[Obrolan santai || 😔: Lut, kamu kok ga pernah ngelike postinganku? 😅: Hehe, maap, aku jarang nyecroll newsfeed ampe bawah. Paling-paling cuma yg top. Ato cuma ngupdate status dan liat notif. Maklumlah, biar ga terlalu kecanduan kek dulu (ngeles, padahal biar hemat data), sampe paham amat seluk beluk facebook. Sorry ya, hehe. 😒: Nyesel aku nanya. 😂: Duh, cerewet suka kambuh. 😴: Hzz~]
***
Cacian dan pujian adalah sama. Keduanya sama-sama mampu mengantarkan kita kepada kesuksesan ataupun kepada lembah kehancuran. Bergantung pada bagaimana kita menyikapi cacian dan pujian.
Pujian bisa jadi membuat kita tersenyum, namun jangan sampai kita terlena dan terjebak didalamnya. Rasul pernah bersabda tentang peringatan bahwa kita harus mewaspadai perbuatan yang satu ini. Beliau mengibaratkan orang yang memuji orang (saudara seiman) lain seperti memenggal kepala orang itu. Itu adalah sebagai bentuk bahwa pujian mampu memberikan kemudharatan pada yang menerimanya. Untuk itulah rasul berpesan agar kita senantiasa memohon ampun atas diri kita dan diri orang lain yang memuji kita. Beliau sendiri jika memuji para sahabat tidak langsung di depan mereka, akan tetapi saat sahabat yang dipuji tidak ada. Ini bertujuan agar menjadi motivasi untuk yang lain. Namun tidak menjerumuskan yang dipuji.
Mengapa memuji disebut sebagai salah satu cara untuk menjerumuskan? Karena kadangkala pujian yang berlebihan, setinggi langit cenderung membuat yang dipuji terjerumus ke sifat tercela, yakni ujub dan sombong. Dalam keseharian, kita tidak mampu mengelak jika kita memang sudah tidak asing lagi dengan pujian dan memuji. Maka dari itu, kita perlu untuk memahami bagaimana cara untuk meyikapinya.
Saat menerima pujian hendaknya kita menghargai dan mengapresiasi orang yang telah memuji kita. Lebih-lebih pujian yang mereka lontarkan dengan tulus. Jadikanlah pujian sebagai pemantik semangat. Pemacu agar kita mampu lebih baik dan lebih baik lagi. Jangan cepat puas diri. Namun bukan juga terlalu ambisius berburu duniawi. Karena bahasannya disini sangatlah luas.
Selalu bersikap rendah hati. Karena semua terjadi hanya berkat daya dan kekuatan-Nya. Selalu berpikir bahwa masih banyak orang yang lebih baik dan lebih hebat daripada kita. Ini membuat kita tidak akan sampai hati untuk meremehkan orang lain. Pun selalu ingat jika ada Yang Maha Baik dan Maha Hebat.
Saat menerima pujian, kita hendaknya juga mengingat jika Allah hanya sedang memperlihatkan kebaikan-kebaikan dan menutupi aib-aib yang kita miliki.
Kemudian jangan lupa bersyukur saat menerima pujian. Semua hanyalah sebuah titipan. Meski hanya seuntai pujian.
***
Lalu bagaimana menyikapi cacian yang kerap begitu menyakitkan?
Sama, jadikanlah cacian sebagai pemantik semangat. Pemacu agar kita mampu lebih baik dan lebih baik lagi.
Selain itu jadikan cacian sebagai pengingat untuk muhasabah diri, intropeksi.
Cacian tidak lantas membuat kita lemah dan keok menjalani kehidupan. Tapi cacian adalah sesuatu yang mampu membuat kita melesat ke depan.
Kita hendaknya mengingat Allah di setiap waktu. Pun saat menerima cacian. Berdoa, memohon padanya supaya selalu diberikan kekuatan dan kesabaran. Karena hakikatnya, cacian adalah sebuah ujian.
Bersyukur, karena Allah mau mengingatkan kita lewat cacian yang dilontarkan oleh orang lain. Bersyukur, karena itu artinya Allah masih mau menganggap kita sebagai hamba-Nya.
***
Ingat, cacian dan pujian adalah sama-sama sebuah ujian untuk kita. Keduanya sama-sama mampu mengantarkan kita kepada kesuksesan ataupun kepada lembah kehancuran.
***
[Nyanyi lagunya Smash 🎤 : "Cacian loe gue cuci dengan senyuman prestasi."]
Bangkalan, 23 April 2017 - 05:46 WIB
0 komentar