Cinta. Apa itu cinta? Sejauh
pemahamanku, cinta itu fitrah. Cinta adalah perasaan suci yang di anugerahkan
Sang Illahi di setiap kalbu manusia. Benih cinta tumbuh di hati yang tulus dan
dipelihara oleh kepercayaan dan kesetiaan. Bagi orang yang beriman, tidak ada
cinta yang lebih indah dibanding cinta kepada Allah. Dibuktikan dengan
mengerjakan perintah-Nya dan menjahui larangan-Nya dengan ikhlas. Namun bagaimana
cinta pada sesosok manusia atau lawan jenis. Seperti apakah cinta yang tulus
dan sejati?
Tentunya rasa cinta tidak akan timbul
jika seseorang tidak terlebih dahulu jatuh cinta. Pertanyaan lain muncul, jatuh
cinta seperti apa yang murni dari hati nurani? Bukan sekedar aplikasi murahan
dari hawa nafsu. Apa jatuh cinta itu seperti yang sering orang-orang ceritakan
padaku. Bermula saat mereka bertemu, saling memandang, saling bertukar nomor handphone, dan lama kelamaan mereka
jatuh cinta, katanya. Kemudian cerita lain yang hampir sama. Awalnya ia
mengagumi seseorang karena ketampanannya, bersikeras mendapat pin messenger-nya, kemudian saling
berkomunikasi, dan akhirnya saling mencintai. Lalu cerita-cerita lain yang
jujur, masih belum dapat menjawab pertanyaanku.
Dari beberapa cerita itu dapat ku pahami
bahwa bagi mereka jatuh cinta itu dari mata yang memandang, kemudian hati yang
merasakan. Seperti ungkapan yang cukup familiar
yaitu; cinta itu dari mata turun ke
hati. Dengan kata lain mereka mencintai karena melihat fisik terlebih
dahulu. Ini jika kita artikan kata ‘memandang’ dengan melihat ukuran fisik.
Lalu, bukankah akan menjadi bias di zaman kekinian ini jika kita hanya melihat
dari tampilan luar. Era dimana lebih banyak orang berlomba-lomba mengenakan
pakaian bagus, make-up seperti apa
yang tengah nge-hits, handphone dengan
kamera sekian piksel dan spot foto
yang tidak memalukan untuk dipamerkan. Karenanya, timbul pemahaman bahwa isi
otak dan hati seseorang tidaklah nampak, yang pertama kali tertangkap pandangan
adalah penampilan. Namun jika kita artikan kata itu dengan bagaimana cara kita
memandang ketaqwaan seseorang, maka beda lagi pemahamannya. Hal ini mengingatkanku
pada kalimat seorang bijak yang berbunyi; nafsu
mengatakan perempuan cantik atas dasar rupanya, akal mengatakan perempuan itu
cantik atas dasar ilmu atau kepintarannya, dan hati mengatakan perempuan itu
cantik atas dasar akhlaknya.
Jadi, salah satu indikator bahwa cinta
datangnya tulus dan murni dari hati karena kita melihat akhlak atau ketaqwaan
seseorang. Ya, mungkin itu salah satunya pikirku. Lalu indikator lain ialah tak
lain karena cinta yang Allah Azza Wa Jalla berikan dengan cara-Nya sendiri. Cara-cara
yang tidak kita pahami namun pada akhirnya membuat rasa cinta tumbuh dalam hati
manusia.
Lalu harus bagaimanakah seorang hamba
yang baik membawa cintanya? Bila seseorang telah siap di berbagai hal, maka akan
terjadi prosesi mengkhitbah lalu menikah, membangun mahligai rumah tangga
sesuai syariat-Nya. Namun bagaimana jika hal ini terjadi pada anak remaja yang belum
saatnya ber-ta’aruf apalagi menikah. Bagaimana mereka meluapkan rasa cinta
masing-masing?
Jawabannya adalah cinta dalam diam. Saat
kita mencintai seseorang, hendaknya kita mencintainya dalam diam. Kita hanya
mengutarakannya pada cinta sejati kita, Allah SWT. Karena Allah mengetahui apa
yang terbaik untuk hamba-Nya. Aku jadi teringat kalimat dalam sebuah novel
karya Taufiqqurrahman Al Azizy yakni “Diam
adalah bahasa cinta yang paling dalam, paling halus, dan paling lembut’’.
Mencintai dalam diam hingga Allah
mempertemukan kalian dalam keadaan yang terbaik. Seperti kisah cinta Ali bin
Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra yang begitu populer. Meskipun tidak seperti
kisah tersebut dan kelak seseorang yang kita cintai dalam diam tidak berjodoh
dengan kita tak mengapa. Itu artinya Allah akan memberikan jodoh yang lebih tepat.
Mencintai dalam diam karena sama-sama mencintai Allah, cinta yang paling suci,
cinta diatas segalanya.
Allah SWT berfirman dalam Kalam-Nya:
“Dan
janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan
keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Israa’:32)
Itulah alasan mengapa pacaran sebelum menikah tidak diperbolehkan. Islam ingin menaungi pemeluknya dengan kehormatan. Menghindarkan kita dari kejinya suatu perbuatan. Karena mencintai seseorang bukan hanya tentang waktu dan tentang keberanian mengungkapkan. Melainkan tentang seberapa tinggi tingkat keimanan dan ketaqwaan. Karena tidak semua perasaan harus diikuti maupun diungkapkan. Lihatlah, telah banyak manusia yang tak sabaran, terburu-buru mengungkapkan, tak memahami keadaan. Pada akhirnya, mereka jatuh di lembah kehinaan. Na’uzubillahiminzalik.
Pada akhirnya, semua kembali pada prinsip, cara dan jalan hidup masing-masing orang. Wallahua'lam.
’’If you ask me about love, and what I know about it my answer would be. It’s everything about Allah. The pure love to our souls. The creator of you and me…’’
~ Maher Zain-Always be there ~
Modified on 12nd of March 2017
0 komentar