Berpikirlah~

Aku dulu merengut saat kenek 'nakal' memberikan kembalian dengan besaran yang tidak semestinya. Secara otomatis aku akan protes, menagih kejujuran. Mengimplementasikan apa yang disebut kritis di atas benda bernamakan bis. Bukankah akan lega dan bangga saat kita telah menang? Seperti saat berdebat di ruang kelas, di warung kopi, kafe-kafe hits, berdebat dengan adik atau saudara, dan sejenisnya. 
Sekarang berbeda. Aku hanya menegur sembari tersenyum. Karena aku tak pernah tahu apa yang telah mereka lewati. Bagaimana hari mereka, anak-anak mereka, saudara mereka, dan sebagainya. Apakah mereka telah melewati hari-hari yang buruk, anak-anak yang meminta dibelikan ini itu, kabar pilu tentang kerabat dan saudara, dll.
Aku tidak pernah mengetahuinya.
Ya-sudah-lah, jika memang uang sakuku (yang menurut beberapa orang sedikit) ini cukup untuk pulang dari dan berangkat ke kampus. Biarlah mereka mengambil lebih. Tak perlu protes jika hanya beberapa lembar.
Aku dulu juga akan merengut jika dioper ke angkot sejenis carry yang ngetemnya bisa mencapai satu jam. Mereka telah membuat aku terlambat dalam berbagai hal. Merusak agenda yang jauh-jauh hari terdaftar. Bagaimana kalau ini terjadi pada pebisnis yang setiap sepersekian detiknya adalah permata? Ah, mereka mana naik angkot. Hehehe, jarang sekali.
Sekarang berbeda. Aku berpikir tentang telah berapa jam yang mereka habiskan untuk mengetem atau menunggu operan. Aku berpikir bahwa itu bisa jadi adalah satu-satunya profesi yang harus ia jalani. Meski jalan sering kali sepi seperti kota mati. Meski rupiah bahkan tak mencukupi untuk membeli sesuap nasi. Lalu siapa yang mesti disalahkan? Pemerintah?
Angkot yang aku naiki hari ini hanya mendapatkan tiga ekor manusia (termasuk aku) dari operan mini bus. Namun ia terpaksa harus berangkat. Meski sopir menjalankannya dengan berat. Terasa, karena jalannya amat lambat.
Selalu begitu, setiap pagi. Selalu begitu, dioper. Selalu begitu, pemandangan yang memilukan. Selalu begitu, uang-uang ribuan. Anehnya baru sekitar semester empat lalu aku menemukan pemikiran-pemikiran ini. Pemikiran yang akhirnya membuatku lebih mudah tersenyum ketimbang merengut. Pemikiran yang membuatku harus berangkat lebih awal lagi. Pemikiran yang membuatku lebih mencintai dan menghargai masa. Pemikiran yang membuatku lebih peduli terhadap sesama. Pemikiran yang membuatku berpikir bahwa setiap pemikiran masih ada celah untuk timbulnya pikiran yang perlu dipikirkan. Dan bermacam pemikiran lain.
Lalu benar perkataan bahwa kita perlu berpikir lebih ketimbang banyak berbicara. Dalam islam juga sangat dianjurkan untuk berpikir, merenung.
Maka, berpikirlah!
Bangkalan, 19 Maret 2017 - 10:03 WIB

0 komentar