Haaaai, how's life?
May Allah always bless us forever after. Amien.
May Allah always bless us forever after. Amien.
Ini hari kedua saya berada di P4S Persada Nusantara, Lumajang. Nyampe sini sebenernya pengin berbagi ilmu yang didapet, kalo lagi senggang kek gini. Tapi berhubung tadi malem pas diskusi sama Bapak Machmud sebelum kita perkenalan sama adek-adek SMK Pertanian dan anggota P4S kita lupa bawa catetan. (Akhirnya titik--baca satu tarikan napas satu kalimat tadi. Jangan lupa tahan napas. hehe). Jadi, banyak belum ingetnya deh ilmu yg niatnya mau dibagiin gitu. Hiks (acting sedih)
Sepertinya sudah sebulan ga ngeluangin sedikit waktu buat bikin status panjang?
Well, sekarang saya nyetatus yang ringan-ringan aja dulu yak^^
Besok-besok? Lebih ringan. Hehehe
Sepertinya sudah sebulan ga ngeluangin sedikit waktu buat bikin status panjang?
Well, sekarang saya nyetatus yang ringan-ringan aja dulu yak^^
Besok-besok? Lebih ringan. Hehehe
***
Btw, hari H kita buat PKL (Praktek Kerja Lapang) ini besok. Tapi, inshaaAllah, dua hari disini sudah beberapa ilmu yang kami dapat. Hmm, bismillah.
Oiya, lama PKL yang ditentuin kampus 22 hari dan maksimal sebulan. Tapi rencananya temen-temen mau PKL sebulan (Oh, Tuhan... kenapa saya sekelompok sama orang-orang yang rajiiin?! Padahal saya kan lebih rajin, wkwk). Oops, dari tadi ni jari nyerocos mulu. Ko rada ga nyambung ama judul yah? Hehe, karena belum dimulai sebenarnya.
Oiya, lama PKL yang ditentuin kampus 22 hari dan maksimal sebulan. Tapi rencananya temen-temen mau PKL sebulan (Oh, Tuhan... kenapa saya sekelompok sama orang-orang yang rajiiin?! Padahal saya kan lebih rajin, wkwk). Oops, dari tadi ni jari nyerocos mulu. Ko rada ga nyambung ama judul yah? Hehe, karena belum dimulai sebenarnya.
***
Dua hal. Iya, dua hal yang jadi kebiasaan aneh saya adalah ga bisa tidur kalo ga dirumah sendiri. Pun jika itu dirumah sodara yang deket dari rumah sekalipun.
***
Kebiasaan itu melekat hingga saya MA. Dan agaknya berakhir pas kelas sebelas-an keknya. Soalnya waktu itu eskul ada proyek gitu (lebay bahasanya) dan saya ikut di dalamnya. Akhirnya kami berdelapan orang nempatin (menempati, hehe) sebuah rumah milik guru kami yang sebelumnya ga ditempatin (tidak ditempati) selama 3 tahun. Alasannya karena rumah itu dekat dengan sekolah. Supaya proyek bisa lancar.
Dari situlah kebiasaan saya di tantang untuk berubah!
Dari situlah kebiasaan saya di tantang untuk berubah!
****
Beberapa hari di awal menginap saya sangat suliiit tidur. Padahal sudah sangat larut malam karena usai ngalor ngidul (italic) sama temen-temen yang ampun kocak banget---ampe sekarang ga nemuin temen-temen yang kocaknya kelewat high kek mereka.
Kembali ke tidur. Iya, saya ga bisa tidur dengan jam normal untuk beberapa hari.
Tapi Alhamdulillah, lama kelamaan jadi semakin bisa dan normal hingga sekarang saya bisa menikmati kasur tambun dengan bantal, guling dan selimut yang saya kemas dengan tas dan ditenteng dari rumah. Saya pulas di balut pertanyaan tentang P4S Persada Nusantara.
