua'lam.
Pada akhirnya, semua kembali pada cara, prinsip, pandangan dan jalan hidup masing-masing orang yang perlu kita hargai. Pun aku.
Bangkalan, 31 Maret 2017 - 19:22 WIB
0 komentar