Kita harus tiba di lahan pukul 06:30 WIB. Hari ini agenda dalam rencana kegiatan kita adalah mempelajari sejarah dan gambaran P4S. Namun karena kami mengambil start lebih awal, agenda tersebut telah kami tunaikan sebelum hari H ini. Oleh karenanya, inilah kita sekarang, telah sampai di sebuah lahan yang siap untuk dikelola.
***
Hamparan lahan seluas 350 meter persegi ini akan kami tanami sayur bayam dan sawi. Kami ditemani 5 orang peserta magang dari SMK PPN Bondowoso. Kami sangat beruntung waktu PKL kami bersamaan dengan adik-adik yang gigih ini. Atribut mereka lengkap. Ada topi cowboy, sepatu boot, cangkul, celurit dan setelan training yang seragam. Kesemuanya bernuansa hijau. (Awas ketuker ama ular ijo ya dek, sama imutnya sih. Wkwk).
***
Persiapan lahan dilakukan dengan membalik tanah dan menggemburkan tanah dengan menggunakan cangkul. Keenam adam itu mencangkul dengan cukup gesit. Sementara kira para hawa, hanya bisa ngos-ngosan dan puas dengan hasil yang tak seberapa. Karena itulah, sesekali kami membersihkan/menyiangi rumput yang ada di selokan antar bedengan. Btw, persiapan lahan dengan membalik dan menggemburkan tanah ini untuk mendapatkan tanah yang subur. Karena nantinya, unsur hara yang ada di bawah tanah akan terbawa ke permukaan tanah atau bercampur.
***
Dengan 9 tenaga kerja yang tengah berlatih ini, kecuali Huda yang sudah terbiasa, kami menghasilkan 1/3 bedengan dari lahan seluas 350 m2 tersebut. Huaah! Look! Tiga buah bedegan telah menggunduk di lahan yang tadinya rata.
Dengan 9 tenaga kerja yang tengah berlatih ini, kecuali Huda yang sudah terbiasa, kami menghasilkan 1/3 bedengan dari lahan seluas 350 m2 tersebut. Huaah! Look! Tiga buah bedegan telah menggunduk di lahan yang tadinya rata.
***
Omong-omong diantara kami berempat yang tidak pernah ke lahan sawah sama sekali adalah Irvi. Aku sendiri lumayan sering ke sawah, meskipun kadang hanya bermain-main. Hehehe.
"Kamu itu jurusan pertanian, Nak. Jadi ya harus paham bertani. Meskipun ga meraktekin yang penting tahu dulu," ujar Bapak yang tengah asyik menyiangi padi. "Hehehe, Iya Pak, saya tahu. Di semester satu sudah dikasih dasarnya kok. Lagipula Agribisnis kan lebih ke bisnisnya. Bukan anak Agroekoteknologi," saya berdalih.
Omong-omong diantara kami berempat yang tidak pernah ke lahan sawah sama sekali adalah Irvi. Aku sendiri lumayan sering ke sawah, meskipun kadang hanya bermain-main. Hehehe.
"Kamu itu jurusan pertanian, Nak. Jadi ya harus paham bertani. Meskipun ga meraktekin yang penting tahu dulu," ujar Bapak yang tengah asyik menyiangi padi. "Hehehe, Iya Pak, saya tahu. Di semester satu sudah dikasih dasarnya kok. Lagipula Agribisnis kan lebih ke bisnisnya. Bukan anak Agroekoteknologi," saya berdalih.
***
Waktu masih kecil kira-kira kelas tiga SD saya malah malu ke sawah. Malu sama teman-teman. Padahal orangtua mereka juga petani. Jangan-jangan mereka juga malu pada saya. Konyol sekali kala itu.
Waktu masih kecil kira-kira kelas tiga SD saya malah malu ke sawah. Malu sama teman-teman. Padahal orangtua mereka juga petani. Jangan-jangan mereka juga malu pada saya. Konyol sekali kala itu.
***
Sampai pada sebuah perbincangan dengan teman MAN saat kelas XI. Badi', begitu saya memanggilnya. Ia bercerita kepadaku tentang keluarganya. Tentang ia yang sering membantu di sawah. Tentang ia yang mampu menyiangi padi, menanam bibit, memanen padi dan lain-lain. Tentang baktinya saya hanya mampu terpelongo di sampingnya. Terbayang lelahnya wajah Bapak dan Ibu selepas pulang dari sawah. Terbayang keikhlasan mereka yang tak terperi. Terbayang perilaku mereka yang tidak pernah menyuruh-nyuruh. Alih-alih meminta bantuan di sawah, Ibu malah meminta mengantar makanan ke sawah dengan memohon. Padahal tanpa memohon pun akan saya sanggupkan. Meskipun malas sering mengiba.
***
Air mata saya luruh. Keren sekali anak ini, saya bergumam. Saya akan mencoba sepertinya. Membantu Ibu dan Bapak. Saya bertekad.