Kembali ke tidur. Iya, saya ga bisa tidur dengan jam normal untuk beberapa hari.
Tapi Alhamdulillah, lama kelamaan jadi semakin bisa dan normal hingga sekarang saya bisa menikmati kasur tambun dengan bantal, guling dan selimut yang saya kemas dengan tas dan ditenteng dari rumah. Saya pulas di balut pertanyaan tentang P4S Persada Nusantara.
*****
Kebiasaan aneh kedua adalah mmm... Bukan aneh sih. Apa ya? Pokoknya saya itu ga biasa (loh, kebisaan kok ga biasa?). Ga biasa dan ga bisa yang akhirnya kebiasaan. Saya paling ga bisa naik kendaraan umum seperti angkot Carry, bis mini, bus pariwisata dan kapal laut. Jika dipaksakan bisa mabuk. Kan emanan nyawamu ojo mbok terus-terus, eh. I mean, mabuk perjalanan. Paling ga bisaaa kalo jarak tempuhnya lebih dari 20 menit. Hingga akhirnya pas sekolah di MAN yang jarak tempuhnya bisa tiga kali lipat dengan sebuah angkot Carry, saya benar-benar mual. Meskipun ga sampe, maaf, muntah. Tapi pas masuk kelas bawaannya pusing dan mual. Bikin ga konsen. Saya menjadikan hal itu alibi ketika saya tidak bisa masuk di sepuluh besar peringkat kelas--yang katanya unggulan itu. Saya tidak ingat kapan pada akhirnya saya mulai terbiasa.
****
Pening dan mual mulai berkurang. Seingat saya pas kelas sebelas saya telah bersahabat dengan angkot Carry menuju rumah saya, Buddan Tanah Merah.
Yeay!
Pening dan mual mulai berkurang. Seingat saya pas kelas sebelas saya telah bersahabat dengan angkot Carry menuju rumah saya, Buddan Tanah Merah.
Yeay!
****
Saya bisa dibilang trauma naik kapal laut. Trauma membuat kepala saya pening saat saya nembayangkan kursi kapal yang serupa licin mengilat, berwarna merah atau biru, tangga kapal yang disana kita bisa melihat air laut yang makin keruh dengan jelas. Membayangkan mencium bau bahan bakarnya yang busuk. Dan sebagainya.
****
Sejak kecil saya sering ikut Ibu ke Sidoarjo pergi ke rumah Bibi Ibu. Saat itu tentu belum tergelar jembatan Suramadu. Akhirnya kami naik kapal laut. Kata Ibu, saya selalu ikut bepergian dengan beliau mulai sejak bayi. Waktu bayi sering menangis di kendaran umum dan ketika beranjak dewasa mabuk sering mabuk perjalanan. Tapi hal itu tidak membuat Ibu meninggalkan saya di rumah. Selain karena saya bungsu waktu itu, juga karena Ibu saya sangat sabar.
Lalu, semenjak saya duduk di bangku SD kelas 3, saya jarang dan bahkan tidak pernah naik kapal laut untuk kesana lagi dengan Ibu. Bukan karena telah ada jembatan Suramadu. Namun Bibi Ibu saya telah di panggil Sang Kuasa.
Saya kembali naik kapal laut waktu semester 3 karena keperluan kampus. Untuk pertamakalinya lagi saya melihat dan naik kapal laut lagi. Ternyata tidak seburuk apa yang saya pikirkan. Hanya setengah dari sedikit rasa pening di kepala ketika kami berhasil menyebrangi laut. Saya melihat seorang Ibu membawa anaknya. Saya haru. Rindu Ibu. Padahal baru beberapa jam yang lalu menandaskan nasi goreng buatannya.
Lalu, semenjak saya duduk di bangku SD kelas 3, saya jarang dan bahkan tidak pernah naik kapal laut untuk kesana lagi dengan Ibu. Bukan karena telah ada jembatan Suramadu. Namun Bibi Ibu saya telah di panggil Sang Kuasa.
