Kita Juga Butuh 'Charger'

MashaaAllah, apa yang telah teman-teman makan, ya? (original text: Gilaaa, temen-temen pada abis makan apaan yak? Paraah ) Presentasi jadi hidup, karena materi yang mereka bawakan dengan cas-cis-cus. "Berapa jurnal dan buku yang telah mereka bolak-balik?" benakku bergumam.
Ini presentasi awal MK PBI. Pun kelompok yang maju adalah kelompok yang mengacungkan tangan di awal perkuliahan, siap untuk presentasi perdana. Lalu aku? Kenapa tidak mengacung? Hehe, setelah libur panjang rasanya otak masih connecting, belum connected. Jadi aku biarkan yang lain, memberikan kesempatan, wkwk. Jika dipaksakan aku khawatir hasilnya tidak maksimal. Khawatir tidak mampu memahami dan menyajikan materi dengan baik. Ah, tolong jangan ditiru.
Semua kekhawatiran itu kadang bisa menjadi senjata yang akan melukai diri kita sendiri. Pun saat aku mulai khawatir aku tidak mampu menyiapkan presentasi matang layaknya presentasi hari ini. Saat aku khawatir hingga akhirnya tidak mengangkat tangan untuk bertanya. Belum lagi saat ada notice bahwa pernyataan tidak boleh terlalu mendalam karena ini masih pengantar. Aku jadi makin urung bertanya. Jangan-jangan pertanyaanku terlalu mendalam atau bahkan Jaka Sembung makan gulali, tidak nyambung sama sekali. Well, ini sebenarnya sudah terjadi jauh-jauh hari bahkan tahun.
Saat MTs aku sering kali urung bertanya karena menganggap pertanyaanku terlalu remeh temeh. Namun sering juga aku dapat melawan kekhawatiran itu.
Hei, bukankah kita bisa menyentuhkan jari kita di qwerty lantas mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita tanpa harus meredam rasa khawatir atau malu? Menunggu sepersekian detik saja deretan kalimat akan terbit.
Well, tentu. Akan tetapi ini bukan soal 'aktualisasi' diri yang negatif. Namun bagaimana melatih diri menjadi lebih percaya diri dan berani mengungkapkan pendapat. Setidaknya itu pemikiran yang ku dapat saat di MA. Namun hari ini aku tidak menggubrisnya. Aku keburu terpelongo menyaksikan jalannya diskusi. Hanya menyaksikan. Barangkali ada beberapa yang ku pahami. Lalu urungnya pertanyaan ini meluncur karena aku berpikir ini bukan tentang bertanya atau tidak, tetapi paham atau tidak. Duh, selalu mencari alibi. Sekali lagi tolong jangan ditiru. Lagipula aku juga tidak yakin bahwa aku benar-benar paham. 
Kekhawatiran mengingat otak yang sepertinya lowbat karena libur panjang ini sebenarnya karena kurangnya aku men-charge-nya. Atau mungkin tidak pernah. Pun saat bertanya dan khawatir ini itu juga karena aku kurang men-charge pikiran dengan membaca banyak buku ilmiah dan jurnal yang harusnya sudah menjadi menu makan wajib. Duh, Gusti. Aku bahkan telah lama memahami konsep sederhana ini. Namun ternyata memang butuh kesungguhan untuk menerapkannya. Aku jadi teringat ungkapan yang kerap disampaikan Pak Andrie pada kuliahnya: Banyak membaca banyak lupa. Sedikit membaca sedikit lupa. Tidak membaca tidak ada yang lupa. Ungkapan yang bisa jadi sangat sederhana bagi sebagian orang, namun sangat menukik bagiku.
Aku dulu pernah mempunyai seorang teman yang  seakan tidak pernah kehabisan kata saat setiap presentasi. Apapun pelajarannya. Dia juga pandai sekali bertanya atau menjawab. Tidak berdiskusi dalam sebuah presentasi secara membabi buta. Aku kira itu memang kelebihan yang dianugerahkan padanya. Tetapi pada suatu hari saat presentasi ada sebuah kejadian yang membuatku merenung. Ku dapati dia serupa seseorang yang kehilangan ruh, kelabakan menjawab pertanyaan. Pada akhirnya aku tahu alasannya: tidak membaca dan memahami materi. Hmm, ternyata kita memang senantiasa butuh men-charge otak dengan buku-buku. Dengan ilmu. Sebagai makanan otak yang paling dibutuhkan.
Ini juga berlaku pada keimanaan dan ketaqwaan. Keduanya bersifat fluktuatif. Oleh karenanya kita juga butuh 'charger' untuk itu. Agar nantinya tidak sampai lowbat. Nauzubillahimindzalik~
''Setiap orang memiliki potensi untuk baik dan lebih baik. Pun potensi untuk buruk dan lebih buruk."
-Lutfiyah
Bangkalan, 15 Maret 2017 - 21:44 WIB

0 komentar