Manusia Jujur Tak Ternilai

Aku selalu mengimani jika manusia yang jujur akan mendapat tempat khusus di sisi Tuhannya. 

Kita dapat mempelajari teori Matematika, Ekonomi, Sains, dan sebagainya di bangku kelas. Namun menjadi manusia yang jujur tidak akan pernah cukup dengan hanya mendengarkan materinya di kelas. Perlu praktik, prinsip dan komitmen yang ditancapkan dalam-dalam ke sanubari. Agar tidak oleng ataupun goyah. Walau kemanapun kaki melangkah.

***

Kehidupan kerap menjadi pelajaran yang tidak terlupakan. Belajar tidak hanya identik dengan membaca dan menulis secara arti sesungguhnya. Karena dengan melihat mozaik kehidupan, bisa jadi seseorang tengah belajar.

***

Pernah aku terkesiap saat sopir bus dengan santainya mengembalikan kembalian ongkos yang nominalnya hanya seribu rupiah. Sedikit memang. Namun cukup membuatku berpikir bahwa masih ada sopir-sopir bus yang memelihara kejujuran. Masih ada. Masih banyak. Sama halnya saat aku mendapati sopir bus yang ramah dan baik. Tidak memperlakukan penumpang layaknya barang. Mereka seperti seseorang yang pernah belajar ilmu pemasaran. Ya, memang. Mereka mempelajarinya dari kehidupan. Namun sayang, banyak sopir yang diberi pelajaran yang sama namun lalai mengerjakannya, bahkan untuk sekadar memperhatikannya.

***

Aku juga terenyuh ketika seorang pedagang pengecer aneka rempah-rempah datang ke rumah. Saat itu Ibu sedang tidak ada, jadi pedagang yang ku taksir berusia enam puluh tahun lebih itu memberikan sejumlah uang kepadaku. Itu uang hasil menjual serai.
Jadi begini, kebun di timur rumah kami tanami serai. Dulu kami memanennya secara massal lalu menjualnya sendiri ke pasar. Namun karena terkendala di pemasaran, akhirnya kami hanya memanen beberapa kilo sesuai permintaan pengecer yang datang ke rumah. Adapun kendala pemasarannya terletak pada fakta bahwa banyak serai yang didatangkan dari Jawa untuk dijual di Madura. Akhirnya serai mereka yang besar-besar mampu mengeser serai lokal. Singkat cerita, itulah uang yang kini Nenek itu beri padaku. Namun bukan itu klimaks-nya. Melainkan kalimat yang beliau lontarkan. Begini: "Nak, uangnya masih kurang lima ratus rupiah, ya. Besok saya kesini lagi. Soalnya tadi baru datang dari ladang."
Pecahan yang bagi kita tidak seberapa itu memberi pelajaran tentang nilai kejujuran yang berasal dari sosok sederhana, namun bermakna.

Di Jaman sekarang, kita acapkali seperti seekor sapi yang dicucuk hidungnya. Menurut saja jika disuruh kesana kemari. Ini seperti apa yang diungkapkan Bu Ratna, tentang sistem di beberapa toko dan swalayan yang menjadikan permen sebagai kembalian. Kita langsung mengiyakan. Tidak protes dengan itu. Maka seperti apa yang disampaikan guru saya itu, beliau akhirnya bilang pada si kasir: "Mbak, nanti kalo saya beli-beli pake permen berarti bisa, ya!" "Oh, bisa, Bu." Akhirnya beliau kembali beberapa saat kemudian. Sesuai kesepakatan, beliau membeli barang menggunakan permen kembalian tadi. Itu yang beliau sebut fair. Namun menurutnya, kejadian itu hanya terjadi karena kesepakatan yang dibuat beberapa saat dan sang kasir masih mengingat. Jika tidak?

***

Jujur juga terkait dengan yang namanya keadilan. Saat seseorang menerapkan kejujuran, ia juga membuat keadilan senantiasa terpelihara. Adil pada diri sendiri. Adil pada orang lain.

Lihatlah, dewasa ini, diseluruh penjuru negeri para pejabat membohongi hati nurani. Mereka seakan tidak pernah mengenal pelajaran apalagi praktik perihal kejujuran. Saat dikatakan tidak adil mereka tidak peduli. Asal kepentingan pribadi terpenuhi. Mereka lebih tidak peduli saat rakyat menjerit kelaparan dan mengeluh. Asal perut mereka penuh. Persetan jika hati makin kotor. Asal belum dinobatkan menjadi koruptor. Persetan rakyat menderita. Asal mereka masih bisa menggunakan tameng agama.

Hidup yang dijalani rakyat seperti sopir bus, pedagang kecil dan lain-lain hanya dianggap sebagai episode sinetron yang tak kunjung usai dan patut dilewati begitu saja.

***

Kawan, tetaplah menjadi manusia jujur tak ternilai kemanapun kaki melangkah. Karena kita akan selalu mengimani jika manusia jujur akan mendapat tempat khusus di sisi Tuhannya.

Bangkalan, 25 April 2017 - 05:15 WIB

0 komentar