"Ga semudah itu mengubah cacian menjadi sebuah penyemangat."
Aku tersenyum. Senang sekali. Kala mendapat masukan, saran, kritikan, atau hanya sekadar komentar lewat sebuah pesan. Bukan. Bukan hanya sekadar pesan. Tapi bisa menjadi bahan tulisan baru, renungan baru. Bahan evaluasi diri baru. Bahan muhasabah yang membikin haru.
Semua yang aku tulis dalam statusku adalah berdasarkan sedikit apa yang aku pahami, apa yang pernah aku jalani, apa yang sudah aku lewati, dan apa yang pernah aku alami. Jadi, status itu bisa jadi tidak sesuai dengan apa yang dipahami orang lain, yang dialami orang lain, yang dijalani orang lain, dan yang pernah dilewati orang lain.
Sudah pernah ku sampaikan, jika tidak pernah ada manusia (kecuali Nabi Muhammad SAW) yang akan selalu bijak disetiap jengkal hidupnya. Pun aku. Karena aku adalah manusia. Aku tidak pernah bijak menggunakan seluruh 24 jam-ku setiap hari. Buktinya, masih banyak impian yang terbengakalai. Aku tidak pernah mudah untuk selalu bersabar, bertaqwa, belajar dan segala tindak tanduk terpuji lainnya. Aku tidak menghapus akun dumay-ku, kan? Aku hanya mengurangi durasi berselancar di dalamnya. Semakin lama semakin coba ku kurangi. Step by step. Hanya saja seperti apa yang ku ungkapkan di catatan Demi Masa || Bacalah itu. Bahwa kemana rutinitas itu akan membawa kita. Itulah yang membuat aku akhirnya menerapkan apa yang pernah disampaikan Pak Andrie dalam kuliahnya saat semester awal dulu. "Kalo yang suka bikin status, ya ga pa-pa. Tapi yang panjang sekalian." ucap beliau.
Aku juga tidak akan dengan gampang mengubah cacian menjadi pemantik semangat. Karena yang ada aku malah merasa kecewa, sedih, down, ingin menangis, dan tidak berharga. Apalagi saat dibanding-bandingkan.
Pernah ku ceritakan saat perkataan menyakitkan itu keluar dari guru ngajiku (dalam catatan Bagaimana Aku Mengartikan Sebuah Tangisan), aku bukannya mampu lebih baik tapi malah makin down. Pindah tempat untuk mengaji. Mencari guru lain, dengan harapan ada guru yang mau menerima murid yang ingin belajar. Setelah SMP aku paham, langkah yang ku ambil itu salah. Aku lalai memahami bahwa guru juga seorang manusia yang tidak luput dari kesalahan. Dan aku tidak mau menerima kekurangan itu. Namun hendaknya guru harus berusaha belajar peka, bahwa semua perilaku, perkataan dan sebagainya adalah pelajaran. Keburukan dan kesalahan yang mereka punya juga mampu menjadi pelajaran. Meski, yet stange, I'm ungrateful to those teachers, kata Kahlil Gibran. Kembali ke cerita, aku malah mendapat motivasi untuk belajar mengaji agar lebih baik lagi dari teman SMP-ku. Bagiku ia mengaji dengan makhroj yang bagus. Maka terlantun doa dalam hati, semoga suatu saat bisa mengaji sebagus dirinya.
***
Sayang, tak apa, bersedihlah...
Karena itu manusiawi. Yang perlu digarisbawahi adalah jangan sampai kau kehilangan pesannya. Pesan yang mengabarkan padamu bahwa kau harus bangkit. Ini hidupmu! Bukan hidup mereka! Kau yang menjalani. Kau sendiri yang akan mampu membawanya kemana.
Aku bilang, status yang ku bagikan juga berdasarkan apa yang sudah aku lewati. Iya, sejak kecil aku seringkali mendapatkan cacian dan sejenisnya. Alih-alih bersemangat untuk membuktikan, aku malah menangis dan makin down. Jika tidak salah aku baru menjadikan itu sebuah penyemangat sejak SMP. Semakin dimantapkan saat di SMA. Itu semua berkat Allah, orang tua, guru-guru dll.
Ada orang yang mampu mengubah cacian menjadi penyemangat secara cepat. Ada yang memerlukan waktu yang cukup lama. Ada orang yang lebih mudah menerima cacian saat orang lain mendambakan pujian. Ada juga orang yang melupakan pujian dengan cepat lantas mengingat cacian dan merenunginya lamat-lamat.
"Tapi kamu hebat sudah bisa mengubah itu."
Aku tersenyum lagi. Pesan berikutnya. Renungan berikutnya. Aku balas:
Sebenarnya aku tidak mengubahnya secara total. Kadang masih ada rasa kecewa, sakit hati, ingin menangis, down, dan segala tetek bengeknya. Yaah, sekali lagi itu manusiawi.
Tapi sebenarnya satu lagi yang ingin aku sampaikan: bahwa apa yang aku bagikan lewat status yang aku bagikan adalah berdasarkan apa yang ingin dan sedang ku usahakan. Karena memang, semua tidak semudah menulis dan membaca teorinya. Pratiknya tidak akan semudah membalikkan telapak tangan Mpok Mai. Karena bisa jadi, Mpok Mai langsung berlarian kabur, merasa aneh karena kita secara tiba-tiba memegang dan menarik tangannya. *Krik, suer kaga lucu. 😴
***
Katanya, seseorang yang makin tinggi tingkat ketaqwaannya, akan dengan mudah menjalani kehidupan yang semakin tidak mudah. Juga selalu mengingat, bahwa kehidupan yang kekal bukanlah di dunia ini. Hmm, semoga kita senantiasa dibimbing dan dimudahkan untuk paling tidak selalu berusaha menjadi seseorang itu. Aamiin ~
Bangkalan, 24 April 2017 - 11:03 WIB
0 komentar