Mobil-mobil mewah digarasi, rumah-rumah megah tak terperi, pakaian-pakaian branded di lemari, perhiasan-perhiasan elok di dalam peti, makanan-makanan lezat yang tersaji, gadget-gadget canggih saling menandingi, dan berbagai pernak-pernik kehidupan lain yang menghiasi hari. Usai bersusah payah, berlama-lama mengais rezeki. Menempa potensi diri. Bukankah itu acapkali membuat kita bangga? Perolehan yang membuat banyak dari kita tersenyum bangga.
Baiklah, jangan sampai sejauh itu sampelnya. Kita bisa lihat, saat kita telah mendapat nilai-nilai bagus di kelas, prestasi-prestasi memukau, kegiatan-kegiatan menakjubkan, teman-teman baik, keluarga yang hangat, dan lain sebagainya. Bukankah seringkali terbesit perasaan bangga dengan nilai-nilai itu? Dengan prestasi-prestasi itu? Dengan pemberian-pemberian itu?
Duh, apa sih kita ini? Hanya setitik dari triliunan orang di dunia. Hanya satu dari hamparan pasir di gurun Sahara. Hanya sebutir biji zarrah tak kasat mata. Hanya seorang hamba.
Kalau bukan karena kebaikan Tuhan, tidaklah mampu semuanya terjadi. Berkat daya dan kekuatan-Nya kita mampu meraih mimpi-mimpi. Sesungguhnya, Laa Haula Wa Laa Quwwata Illaa Billah.
Jangan bangga dengan apapun yang kita peroleh. Kapan saja Tuhan menginginkannya kembali, maka kembalilah titipan-titipan itu pada pemilik sebenarnya. Secepat kilat.
Teori. Ini bukan hanya sebuah teori. Saya pribadi pernah mengalaminya. Waktu itu dengan semangat yang agaknya mengebu-gebu, saya telah siap untuk berangkat kuliah. Tugas-tugas sudah siap dikumpulkan, pakaian telah dirapikan, telah menuntaskan sarapan, dan berbagai deskripsi lain yang intinya saya telah siap belajar, menyongsong masa depan cerah dipagi yang juga cerah, demi menghilangkan kebodohan.
Saya bahkan telah hampir sampai. Hanya beberapa meter dari gerbang kampus. Namun kecelakaan itu telah mengubah segalanya. Kejadian secepat kilat itu mengubah pagi cerah saya menjadi suram. Secepat kilat mengubah segalanya. Yang tadinya akan menghadapi dosen-dosen dengan segala ilmu menakjubkan yang mereka miliki. Kini saya harus menghadapi dokter-dokter dengan segala berdasarkan ilmu yang juga mereka miliki. Duh gusti, betapa cepat kilat itu menyambar. Betapa lekas roda itu berputar. Mengubah hidup saya beberapa bulan kedepan. Mengajari saya bahwa apapun yang kita miliki adalah titipan. Kapan saja Dia mau Dia bisa menguji atau bahkan mengambilnya.
Kala itu, jangankan berpikir tentang presentasi di kelas dan beragam tugas-tugas. Memikirkan kapan bisa mengikat rambut sendiri saja belum menemukan jawabannya.
Saya mengimani bahwa kejadian dan ketentuan terjadi terjadi karena daya dan kekuatan-Nya. Yang mampu mengubah segalanya. Meluruhkan perasaan bangga yang melekat begitu lama. Mengingat kembali bahwa saya hanyalah seorang hamba.
Itulah sedikit pengalaman saya. Semoga bisa menjadi sebuah pelajaran berharga. Ingat, jangan bangga. Semua hanyalah titipan semata.
Bangkalan, 25 Maret 2017 - 15:58 WIB
0 komentar