Kawan, pernahkah kita berpikir berapa akumulasi waktu yang kita habiskan untuk berselancar di dunia maya hanya untuk kebutuhan 'refreshing'?
Pernahkah juga kita mengakumulasi waktu yang kita habiskan untuk berkerumul dengan game?
Pernahkah kita berpikir berapa jumlah waktu yang kita habiskan hanya demi drama korea, dsb?
Pernahkah juga kita menjumlahkan waktu yang kita habiskan untuk kegiatan-kegiatan bersifat hiburan lainnya?
Dari semua kegiatan itu, saya pernah mengakumulasinya. Jangan tanya tentang surfing di dumay. Karena saya pernah menceritakan pasal itu pada kalian. Saya juga pernah amat kecanduan dengan game, puncaknya saat menginjak SMP. Saya juga acapkali menghabiskan waktu untuk menonton drakor (drama korea), dan film-film barat. Iya, tak bisa dipungkiri, semua itu memang menyenangkan. Lebih tepatnya melenakan. Membuat lupa masa, lupa waktu.
***
"Demi masa." (QS. Al-Ashr: 1).
***
Akhir-akhir ini saya sering berpikir untuk menjumlahkan waktu yang saya habiskan untuk sekadar menunggu angkutan, atau menuggu di dalam bus yang tengah ngetem. Lama. Jika tidak sedang beruntung bisa berjam-jam. Saya lalu berpikir untuk mengakumulasikannya dengan lama perjalanan dari rumah ke kampus dan dari kampus ke rumah. Berapa angka yang akan saya dapat per hari lalu dikalikan per minggu, dst. Habis sudah umur saya hanya untuk menunggu angkutan, perjalanan, dan ngetem. Itulah mengapa kawan-kawan sering menasehati saya untuk menetap di kost saja. Lalu saya tidak mampu menjamin jika di kost saya akan kembali ke masa SMP saya dulu, berkerumul dengan game, drakor dan dumay.
Maka, saya mulai berpikir apa kegiatan yang ringan dilakukan kala menunggu angkutan dan bus ngetem, namun manfaatnya bisa dirasakan.
Dan yah! Saya (insyaaAllah) menemukannya.
***
Semua kegiatan berbau hiburan jika secara wajar dan kadar yang sesuai memang tidak ada salahnya. Apa salahnya merefresh otak yang penuh dengan rutinitas harian. Namun ada tipikal orang--seperti saya--yang jika sudah mencoba sesuatu akan mudah menggandrunginya. Saya kalau sudah memulai bermain sebuah game pasti akan menandaskan levelnya hingga tamat. Pun drakor dan sbgnya. Itulah mengapa kini saya berusaha tidak menginstal aplikasi game di hape saya. Meski tidak naif, jika saya kerap ingin sekali bermain game, nonton drakor, dll saat ini-itu belum kelar.
***
Yang perlu dimengerti adalah bagaimana kita memperlakukan hobi atau rutinitas kita. Akan dibawa kemanakah rutinitas itu? Apakah hanya sekadar hobi dan suka saja? Permisalan mudahnya seperti ini; seseorang belum dikatakan profesional dan dapat mengambil saripati dari hobinya hanya karena berlabel 'suka'. Mereka harus benar-benar mengaplikasikannya. Orang yang suka menbaca kemudian tekun, dapat melatih dan mengembangkan diri di dunia reportase. Orang yang suka memasak belum dikatakan profesional hingga ia menempa diri dengan mengikuti berbagai lomba masak, atau membuat usaha kuliner. Pun orang yang suka menulis hingga ia mengikuti beragam kompetisi, sekadar berbagi, atau menerbitkan buku.Orang yang gemar bermain game belum mampu memetik hasilnya hingga ia benar-benar menjadi seorang gamer profesional. Orang yang suka menjahit, harus mampu membuka order jahitan. Orang yang sedari kecil seringkali membaca komik Jepang sebagai hobi, akhirnya saat menginjak dewasa bisa memetik buah manis karena lancar dan fasih berbahasa Jepang. Dan berbagai contoh lain.
***
Umur manusia diperkirakan hanya beberapa puluh tahun saja. Sedang saya tidak pernah mengetahui berapa sisa umur saya. Saya terkadang takut, jangan-jangan setelah diakumlasi oleh malaikat yang bertugas untuk itu, timbangan saya berat di hiburan. Duh, ya Allah biha ya Allah biha.Ya Allah bihusnil khotimah.
***
Menurut Agnes Mo, ketika ditanya tentang apakah ia tidak takut kehilangan masa mudanya. Ia menjawab dengan santai bahwa ia lebih takut jika harus kehilangan masa tuanya.
***
Ini pesan Pak Andrie kala mengisi MK dulu, beberapa tahun silam: "Mulai sekarang, cobalah baca buku berat, berteori. Nanti beberapa tahun kedepan jumlahkan. Sudah berapa buku yang kalian baca." juga ungkapan penulis ulung Tere Liye yang tak kalah menukik di hati: "Bacalah sepuluh buku saja, maka kau akan merasa sok tahu." dan "Membaca adalah sumber kebahagiaan, jika kita bete, kesal, sakit hati dan sebagainya, maka bergegaslah membaca. InsyaaAllah suasana hati akan lebih tenteram. Dan ingatlah, satu dari sepuluh, novel hanya ada di urutan ke sepuluh bacaan-bacaan terbaik. Masih ada sembilan urutan prioritas lainnya."
***
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan." (QS. Al-'Alaq: 1).
***
Bangkalan, 24 April 2017 - 04:22 WIB
0 komentar