Entah ini sudah berapa kali saya salah masuk gang. Padahal sudah berkali-kali ke kost Ulfa yang berada di gang lima. Tapi selalu salah masuk ke gang empat dimana kost lama Elza berdiri. Berapa kali saya ingatkan diri saya untuk mengingat, namun tetap saja tidak ingat. Membuat tawa Ulfa meluap boros. Lantas pipi saya agaknya memerah dengan mimik seperti emoticon ini ---
Hmm, jangan-jangan saya memang malas berpikir out of the box. Terlalu lurus. Seperti penggaris baru di etalase. Buktinya saya baru paham batas daerah cendana dan telang indah. Buktinya waktu itu saya tidak mengerti mengapa Wi Fi Zone ditutup dalam waktu yang lama. Saya tidak mengetahui berapa unit mini bus yang beroperasi di Sumenep sampai Bangkalan, mengingat saya selalu menaiki bis yang berbeda setiap hari. Jarang jika saya akan menaiki bis yang sama. Saya juga tidak paham bahwa ribuan chatting di WA (misalnya) dapat dijadikan bahan tulisan yang keren. Saya tidak berpikir bahwa ribuan teman di medsos adalah pasar yang begitu potensial. Saya juga baru tau bahwa Bapak-bapak yang menjual es potong kesukaan saya berasal dari Jawa Tengah. Lalu pernahkah saya berpikir bahwa saya akan mampu menjadi petani berdasi nan bijak atau manajer yang berhati mulia.
Apa memang karena terlalu lurus? Jangan-jangan saya tidak memahami kenapa saya di didik untuk berjiwa tani, pebisnis mandiri, atau lain waktu juga dituntut untuk menjadi seorang manajer yang harus ahli menimbang dan memutuskan.
Pernahkah saya berpikir bahwa dunia ilmu saya tidak hanya dibatasi oleh bangku dan meja kuliah, layar proyektor, buku dan jurnal-jurnal yang bahkan belum saya lampaui batasnya. Pernahkah?
Yang pasti adalah saya tidak begitu paham bagaimana rumitnya menjadi seorang petani, rumitnya mencari pekerjaan, rumitnya merintis sebuah usaha, rumitnya menjadi seorang manajer, dan lain sebagainya. Namun saya akan terus berusaha belajar, belajar berbagai hal. Satu yang pasti harus dipelajari: bahwa saya harus belajar memelihara hati yang bersih. Agar setiap pelajaran meresap hingga ke tulang belulang. Memasuki urat-urat dan mengalir bersama darah. Karena ingat, bahwa Allah alladzii 'allama bil qalam.
Bangkalan, 18 Maret 2017 - 19:31 WIB
0 komentar