Saya kembali naik kapal laut waktu semester 3 karena keperluan kampus. Untuk pertamakalinya lagi saya melihat dan naik kapal laut lagi. Ternyata tidak seburuk apa yang saya pikirkan. Hanya setengah dari sedikit rasa pening di kepala ketika kami berhasil menyebrangi laut. Saya melihat seorang Ibu membawa anaknya. Saya haru. Rindu Ibu. Padahal baru beberapa jam yang lalu menandaskan nasi goreng buatannya.
*****
Naik mini bis adalah hal yang paling saya hindari sejak MTs. Semua itu karena sopir mini bus selalu identik dengan ngebut, ugal-ugalan. Bus mini bagi sudah sangat bau bahkan sebelum dinyalakan. Bau solar benar-bikin mual ditambah oleng sana oleng sini. Tak bisa dibayangkan jadi apa saya.
Namun semenjak kuliah di UTM, dengan sangat terpaksa saya membuka hati berkenalan dengan bus mini. Awalnya nahan mual setiap hari. Persis saat pertama berangkat ke MAN dengan Carry. Saya hampir muntah. Tapi aduhai, lihatlah sekarang. Saya bahkan telah bersahabat dengan mini bus. Lain waktu akan saya buat catatan tentang sahabat saya itu. Dan terakhir, bus pariwisata yang biasanya di sewa saat MTs, MAN dan kampus saya yang sekarang. Entah untuk studi banding, study tour, tour, studi lapang dan lain sebagainya.
Maka, jika yang lain akan bersorak saat ada kegiatan-kegiatan semacam itu, saya hanya bisa bergidik di pojokan betapa malunya muntah di hadapan teman-teman nanti. Bau AC plus bahan bakar, tubuh yang seperti tergucang, membuat mabuk tak dapat terelakkan. Namun heii, lihatlah. Kemarin saya menaiki bus sejenis dengan biasa-biasa saja. Malah pulas. Hehe, saya bisa mengatasi itu sejak kelas XII. Saat itu hendak tour, saya meminta masukan pada guru Tata Busana yang juga guru Bahasa Indonesia saya. Beliau menjelaskan jika saat satu penyebab mabuk adalah pikiran. Pola pikir kita yang berpendapat bahwa kita akan mengalami mabuk perjalanan. Persis pola pikir saya dulu.
Selain itu, menurut beliau karena gonjangan kendaran membuat asam lambung naik dan bau menyengat membuat orang semacam saya akan muntah. Beliau juga membeberkan solusinya. Saya pun mengingat, mencari banyak artikel terkait, untuk kemudian mengimplementasikan. Dan sejak itulah, saya mulai bisa bersorak ketika ada kegiatan yang bersinggungan dengan bus pariwisata. Yeay! Kecuali saat ternyata saya belum bayar iurannya. Hehe (^.^')
Namun semenjak kuliah di UTM, dengan sangat terpaksa saya membuka hati berkenalan dengan bus mini. Awalnya nahan mual setiap hari. Persis saat pertama berangkat ke MAN dengan Carry. Saya hampir muntah. Tapi aduhai, lihatlah sekarang. Saya bahkan telah bersahabat dengan mini bus. Lain waktu akan saya buat catatan tentang sahabat saya itu. Dan terakhir, bus pariwisata yang biasanya di sewa saat MTs, MAN dan kampus saya yang sekarang. Entah untuk studi banding, study tour, tour, studi lapang dan lain sebagainya.
