Aku kerap tersenyum saat bisa begini dan begitu. Ya, aku juga tidak lupa bersyukur. Tapi sayang, aku kerapkali lalai. Aku lalai memahami bahwa semua terjadi berkat daya dan kekuatanNya. Aku bisa membaca, memasak, mengaji dll.
Mungkin kalian juga pernah merasakannya. Saat kalian telah dengan mudah memperoleh juara dalam setiap perlombaan, mendapat karir yang cemerlang, memiliki harta yang berlimpah ruah, mudah memahami pelajaran, mudah melaksanakan shalat tahajjud, berbakti pada orang tua, dan mudah beramal shalih lainnya---kalian akan tersenyum dan merasa bahwa Allah pasti senang melihat apa yang kalian perbuat. Merasa bahwa kalian adalah orang baik yang mampu melakukan banyak kebaikan. Terlintas rasa bangga meski tak sampai terucap.
Tetapi kita lalai kalau semua itu terjadi karena daya dan kekuatanNya. Kita hanya cukup senang dan berucap syukur tanpa benar-benar memahami bahwa tangan-Nya-lah yang membuat semua itu terjadi. Kita bisa belajar dan memahami dengan mudah. Kita bisa bangun pagi dengan mudah. Dan lain-lain. Kita lalai untuk 'benar-benar' memahami. Sampai saat semua itu diambil, barulah kita menyadarinya. Saat kita sulit sekali menghapus rasa malas untuk belajar atau mengaji, barulah kita menyadarinya. Saat sangat sulit rasanya untuk bangun pagi atau hanya sekadar menelan nasi, barulah kita menyadari. Menyadari bahwa laa haula wa laa quwata illaa billah.
Meski ada juga yang amat sadar dan memahami sebelum semuanya diambil. Itu pun terjadi berkat daya dan kekuatan-Nya. Satu lagi yang perlu diingat, bahwa Allah tidak pernah butuh dengan amalan-amalan kita. Justru kitalah yang membutuhkannya.
Bangkalan, 1 Mei 2017 - 12:30 WIB
0 komentar