Bersyukur adalah Jalan yang Terbaik

Saya dulu berpikir bahwa betapa bahagianya saya saat punya komputer. Saya bisa belajar komputer tanpa menunggu mata pelajaran ini di sekolah. Menggambar sesuka hati, mengetik sepuas jari jemari, mendengarkan musik-musik asing, menikmati alunan kalamullah, mendesain grafis dengan lihai, mengedit foto, dsbgnya. Mengeksplor komputer itu.
Namun apa yang terjadi?
Setelah saya, maksud saya 'kami' memilikinya, jangankan mengetik sebanyak-banyaknya, belajar mengetik sepuluh jari saja sudah urung. Terlanjur malas. Sibuk tak seberapa saya jadikan alibi. Alhasil harus sadar dengan kemampuan ilmu komputer yang masih belum mumpuni. Padahal kala itu, ini adalah mapel yang sangat saya gandrungi.
Beberapa tahun berlalu. Benda hitam itu termakan usia. Tamat sudah riwayatnya. Dan saya hanya bisa menyesali betapa saya tidak memanfaatkannya dengan sangat baik. Hingga akhirnya semesta membawakan benda serupa untuk kedua kalinya.
Apa yang terjadi?
Nihil.
Apa mungkin memang karena pengertian akan kata 'maksimal' bagi saya terlampau tinggi. Entah, jangan-jangan masih sangat rendah.
Lalu, menapaki dunia perkuliahan membuat saya berpikir lagi. Jika saya mempunyai sebuah laptop bukankah akan lebih menyenangkan?
Saya bisa menulis banyak karya tulis ilmiah.
Saya bisa lebih banyak meraup ilmu dengan mudah.
Saya bisa lebih gampang mengulik bermacam informasi, selebriti *eh.
Saya bisa bersungguh-sungguh belajar ilmu komputer.
Dan yang terpenting, saya tidak akan kelimpungan jika ada tugas kelompok.
Namun, pikiran-pikiran itu seakan lari terbirit-birit menanggung malu.
Bagaimana tidak, sedari tadi laptop yang saya pinjam dari Kakak mendengus sebal. Belum sepersekian menit saya menyentuhnya. Dan sekarang didiamkan begitu saja. Skakmat. Iya, tak ada ide dan malas kadang memang beda tipis. Hanya terpisah dengan sehelai kain yang nerawang. Seperti pakaian-pakaian kekinian *eh.
Sama halnya saat saya berpikir jika saya memiliki kendaraan pribadi. Saya dapat mengikuti beberapa kegiatan diluar kelas. Menggali lebih banyak pelajaran. Menimba lebih banyak ilmu. Memiliki berupa-rupa teman. Namun, hei! Memang benar, betapa saya memang tidak mengamalkan apa yang dimaksud untuk bersyukur. Saya selalu merasa kurang. Tak pernah puas. Inilah kodrat manusia. Namun bukankah masih mampu menepisnya.
Saya benar-benar malu mendengar ceritanya. Kakak yang dengan keterbatasannya bisa mengetik dengan sepuluh jari hanya dalam sehari. Dengan keterbatasannya masih mampu tergabung diberbagai organisasi.
Jadi, bukankah ini hanya soal kesungguhan?
Atau saya memang harus memilih bersyukur. Karena bersyukur adalah jalan yang terbaik.
"Tahukah kita, diri kita dan apapun yang kita miliki adalah yang terbaik untuk kita, bukan untuk orang lain. Apa yang dimiliki orang lain, itulah yang terbaik untuk mereka, bukan untuk kita. Seandainya kita paham konsep kecil ini, kita tidak perlu iri hari. Sayangnya diantara kita, saling membandingkan lalu menyakiti diri sendiri. Tahukah kita, waktu kita tidak banyak. Sayangnya, diantara kita banyak yang lupa waktu. Aku pun--begitu."
- Kurniawan Gunadi
Ah, saya mohon. Jangan menatap saya seperti itu. Iya, saya tahu anda tengah mati suri. Iya, saya tahu tugas EPP belum sama sekali. Iya, saya memang gemar menunda, seakan sibuk kesana kemari. Secepatnya, anda tidak akan lagi seperti ini. Berterima kasihlah pada Kak Yusuf -- yang akan memberi anda kehidupan untuk yang ketiga kali, berterima kasihlah!
*ngomong sama komputer -___-"
Bangkalan, 7 Maret 2017 - 22:04 WIB.

0 komentar