Maka, jika yang lain akan bersorak saat ada kegiatan-kegiatan semacam itu, saya hanya bisa bergidik di pojokan betapa malunya muntah di hadapan teman-teman nanti. Bau AC plus bahan bakar, tubuh yang seperti tergucang, membuat mabuk tak dapat terelakkan. Namun heii, lihatlah. Kemarin saya menaiki bus sejenis dengan biasa-biasa saja. Malah pulas. Hehe, saya bisa mengatasi itu sejak kelas XII. Saat itu hendak tour, saya meminta masukan pada guru Tata Busana yang juga guru Bahasa Indonesia saya. Beliau menjelaskan jika saat satu penyebab mabuk adalah pikiran. Pola pikir kita yang berpendapat bahwa kita akan mengalami mabuk perjalanan. Persis pola pikir saya dulu.
Selain itu, menurut beliau karena gonjangan kendaran membuat asam lambung naik dan bau menyengat membuat orang semacam saya akan muntah. Beliau juga membeberkan solusinya. Saya pun mengingat, mencari banyak artikel terkait, untuk kemudian mengimplementasikan. Dan sejak itulah, saya mulai bisa bersorak ketika ada kegiatan yang bersinggungan dengan bus pariwisata. Yeay! Kecuali saat ternyata saya belum bayar iurannya. Hehe (^.^')
****
Kebiasaan aneh selanjutnya yaitu, lah bukannya cuma dua? Hehe, belum. Ini Dua hal di bidang masak memasak. Kata orang cewe itu kudu bisa masak. Kalo menurut saya cewe cowo harus bisa masak. Biar bisa gantian. Bikin jadwal piket sekalian. Terus ada tatibnya. Wkwk, just a joke yah, meskipun ketawanya maksa.
Eh iya, dulu jadi Cheff adalah salah satu impian saya (ga nanya, ga penting juga.
^_^ ). Yaudah kembali ke dua hal dalam masak memasak. Saya ga terlalu suka atau menghindari dua steps dalam memasak yang bernamakan memarut kelapa dan menghaluskan alias ngulek jagung muda. Saya biasanya lebih suka mem-blender (nge-blend) biar lebih cepet. Tapi karena kata Ibu hasilnya beda, pun rasa. Jadi apa boleh buat, saya harus sabar mengiris jagung untuk kemudian diulek. Hingga tersaji dadar jagung goreng di piring. Atau mengupas kelapa yg keras kayak (kek) kelapanya si Bungsu, lalu memarut dengan tabah diawali dengan rapalan doa-doa (hehe, maksa lagi). Santan yang dihasilkan dipadukan dengan bumbu untuk merperkaya rasa ikan asap. Paling pas keduanya di makan hangat-hangat. Satu menu sarapan satunya lagi menu makan siang. Lalu, siapa yang berani-beraninya menolak titah seorang Ibu?
Eh iya, dulu jadi Cheff adalah salah satu impian saya (ga nanya, ga penting juga.
****
Masakan pertama kami untuk sarapan hari ini telah siap. Ada kuah bayam bening, dadar jagung dan tempe goreng. Niatnya mau buat sambel, eh kehabisan, laku. Niatnya lagi kuah bayamnya pake santen. Tapi Irvi ga suka santan. Omong-omong saya baru tahu ada kuah bayam dengan campuran santan.
Walaaa this is it!
Walaaa this is it!
****
Inilah sedikit catatan saya hari ini. Intinya, di setiap hal. Apapun itu kita bisa lebih baik. Asal mau ikhtiar (berdoa dan berusaha. Pun semoga di tempat PKL ini saya, Himma, Irvi dan Huda bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan mampu melakukan perubahan terhadap lingkungan dan masyarakat yang lebih baik nantinya. Aamiin yaa Rabbal 'alamiin.
Lain waktu saya juga akan membuat catatan tentang malu untuk hal yang tidak perlu. Hmm, banyak sekali janjinya. Sudah seperti pejabat saja, ups.
.
.
.
.
.
Lain waktu saya juga akan membuat catatan tentang malu untuk hal yang tidak perlu. Hmm, banyak sekali janjinya. Sudah seperti pejabat saja, ups.
.
.
.
.
.
@12:21 WIB
Lumajang, 08 Januari 2017
Lumajang, 08 Januari 2017
0 komentar