***
Saat liburan kelas XII bersamaan dengan masa panen padi. Ini kesempatan berlian saya untuk terjun lapang. Lagi pula sudah bertahun-tahun Bapak dan Ibu bertani hanya dibantu buruh tani yang berasal dari tetangga. Maklum, ketiga kakak lelaki saya telah berada di luar kota untuk kuliah, ada yang telah berumah tangga dan bekerja. Dan si bungsu? Jangankan ke sawah, ngambilin pakan sapi deket rumah saja belum pernah. Tidak seperti Dahlan Iskan kecil.
Saat liburan kelas XII bersamaan dengan masa panen padi. Ini kesempatan berlian saya untuk terjun lapang. Lagi pula sudah bertahun-tahun Bapak dan Ibu bertani hanya dibantu buruh tani yang berasal dari tetangga. Maklum, ketiga kakak lelaki saya telah berada di luar kota untuk kuliah, ada yang telah berumah tangga dan bekerja. Dan si bungsu? Jangankan ke sawah, ngambilin pakan sapi deket rumah saja belum pernah. Tidak seperti Dahlan Iskan kecil.
***
Bapak dan Ibu mengerjap-ngerjap matanya. Masih belum percaya. Mereka juga belum mengetahui siapa motivator di balik semua ini.
***
Awalnya benar-benar sulit. Ternyata kelamaan makin lincah saja saya memanen padi. Hahaha lebay. Saya tidak hanya belajar memanen padi, tapi juga menyiangi, menjemur, mencabut bibit padi dan lain-lain. Saya juga pernah mencangkul bersama Ibu di kebun dekat rumah untuk lahan jagung. Ibu lebih lihai dari saya. Entah darimana beliau mendapatkan keahlian itu, mengingat beliau adalah seorang IRT. Dari semua kegiatan itu saya menyimpulkan: lelahnya jadi petani. Aku tidak mau jadi petani. Capek. Hasil tak seberapa. Akan aku ubah nasib kedua orangtuaku!
****
Lulus dari MAN inginnya kuliah yang bisa jadi wartawan atau guru bahasa inggris dan bisa keliling dunia. Tapi pada akhirnya diarahkan ke jurusan Agribisnis, fakultas Pertanian. Tweweng! Pupus sudah harapan saya. Akan tetapi ternyata saya salah. Pertanian adalah sesuatu yang tidak bisa diremehkan. Tanpa petani kita akan mati. Tak ada sumber makanan. Di berita-berita banyak kita jumpai isu ekonomi yang hampir kesemuanya terkait dengan pertanian.
Agribisnis juga membentangkan wawasan saya mengenai pertanian. Mengenai profesi Bapak, petani.
Agribisnis juga membentangkan wawasan saya mengenai pertanian. Mengenai profesi Bapak, petani.
***
Bapak sendiri mempunyai petak lahan dengan luasan tal seberapa dari kerja kerasnya menjadi tukang servis elektronik (TV, Radio, dispenser, setrika dll *numpang promo
^_^ ). Setelah menikah dengan Ibu beliau hanya punya lahan untuk dibangun rumah. Hanya itu.
***
Teruntuk Bapak dan Ibu yang tanpa lelah memeras keringat kepayahan. Teruntuk salah satu sahabat terbaik saya Badi'ah yang telah menginspirasi. Teruntuk Allah yang selalu memahami saya lebih dari siapapun. Terimakasih. Mator sakalangkong. Matur sembah suwun.Thanks. Saya disini karena mereka. Meski banyak mengeluh tapi saya sangat bersyukur. Urusan kesuksesan biarlah Allah yang mangatur. Disini saya hanya ingin bersyukur, belajar dan belajar. Berdoa dan belajar lebih tekun agar bisa berfaedah. Walaupun kadangkala hanya menjadi oretan diatas kertas. Lantas diatasnya bernama : Schedule!
Wallaahua'lam.
Wallaahua'lam.
***
Malam ini, ba'da Isyak kami diminta memberikan pemahaman tentang analisis usahatani kepada adik-adik SMK PPN. Bapak Machmud, ketua P4S mempersilahkankan kami. Kami bernapas lega. Materi itu baru di pelajari di semester 5 ini. InshaaAllah masih fresh. Ah, syukurlah.
Diskusi dengan metode presentasi itu berakhir pada jam 22:00 an.
.
.
Lumajang, 09 Januari @ 23:01 WIB
Malam ini, ba'da Isyak kami diminta memberikan pemahaman tentang analisis usahatani kepada adik-adik SMK PPN. Bapak Machmud, ketua P4S mempersilahkankan kami. Kami bernapas lega. Materi itu baru di pelajari di semester 5 ini. InshaaAllah masih fresh. Ah, syukurlah.
Diskusi dengan metode presentasi itu berakhir pada jam 22:00 an.
.
.
Lumajang, 09 Januari @ 23:01 WIB
0 komentar